|
|
|
... when i'm talking with myself...
|
2007/07/27 11:21
|
|
|
... tujuh
aku mengetuk pada batas antara kesadaran akan kenyataan, dan kenyataan akan rasa yang terpaksa harus dimatikan, untuk (sayangnya) tumbuh lagi dan bertunas.
mungkin masih ada sejumput sisa mimpi yang telah bereaksi dengan molekul2 udara pagi, meski tetap utuh untuk menembus batasan jiwa yang menahan langkah untuk tetap berayun. pada dunia ajaib, mungkin.
aku tertegun (selalu) pada satu cahaya yang mendesak darahku terpompa lebih cepat, menghentak..., tapi tetap pada manisnya kontrol emosi yang terpaksakan
adalah aku yang marah akan diriku, memaki setiap helaan nafas gelisahku yang tak sengaja aku ciptakan.
sebut saja aku punya satu pilihan lain. sebut saja aku punya dua nyawa dan dua tubuh yang terpisah. tapi mataku, telingaku, naluriku... selalu tau jawabannya, tidak!
mungkin aku telah meleburkan nyawaku yang terpanggang pada leherku dalam satu kubangan bara yang menelanjangiku bulat. aku belum hangus mungkin, tapi aku cukup letih untuk terus bergulat melawan naluri dengan perasaanku, atau naluri dengan otakku (?)
... pada cahaya
aku ingin terjaga selamanya dan mengutuk tak ada satupun waktu dimana aku menghilang, sementara dia mengerut dan menyusut dari retinaku.
hampir seperdua hariku aku menjaga nyawamu dalam jangkauanku. aku tau, itu hanya akan jadi pendaran mimpi yang terpaksa terabaikan pada saat aku terjaga.
dan perlahan saja, aku merasakan dunia ini menghilang, dan yang tersisa dalam kekerasan tulang tengkorakku, hanyalah dunia kecil milikku yang hanya berisi pembenaran atas kesalahanku (semoga saja ribuan topan badai bukan untukku, sungguh...)
aku tak ingin dihilangkan oleh kerumunan dosa2 yang berharap (selalu setiap detik) untuk kutebus dengan penggalan keyakinanku. aku tak ingin hanya tersadar pada imaji yang tak terdeteksi akal sehatku. aku tak ingin meranggas, kering, tak ada jawaban...
... seperdua gelapku
selalu aku terpaku untuk menunggu pada satu ruang yang bahkan tak menyisakan satu inchipun untuk aku berdiri. aku tetap mengendap pada sejurus khayal yang bertahun-tahun terbungkus rapi.
dan demi tanah yang padanya aku bebankan kelelahanku, aku jujur, kerinduan itu selalu meluluhlantakan pertahananku pada polusi di luar akal sehatku.
kemudian bisikku... ternyata aku hanya seorang kerdil yang tersesat pada bilangan waktu yang semakin merambat dan menua
... lima
sejenak aku dilupakan pada kekhawatiran dan ketakutan pada hantu yang terus menggerayangi setiap sel2 dalam tubuhku, meski aku tau, setiap saat selalu aku dikutuk dan dirajam oleh rahasia yang tak akan pernah kubiarkan menemukan celah untuk bebas.
NAIF. mestinya tak harus ada yang terseret pada emosi, keinginan bawah sadarku, kekhusyuanku untuk sedikit menampat sendi2 imanku.
sesak, sungguh, membunuh diriku perlahan dalam gelombang lima dari tujuh waktu yang aku habiskan. (dan semua hanya akan jadi satu rahasia yang aku benamkan jauh dalam keindahan. tak tersentuh)
(pengen banget km ngerti... kita 'selalu' akan jadi sesuatu persis seperti apa pilihan kita atas hidup. pengen banget km faham... g ada satu hal pun yang lebih mengerikan selain kehilangan cinta. cinta atas Tuhan, atas mahluknya... apapun...) |
|
|
| Trackback Address :: http://www.blogboleh.com/vdeez/trackback/7 |
|
|
|
|
|
<<
2012/02
>>
| S |
M |
T |
W |
T |
F |
S |
|
|
|
1 |
2 |
3 |
4 |
| 5 |
6 |
7 |
8 |
9 |
10 |
11 |
| 12 |
13 |
14 |
15 |
16 |
17 |
18 |
| 19 |
20 |
21 |
22 |
23 |
24 |
25 |
| 26 |
27 |
28 |
29 |
|
|
|
|
|
|
|