Yup, kita coba ngasih penjelasan. Begini sobat, jilbab bermakna milh⦡h (baju kurung atau semacam kabaya yang longgar dan tidak tipis), kain (kis⧩ apa saja yang dapat menutupi, atau pakaian (tsawb) yang dapat menutupi seluruh bagian tubuh. Di dalam kamus al-Muh dinyatakan demikian: Jilbab itu laksana sird⢠(terowongan) atau sinmⲠ(lorong), yakni baju atau pakaian yang longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutupi pakaian keseharian-nya seperti halnya baju kurung.
Nah, kalo mau pengen tahu penjelasan tambahannya, ada juga keterangan dalam kamus ash-Shahh⨬ al-JawhⲮ menyatakan: Jilbab adalah kain panjang dan longgar (milh⦡h) yang sering disebut mul⧡h (baju kurung).
Nah, kapan mengenakan jilbab? Yang pasti kalo seorang muslimah pergi keluar rumah. Atau kalo pun di dalam rumah, saat ada tamu asing (bukan mahrom). Sebab memang tujuannya juga adalah untuk menutup auratnya. Oya, untuk bisa disebut mengenakan busana muslimah, maka seorang muslimah harus mengenakan jilbab lengkap dengan kerudungnya. Begitu deh, secara singkatnya.
Persoalan inilah yang kayaknya nggak nyambung bagi pihak sekolah. Utamanya untuk kasus yang terjadi sekarang. Kalo dulu pihak sekolah mengikuti peraturan Depertemen PDK dalam aturan pakaian seragam sekolah yang emang melarang sama sekali bagi siswi muslimah untuk mengenakan kerudung, apalagi jilbab. Aturan itu dirasa begitu "kejam". Tapi yang terjadi sekarang, pihak sekolah konon kabarnya masih membolehkan siswi yang berkerudung, tapi syaratnya masih mengenakan pakaian atas-bawah (baca: kemeja dan rok).
Tentu saja, bagi para siswi yang udah mendapat pemahaman bahwa jilbab adalah seperti dalam definisi di atas, maka wajar bila kemudian ia menjahit pakaian atas (baju) dengan pakaian bawah (rok). Sehingga menjadi nyambung (baju terusan). Nah, rupanya pihak sekolah rada ngadat dengan kejadian ini. Dan dianggap telah menyalahi aturan pakaian seragam sekolah yang telah ditetapkan Depdiknas. Walah?
Sobat muda muslim, mungkin disinilah letak masalahnya. Yakni kesalahan dalam memahami definisi jilbab. Sebab, pihak sekolah nggak melarang bagi mereka yang mengenakan kerudung dan pakaiannya (baju dan rok) yang nggak dijahit. Bagaimana sikap kita?
Oke deh. Kalo itu persoalannya, ini jelas harus dibicarakan dengan pihak sekolah. Kamu bisa mengadakan dialog secara terbuka dengan para guru dan kepala sekolah untuk menjelaskan definisi jilbab, dan konsekuensi bagi seorang muslimah ketika mereka mengetahui tentang kewajiban untuk mengenakannya. Bila itu tidak berhasil, rasanya kamu butuh mediator. Bisa dari orang tua murid. Bisa juga dari guru yang udah mendukung langkah kamu. Atau bisa mencari dukungan dari seluruh kaum muslimin yang ada di wilayah kamu.
Tapi yang jelas, kamu jangan menyerah dengan kenyataan ini. Dan jangan pernah ada istilah putus asa. Sebaliknya, kamu nyari dukungan dari berbagai kalangan. Dan yakinlah, bahwa sikap keukeuh kamu dalam berjilbab adalah bagian dari upaya untuk mempertahan-kan keyakinan agama.
Sobat muda muslim, kita mengakui kok, bahwa tak selalu mudah menghadapi setiap masalah. Itu sebabnya, kita kudu menggalang kekuatan bersama. Misalnya aja, bila kemudian jalan dialog mengalami deadlock alias jalan buntu, maka bagaimana sikap kita?
Tetep yakin. Jangan menyerah. Anggap saja itu sebagai rintangan dalam perjalanan dakwah kita. Dan rintangan bukan untuk dihindari, tapi disingkirkan. Bila di jalan ada duri, kamu jangan nyari jalan lain, tapi singkirkan duri itu, supaya kamu tetep bisa jalan di jalan yang sama.
Sobat muda muslim, kamu juga kudu yakin, bahwa nggak bakalan pihak sekolah itu mengambil tindakan yang begitu berbahaya, misalnya mengeluarkan kamu dari sekolah. Insya Allah itu tidak akan terjadi. Lagi pula apa salahnya? Karena melanggar aturan sekolah? Wuah, rasanya kita kudu menyampaikan bahwa Islam sebagai patokan dalam kehidupan seorang muslim. Setiap muslim, siapa pun ia, wajib terikat dengan hukum syara. Dan hanya patuh pada hukum Islam, bukan hukum yang lain. Jadi emang Islam nggak bisa dipisahkan dalam kehidupan ini. Nggak bisa juga dikavling-kavling dalam melaksanakan kewajiban. Misalnya, untuk mengenakan jilbab hanya boleh di sekolah agama atau pesantren. Walah, ini mah bisa diketawain ama semut tuh : :
Nggak bisa. dan emang nggak boleh dipisahkan seperti itu. Di manapun dan kapanmu, seorang muslim, siapapun ia, wajib terikat dengan aturan Islam. Bukan aturan yang lain.
Uppss.. tapi kayaknya nggak ada yang berani deh pihak sekolah melakukan konfrontasi dengan siswanya sendiri. Lagian daripada capek-capek "ngatur" yang udah baik-baik, mendingan ngurusin temen-temen remaja puteri Islam yang masih bermasalah. Pamer aurat, terlibat seks bebas, terlilit masalah narkoba. Itu lebih bermanfaat dan emang bagian dari tanggung jawab dalam mendidik. Lagian dosa kan membiarkan anak-anak puteri pamer aurat. Rasulullah saw. bersabda : "Wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka melenggak-lenggokkan tubuhnya dan kepalanya bagai punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan keharumannya, meskipun harum surga itu dapat dicium dari jarak sekian dan sekian."(HR Muslim).
Tapi gimana kalo ternyata mereka ngotot memberikan sanksi? Sabar dan tetap terus berusaha. Insya Allah seluruh kaum muslimin akan mendukung langkah kamu. Jalin kerjasama dengan berbagai ormas Islam atau partai politik Islam yang ada di sekitar kamu. Masak sih mereka pada cuek aja. Lagian itu kan tugas mereka. Tul nggak? Tenang, sabar, dan tetap berusaha! Perjuangan butuh pengorbanan
Rasanya, dalam kamus orang yang berjuang, pasti ia sadar betul bahwa itu akan senantiasa bersanding dengan pengorbanan. Karena emang itulah konsekuensi dari sebuah perjuangan. Perjuangan tanpa pengorbanan, rasanya nggak seru. Nggak bermakna.
Kamu yang sukses mendapat posisi juara umum di sekolah, pasti udah merasakan gimana lelahnya sebuah perjuangan, sekaligus merasakan "nikmatnya" sebuah pengorbanan. Untuk jadi JU, kamu perlu waktu dan tenaga lebih dari teman yang lain, yang hanya cukup merasa puas mendapat nilai minimal untuk bisa naik kelas.
Untuk meraih perjuangan yang berat dalam dakwah ini, tentunya banyak pula pengorbanan yang kudu kita berikan. Firman Allah Swt.: Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (TQS al-Baqarah [2]: 214)
Kamu pun jangan takut dan bersedih hati, apalagi Allah akan memberikan surga bagi orang-orang beriman yang istiqomah dalam keyakinannya. Firman Allah Swt. : "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (TQS Fushshilat [41]: 30)
Sobat muda muslim, tetap melangkah dan jangan hentikan. Dakwah ini kudu tetap ada dan tumbuh subur dalam jiwa kita. Kita semua menyeru kepada pihak sekolah, dan juga pihak Dinas P dan P, bahwa janganlah hanya karena sebuah aturan dalam seragam sekolah, lalu akhirnya mencampakkan aturan agama yang sudah baku. Jangan mengharamkan yang sudah dihalalkan oleh Allah Swt. Firman Allah Swt: "Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu."(TQS. at-Taubah [9]: 9)
|