|
|
|
A Letter for Reah (1)
Freezing Sadness |
2009/01/22 09:43
|
|
|
Geh +_+ Baru aja kemaren ngomong "sekarang lagi senang, isinya Flare semua", sekarang langsung berubah 180 derajad. Nande? Well... yah... semalam gw ditolak. That's why...
"Reah"
Panggil saja seperti itu. Seseorang yang tiba-tiba muncul dalam kehidupanku. Seseorang yang secara deskriptif mirip sekali dengan sosok yang selalu kuminta dalam doaku kepada Allah. Mungkin terkadang terkesan berlebihan, tapi begitulah aku. Sekalinya men-declare "aishiteru", akan jadi sangat sangat setia. Ada yang bilang aku lebih mirip piaraan daripada pacar. Whatever. They can kiss my ass.
Hmm, jadi bingung mau mulai dari mana. Ok lah, mari kita mulai dari awal!
Semua dimulai dari September 2008. Pertama kali mengenalnya, pertama kali melihatnya. Aku bukan orang yang percaya pada "love at first sight". That's why, saat ngeliatnya, kesan pertama yang muncul adalah "Dia cantik". Yah, cantik itu relatif. Mungkin lebih tepat kalau dikatakan "Dia memenuhi seleraku". Sip.
Aku yang saat itu adalah aku yang sedang sangat labil. Aku yang masih dalam masa penyembuhan, setelah wounded by a severe trauma a year ago. Sedang kehilangan kepercayaan, sedang kehilangan cinta, sedang kehilangan iman, sedang kehilangan segala-galanya dan sedang berusaha untuk memulihkan diri. Sambil terus berdoa agar diberikan "seseorang yang bisa membawa aku kembali ke jalan-Nya", I'm struggling.
Time flies... Aku nggak dekat dengannya. Kenal juga barely know her. Tapi setiap kali dia muncul rasanya senang ^^ Biarpun cuman ngeliat dari jauh, tingkahnya yang super berisik udah cukup buat bikin aku senyum-senyum sendiri. "Genki na onna deshou?" pikirku saat itu. Tapi aku yang saat itu membuat janji ke diriku sendiri. "Aku yang sekarang ini, ngurus diri sendiri aja ga becus. Gimana mau ngurus pacar? Kasian ntar ceweknya." Dan aku pun nggak berpikiran untuk mendekat lebih jauh lagi.
Time flows... Nih anak punya satu kebiasaan yang jelek, tapi sekaligus juga bagus. Kebiasaan untuk SKSD ke semua orang. Beberapa orang menanggapinya dengan sinis dan mengomentari dia caper. Kecentilan. Mereka nggak salah. Tapi aku nggak cuma melihat dari sisi buruknya. Menurut pendapatku, saat ini justru orang kayak ginilah yang dibutuhkan oleh UKJ (Unit Kebudayaan Jepang - ITB). Isu individualisme yang semakin lama semakin kental, perpecahan-perpecahan kecil di dalam, gap antara senpai dan kohai di dalamnya, bla bla bla... UKJ membutuhkan seseorang yang bisa menjadi jembatan penghubung antara senpai dan kohai. Seseorang yang bisa menjadi penyulut api obrolan yang akan membuat semua orang tertawa senang. Seseorang yang bisa menjadi tali pengikat yang membuat para penghuni UKJ merasa bahwa kita adalah satu. Yokatta nee.... ada seseorang seperti ini muncul. Biarpun berisiknya kadang kelewatan, dan biarpun SKSD-nya itu kadang berlebihan, tapi sisi baiknya UKJ jadi terasa lebih 'hangat'...
...to be continued...
|
|
|
| Trackback Address :: http://www.blogboleh.com/magnaflare/trackback/5 |
|
|
|
|
|
| Nothing worth nothing. Words aren't worthless. |
<<
2012/05
>>
| S |
M |
T |
W |
T |
F |
S |
|
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
| 6 |
7 |
8 |
9 |
10 |
11 |
12 |
| 13 |
14 |
15 |
16 |
17 |
18 |
19 |
| 20 |
21 |
22 |
23 |
24 |
25 |
26 |
| 27 |
28 |
29 |
30 |
31 |
|
|
|
|
|
|