Hujan Merapuhkan Tembokku :: 2009/03/28 19:12

Hujan menggerus tembok-tembok rumahku

Lihatlah, lapisannya retak dan keropos di kelilingi pulau-pulau basah

Dibawahnya ada genangan air mengenaskan

Air itu campuran hujan dan embun yang menguap di tambah air mata dari raga yang telah kering

Tembok itu sama persis terlihat dibalik cermin tua jadul yang telah menguning

Wajahku di masa lampau tergambar di cermin itu

Aku yang sedang menangis… Tegal, 070309

Deretan2 kalimat itu sebenarnya menggambarkan betapa rapuhnya tembok rumahku (dalam artian yang sebenarnya). Memang ketika hujan tembok rumahku yang tak menggunakan produk anti air itu menyerap banyak sekali aliran hujan, kemudian menggelembung, dan ketika panas tiba, gelembung itu akan pecah dan semen2 pelapisnya jadi ambrol. Agak sedikit miris memang, tapi aku nyaman di dalamnya, selama air hujannya tidak masuk dan menggenangi kasurku, yang juga pernah terjadi 5 tahun yang lalu. Ya, lima tahun yang lalu, di musim musim hujan itu, membuat bapakku basah kuyup terguyur hujan tentunya dan di malam hari pula, ia nekat memanjat ke genteng rumah, dengan analisis sederhananya, ia berpendapat ada saluran air yang tersumbat di atas kamarku, yang membuat hanya kamarku saja yang kebocoran dan dalam beberapa menit menjadi banjir, dan memuntahkan seluruh debu2 penghuni kolong tempat tidurku. He… memang aku agak sedikit malas membersihkan bagian kolong tempat tidur (yang tentunya sering membuat ibuku ngomel2). Singkat saja, aliran yang semula deras mengguyur kamarku itu, berhenti perlahan2 (jika kemampuan analisisnya tak berjalan, mungkin bapakku akan lama berada di atap yang gelap, bingung menentukan tindakan yang harus diambil, apakah kesalahan terletak pada genteng rumah yang retak/mlorot atau sibuk mencari sumber masuknya air atau kemungkinan lainnya yang kemudian akan membuang waktu dan membuat kamarku semakin tergenang). Ibuku berteriak ke arah atap (dengan logat tegalnya yang kental) "uwis, wis mandeg banyune pak…" . Setelah itu, gantian aku yang susah, ya memang itu juga akibat kemalasanku membersihkan kolong, aku hingga malam semakin larut, harus membersihkan kamarku yang basah itu. Tapi, positifnya, dengan begitu, kolong tempat tidurku ahirnya bersih dan kinclong, tak ada debu lagi menempel.

Jangan ditanya bagaimana paniknya ketika mulanya hanya tetesan air kecil yang masuk lewat sela2 plafon kamarku dan kemudian semakin deras, deras dan deras, hingga ahirnya air itu tumpah dan menggenangi kamarku. Kepanikan yang bercampur ketegangan dan ketakutan akan ambruknya atap kamarku itu mungkin tak seberapa jika dibandingkan kepanikan orang-orang di dekat tanggul Situ Gintung. Mungkin ada di sebagian mereka yang terbayang tragedi tsunami yang terjadi 2004 silam, bagaimana tidak? Rumah yang sudah mencekam akibat guyuran hujan lebat kemudian dalam waktu yang amat singkat tergenang hingga atap rumah ditambah lagi bunyi ledakan yang terdengar sebelumnya yang ternyata bersumber dari pecahnya tanggul yang mulai rapuh itu. Kepanikan mungkin mereka rasakan amat sangat ketika mereka tidak mendapati keluarganya dalam keadaan lengkap, ada satu yang hilang misalnya, pikiran pasti sudah jauh bercabang membayangkan kemungkinan yang terjadi pada anggota keluarga yang dicinta. Tidak mustahil juga seorang lelaki kekar kemudian menangis terisak sambil memeluk anaknya yang terbujur kaku, atau seorang anak SMA yang menutupi mulutnya sembari menangis pilu memandangi tubuh kawannya yang sudah berada di deretan jasad2 korban bencana itu. Ada pula yang masih kebingungan mencari dan berjalan diantara jasad2 yang terbujur kaku itu, hingga limbung tak sadarkan diri.

Mungkin ada beberapa kesamaan antara musibah yang menimpa kamarku dan bencana yang datang di Situ Gintung pagi tadi. Salah satunya, betapa Alloh sangat berkuasa atas segala sesuatu, hingga ketika Ia menginginkan sesuatu terjadi, hanya dalam hitingan detik saja segalanya menjadi mungkin, Kun fa ya kun. Alloh maha membolak-balikan hati kita, kenyamanan yang amat sangat pun dalam kejapan mata bisa sirna jika Ia berkehendak. Memang Ia berhak atas segala yang Ia miliki di alam ini, karena kita milikNya, maka Ia berhak melakukan apapun pada kita. Tapi jangan ditanya Mengapa Ia menghendaki ini dan itu, melainkan ada pelajaran yang bisa diambil di balik yang dikehendakiNya itu, karena tak ada satu pun ciptaanNya yang sia-sia. Pada cerita atap kamarku pun, banyak pelajaran yang bisa diambil, mungkin aku baru merincinya setelah emosiku mereda, karena usut punya usut yang menyebabkan tersumbatnya aliran air di atas atap kamarku adalah tumpukan semen2 yang terjatuh dari atas lantai dua (rumahku hanya satu lantai) rumah calon tetangga baruku, karena jarak yang begitu dekat, maka semen itu jatuh dan menutupi saluran air tepat di atas kamarku. Salah satu hikmah yang dapat diambil dari kejadian itu, yang langsung terasa adalah tentu saja kolong tempat tidurku menjadi bersih, yang kedua adalah tentu saja keluargaku mendapatkan tetangga baru yang ternyata amat ramah, yang ahirnya saling mengenal berawal dari kejadian itu. Aku juga mungkin harus belajar dari bapakku, yang bisa menenangkan dirinya sendiri di saat genting seperti itu hingga dengan analisis sederhananya, ia sigap dan ahirnya hujan di dalam kamarku terhenti. Bayangkan saja jika bapakku ikut berteriak2 panik dan tegang sepertiku, bisa saja bukan hanya kamarku yang banjir, tapi juga seluruh ruangan rumahku. Rincian itu mungkin juga belum aku lengkapi, yang mungkin saja karena kekurangpekaanku, masih lebih banyak yang bisa diambil dari kejadian itu. Mungkin ada pendapat dari teman2?

Seharusnya dari kejadian kecil pun, dengan kepekaan, kita bisa mengambil ibrohnya. Terlebih kejadian besar yang menyangkut nyawa orang. Mungkin bisa dikatakan tsunami kecil, tapi apakah bisa dikatakan kecil jika faktanya sudah hampir 70 orang meninggal dan hampir 200 orang luka2 dan 100 lebih masih belum ditemukan?. Miris memang, di balik kejadian ini sudah pasti Alloh menyelipkan beberapa pelajaran yang harus diambil oleh korban maupun kita yang selamat dari kejadian itu. Adakah yang bisa merincinya untukku yang masih kurang peka ini? Apakah ini sama dengan kejadian atap kamarku? Apakah ibrohnya adalah penduduk daerah tersebut dan pemerintah ahirnya tahu bahwa bendungan tersebut harus dibenahi seperti aku yang harus membenahi kolong tempat tidurku? Ataukah karena kita kurang silaturahim hingga kejadian itu harus terjadi dan ahirnya kita saling bertatap? Atau apakah? Lama-lama aku ini kebnyakan bertanya ya?

Lihatlah kembali deteran kata di awal kolomku ini, Alloh punya alasan mengapa Ia mengarahkan pikiranku untuk menulis pemandangan tembok rumahku yang rapuh. Alloh juga punya alasan mengapa lima tahun lalu ia ciptakan hujan di dalam kamarku. Demikian juga Situ Gintung, Alloh pun punya alasan mengapa kejadian itu Ia tentukan terjadi di hari ke 14 menjelang pemilu yang sekarang sedang gempar2nya masa pelanggaran kampanye. Alloh juga pasti punya alasan mengapa kejadian itu Ia datangkan di Tanggerang yang dekat Ibukota, bukan di pelosok Papua atau Sulawesi atau bahkan di jantung keramaian Ibukota sendiri. Adakah yang tahu jawabannya? Wallahu alam bishawab.

Trackback Address :: http://www.blogboleh.com/ny_psiko/trackback/4
Name
Password
Homepage
Secret