Baru awal Mei lalu meninggalkan jabatan menteri setelah reshuffle kabinet, Yusril Ihza Mahendra dapat peran baru menjadi laksamana. Bukan dalam dunia nyata, tapi dalam serial film televisi Admiral Zheng He atau Laksamana Cheng Ho. Hampir empat pekan menjalani jadwal kegiatan yang padat di Thailand, sore kemarin (5/8) Yusril Ihza Mahendra baru saja tiba di Indonesia. Suaranya masih agak berat, menunjukkan keletihan.
Di negeri Gajah Putih itu, suami Rika Tolentino Kato tersebut tidak sedang berlibur. Di sana, Yusril syuting untuk film TV Laksamana Cheng Ho yang produksinya, antara lain, ditangani oleh Kantana Ltd, salah satu perusahaan film raksasa di Thailand.
Dalam film tersebut, Yusril menjadi pemeran utama, yakni memerankan Laksamana Cheng Ho. Awalnya, dia mengaku tidak berminat menjadi bintang film. Tapi, kata orang-orang Thailand, kenapa bukan saya saja yang menjadi Laksamana Cheng Ho-nya?
Mungkin pertimbangannya karakter Cheng Ho pas dengan saya, kata Yusril.
Ide membuat film tersebut, salah satunya, memang datang dari Yusril. Menurut Yusril, ide itu muncul saat dirinya masih menjadi menteri sekretaris negara (Mensesneg).Banyak respons dan yang berminat untuk membuat film itu bersama Kantana, kata ketua Majelis Syura DPP Partai Bulang Bintang tersebut. Kebetulan, Yusril kenal baik dengan Jaruek Kanjaruek, orang Thailand yang dikenal sebagai chief executive officer (CEO) Kantana Group Public Company Ltd.
Yusril mengaku mau bermain dalam film Laksamana Cheng Ho karena film tersebut membawa pesan perdamaian. Ide-ide besar sejarah panglima perang dari Tiongkok itu dinilai Yusril masih relevan untuk diterapkan saat ini. Karakter Cheng Ho juga menarik. Dia lahir dari kalangan orang biasa. Bapaknya pemberontak. Dia banyak berkorban dalam hidupnya, kata doktor ilmu hukum dari Universitas Sains Malaysia itu.
Untuk memerankan Cheng Ho, Yusril mengaku harus banyak belajar. Secara khusus, dia mendapatkan pelatihan akting dari Nirattisai Kanjareuk, sutradara ternama di Thailand. Untung, waktu muda saya pernah main teater, kata pria kelahiran Belitung 51 tahun lalu itu.
Pemain film Cheng Ho tersebut berasal dari berbagai negara. Selain Indonesia, ada dari Thailand, Malaysia, Vietnam, Kamboja, Myanmar, dan Tiongkok. Karena pemainnya dari berbagai negara, naskah skenarionya juga diterjemahkan dalam berbagai bahasa pula.
Saat syuting, setiap pemain mengucapkan dalam bahasa masing-masing. Saya pakai bahasa Indonesia, kata ahli hukum tata negara pendiri Ihza Ihza Law Firm itu. Raja Champa (diperankan Thach Van Nga) karena pemainnya dari Vietnam, pakai bahasa Vietnam, sambungnya.
Nanti, kata Yusril, film tersebut ditayangkan di enam negara sehingga akan disulih bahasa (dubbing) ke enam bahasa, yakni Mandarin, Indonesia, Inggris, Thailand, Kamboja, dan Vietnam. Selain dubbing, penonton juga bisa mendapatkan opsi layanan teks terjemahan lewat teks (subtitle). Di Indonesia, film 26 episode itu akan ditayangkan mulai Januari 2008 di salah satu stasiun televisi swasta.
Yusril mengaku tidak banyak menemui hambatan saat pengambilan gambar. Hanya, ada satu hal yang membuat dia sedikit grogi. Sebab, dia sering diminta sutradara memerankan adegan peperangan dan perkelahian. Padahal, pada semua adegan, dia sengaja menghindari pemakaian stuntman (pemeran pengganti). Celakanya, orang Thailand (sutradara Nirattisai Kanjareuk) suka sekali pakai pedang. Saya sedikit ngeri, kata Yusril kemudian tertawa lebar.
Adegan lain yang berkesan bagi Yusril adalah saat pertempuran laut. Bagi saya, itu seru sekali dan sangat berkesan, kata alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia itu. Di film tersebut Yusril juga harus menunggang gajah dalam sebuah perjalanan ke hutan.
