Ketika perih memaksa untuk merintih, karena hati tak kuasa menahan kecewa, sesak didada ini lahirkan benih-benih dendam yang semakin lama membeku, mengeras, kokoh diantara bayangmu yang tawakan penderitaan. Jika air matamu dapat hapuskan luka hatiku, jika darahmu dapat sucikan otakku, jika jerit kesakitanmu dapat membuatku tersenyum, kenapa tidak? Dengan tertatih menahan perih aku coba tuk mengejar biarpun dirimu berlari untuk menghindar, dengan langkah gontai aku coba tuk mencari biarpun dirimu berusaha tuk sembunyi. Tangis sesalmu kini tak lagi dapat membuatku iba, sebelum kita sama-sama.
kebahagiaan hanyalah fatamorgana
yang ada hanya rasa senang sesaat kemudian menangis
rasa cinta yang berubah jadi benci karena dihianati
kepercayaan yang berujung kekecewaan karena kemunafikan
kebahagiaan hanyalah sebuah keterpaksaan
keterpaksaan menerima kenyataan
keterpaksaan karena terlanjur merasakan
(untuk yang pernah melihat saat aku terpojok dalam sudut sempit bersekat kepalsuan)
|
|