tubuhku mengamuk tanpa daya dengan kepanikan yang ditemani luapan sungai di pelupuk mataku
menendang menghantam membuang sia-sia tubuh yang menindihku
''tidak mungkin, tidak mungkin''
nestapa mengepung hati menolak kenyataan tak bisa mencegah, tak bisa mencegah dia menindih tubuhku
''tidak apa, tidak apa''
ucapmu lagi dan lagi tanpa jemu tanpa bosan dengan sejuta pemahaman pemakluman oleh ketabahan yang telah dimiliki semenjak kemunculan di dunia
''untukmu, aku untukmu''
sahutku dalam tangis tanpa pencegahan, dalam patah, dalam sunyi, dalam tuli pada pemahamanmu
''matikan aku, matikan aku''
pedih menelusupi jiwa oleh keyakinan tak pantas, semakin tak pantas untukmu
lalu, kebodohanku memadamkan cahaya adamu
lalu, aku gelap, menyatu dalam keabadian gelap
|