Tak ada yang mendengar,
Nafas hati berbicara,
Yang ada hanya,
Tatapan benuh benci,
Melesatkan sejuta kerikil tajam,
Melukai hati,
Penuh darah,
Ada,
Darah…
Tak hanya sepasang mata,
Ada sepuluh,
Seratus,
Seribu,
Hingga wajah hinaku tak mampu menghitungnya,
Apalagi hati yang dianggap mati,
Dianggap,
Mati…
Tak cuma dari selembar mulut,
Ada seribu sumpah,
Sejuta serapah,
Menabuh dendam di gendang telingaku,
Tinggalkan hati yang dicaci,
Hati,
Dicaci…
Hai…kalian yang tak mengerti cinta,
Yang tak tahu sakitnya kehilangan cinta,
Tanpa bisa memperjuangkannya…
Berhentilah menatap benci,
Berhentilah mengucap sumpah,
Lebih baik hunuskan belati kebencian itu,
dan bidikkan panah serapah itu,
Tepat di hati yang kalian anggap mati,
Biar raganya hilang,
Tak bersisa..
Tak ada,
Sisa…
*** |