Lampu Merah :: 2008/06/26 13:13
Pagi ini, di perempatan jalan pertama ada motor nyelonong nerobos lampu merah dengan santaiii ... banget. Padahal jalanan/arus balik cukup ramai. Di perempatan berikutnya, terjadi lagi, motor-motor yang dengan pedenya menerabas lampu merah sehingga mulai membuatku berpikir ... apakah yang ada di benakmu Saudaraku, sampai-sampai kau abaikan rambu penting itu? (ketimbang melanggar rambu dilarang parkir pan lebih bahaya nerabas lampu merah?). Eh, di perempatan terakhir, sebuah metromini (ukurannya lebih gajah kan ketimbang motor), dengan gagahnya mengambil jalur balik arah, dan ... menerobos lampu merah! Langsung deh aku jadi kepengen komentar dan mengeluh di blog ini ...
Aku jadi ingat waktu ambil mata kuliah Business Ethics & Law, iseng-iseng aku (yang tidak punya latar belakang hukum) cari bacaan sederhana untuk memahami hukum. Dan ada ilustrasi di buku anak SD, yang berbunyi: pada saat seorang manusia berhubungan dengan manusia lainnya, maka mulailah kebutuhan akan 'hukum'. Dicontohkan persahabatan anak-anak dengan kesepakatan-kesepakatan sederhana, sampai dengan makna lampu lalu lintas sebagai bukti 'kesepakatan' mengenai interaksi manusia. Jadi setiap aku melihat orang menerobos lampu merah, aku jadi teringat ilustrasi buku SD tersebut. Sedih sekali, menyadari banyak sekali warga masyarakat kita tidak bersepakat atau keluar dari kesepakatan tersebut, padahal akibatnya besar sekali untuk kehidupan orang lain ...
Duh, bangsaku.
