Kalau saja apa yang aku pikirkan dan aku rasakan dapat berubah menjadi frekuensi getar dan kau bisa mendengar. Tentu, kamu akan mendapati sebentuk kegaduhan yang tak surut, orkestrasi yang bisa kamu maknai sebagai sebentuk irama yang lain. Seperti desau angin menguncah-guncah pepohonan sebelum hujan, atau bunyi gemeritik air mematuk-matuk genting pada saat hujan. Seperti bunyi yang seolah ada saat sekelompok burung bebas beterbangan melintasi hamparan sawah. Atau mungkin seperti debur ombak. Semua bisa saja, andai apa yang aku pikirkan dan aku rasakan bisa kamu dengar.
Selanjutnya, kalau semua itu mungkin. Tentu akan ada impresi, bisa juga pemaknaan lain dari apa yang bisa kamu dengar itu. Ada kode-kode yang kamu temukan rumusnya, dan kemudian kamu menyimpulkan sesuatu. Sehingga sesuatu yang sebelumnya berada dalam tataran pemaknaan bisa kamu pahami. Lalu menjadi sebuah bentuk tertentu dalam ruang pikiranmu. Mungkin juga ada yang tetap tersisa sebagai kumpulan sandi-sandi yang tidak bisa langsung kamu pecahkan. Dan beberapa diantaranya akan menjadi teka-teki, yang mungkin mengasyikkan atau hanya selintas dan berakhir sebagai sesuatu yang membosankan.
Andai kamu bisa mendengar apa yang ada dalam pikiranku. Begitu mudahnya sebuah komunikasi terjalin. Bagiku, Aku tak perlu merasakan rasa betapa sulitnya menyampaikan sesuatu. Aku tak perlu mencoba-coba bertutur dengan cara-cara yang aku kira bisa membuat kamu memahami. Aku tak perlu bersesuai-sesuai diri, agar aku berubah menjadi sosok yang membuatmu merasa lebih nyaman. Aku tak perlu menjadi orang lain,……seorang yang aku kira bisa membuat kamu lebih mudah untuk mengerti. Hingga Aku tetaplah aku, dan kau tetaplah kamu.
Tapi bagaimanapun, dalam kenyataannya, kamu tidak bisa mendengar apa yang ada dalam pikiranku.
Sebaliknya. Aku tertatih-tatih. Tergopoh-gopoh coba memendekkan jarak. Serupa musafir yang berusaha menuju sebuah kota tak tertentu. Melewati setapak jalan yang remang. Hanya tahu bahwa lampu-lampu pijar masih menyala di tepian. Tanpa tahu waktu, entah subuh entah petang.
Mungkin aku menangkap sesuatu dari sinar dalam tatapan matamu. Dari caramu yang malas menanggapi disaat-saat kesibukan yang banal itu mengulitimu. Pun saat kau melintas, aku mendapati sesuatu yang mungkin adalah sesuatu. Kamu menjelma jadi aliran energi, yang merambat datar menabrak dadaku. Kamu beralih rupa jadi kupu-kupu yang coraknya utama diantara bunga-bunga. Kamu menjadi sebuah keteduhan sekaligus padang kering yang harus aku lintasi saat kau melintas. Belantara atau gurun sejuta arti itu terbentang terlalu luas bagiku. Laju langkah kakiku lambat tertatih untuk bisa melampauinya. Untuk menemukan kesejatian dirimu diseberang sana.
Sementara itu terlalu sulit aku untuk bisa memadu padankan kata-kata, dan mengumpulkan daya untuk menyampaikan apa yang seharusnya aku sampaikan. Memilah kata-kata sehingga kau bisa benar-benar tahu apa yang aku ketahui. Benakmu jadi cermin bagi benakku.Banyak hal yang menumpuk dalam nalarku, yang aku tak bisa menjelaskanya. Meski hanya sedikit saja yang ingin aku sampaikan. Soal kau, dalam pikiran dan hatiku.
Semoga pada akhirnya kau akan mengerti juga. Lewat garis-garis kosmis berpotongan dalam takdir atau kebetulan-kebetulan, dan akhirnya aku hidup dalam benakmu sebagai sebuah makna. Pengertian dalam tata bahasa yang tak pernah ada sebelumnya. Aku bisa ada didekatmu sebagai bagian darimu. Yang menyatu denganmu untuk perlanjutan sebuah perjalanan.
Respect n love
|