Ketika pagi itu datang, saat sang Surya kembali tampak berseri di ufuk timur. Ayam pun mulai berkokok membangunkan aku dari tidur pulasku semalam. Seketika itu pula aku terhentak kaget melihat dia sudah bangun duluan, tidak seperti biasanya dia serajin ini, tumben entah kenapa aku pun ga tahu. Kupandangi, dia hanya berdiri tegak dengan body kekarnya, urat-uratnya muncul ke permukaan kulit, keringatnya menetes membasahi sekujur tubuhnya. Aku takut dia ngamuk-ngamuk, segera kuelus-elus dari rambut hingga badannya kuberharap amarahnya bisa diredam. Dan akhirnya apa yang ku takutkan terjadi juga, ini semua awal dari sebuah petaka bagiku. Aku tidak tahan lagi. Tiba-tiba saja jrooootttt…., muncrat, segera kuhela nafas panjang sambil nahan si “OTONG” yang semakin lama semakin mengamuk, dalamanku lengket basah oleh muntahannya, bau bunga akasia. OH… lemes. Seketika itu pula aku jatuh tersungkur lemah lunglai tiada berdaya.