Bahaya Laten Yahudi Menurut Al-Qur`an Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itu adalah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allahtidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. Al-Baqarah [2]: 120) Sebelum memahami lebih lanjut tentang ayat ini, setidaknya ada dua hal yang sangat penting kita pegang: Pertama, secara harfiah ayat itu ditujukan kepada Nabi Muhamad SAW, karena menggunakan kata “kamu” bukan “kalian”, tapi para mufassir menyatakan bahwa maksudnya adalah seluruh umat Islam. Hal ini merupakan paradigma dan sastra Al-Qur`an yang sudah biasa diketahui. Kedua, ayat ini menggunakan redaksi lan yang masuk ke fi`il mudhari`. Secara gramatik, hal ini mengesankan bahwa pernyataan disitu berlaku untuk masa-masa berikutnya (tidak hanya pada masa Nabi Muhamad SAW). Oleh karena itu, Ibnu Katsir menggunakan kata abadan (selama-lamanya) dalam menafsiri ayat ini. Ketiga, ayat ini menggunakan kata jamak yahud (jamak Yahudi) dan Nashara (jamak Nasrani). Hal itu menunjukkan ayat tersebut membicarakan Yahudi dan Nasrani secara kolektif, bukan personal-personal. Ruang lingkup. Rata-rata para mufassirin menyimpulkan ayat ini menjadi tiga hal pokok: Pertama, orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah berhenti merongrong dan membenci kita. Kedua, kita harus menyatakan dengan tegas bahwa Islam (Al-Qur`an) adalah satu-satunya ajaran yang benar. Dan ketiga, jangan pernah mengikuti kemauan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dari beberapa konteks penurunan ayat yang diuraikan oleh Mufassir, ayat diatas tidak bisa diarahkan untuk segenap aspek kehidupan kita vis a vis Yahudi dan Nasrani. Tapi, secara tekstual, para tafsir salaf seperti al-Suyuthi, al-Qurthubi dan Ibnu Katsir hanya menyebutkan dua aspek yaitu: perang politik militer dan perang ajaran/pemikiran. Al-Qurthubi menyebut bahwa ayat ini diturunkan dalam konteks politik militer. Dalam tafsirnya Al-Qurthubi menyatakan bahwa ayat ini diturunkan karena orang-orang Yahudi dan Nasrani meminta Musalamah (berdamai) dan hudnah (menghentikan peperangan), dan mereka berjanji masuk Islam. Jadi, dengan demikian ayat ini mengandung pengertian bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani sepanjang masa akan selalu membuat move-move politik militer untuk berupaya menipu, menggerogoti, mengenyahkan dan memusnahkan umat Islam dari dunia. Dengan ayat ini, Allah mengingatkan kepada Rasulullah dan umatnya bahwa orang-orang Yahudi-Nasrani itu sangat licik, jangan pernah terbuai oleh janji-janji kosong mereka. Allah memberikan tuntunan langsung kepada Rasulullah dan umatnya dengan mengungkapkan misi apa yang tersembunyi dibalik dada dan kata-kata mereka. Secar historic, hal ini betul-betul sudah terbukti sejak masa Rasulullah. Pada awal kedatangannya ke Madinah Rasulullah membuat perjanjian dengan orang-orang Yahudi untuk hidup bersama di Madinah, tidak saling mengganggu satu sama lain. Tapi, kenyataan seluruh klan Yahudi melanggar perjanjian itu satu demi satu. |