"Nik ... apalagi sih yang kamu cari..?? Lelaki yang bagaimana sih yang kamu tunggu ..?? Sama yang begini engga mau, sama yang begitu engga mau juga, sama yang sana tidak, sama yang sini juga nolak .. Apa kamu engga kasihan sama ibu ..??"
Aku hanya bisa tersenyum pahit setiap kali bunda melontarkan pertanyaan itu. Aku tidak tahu harus menjawab apa lagi untuk meredam kecemasan dan kegelisahan bunda tentang kehidupanku.
Maafkan anakmu bunda .. belum mampu memenuhi harapan bunda.
....................................................................................... Semua berawal ketika aku memasuki bangku SMA. Ketika segala permasalahan yang aku rasa belum "layak" aku terima, harus aku hadapi. Saat duduk di bangku sekolah, yang seharusnya bisa aku nikmati, harus terbuang karena masalah perjodohan itu.
Dan celakanya, karena satu dan lain hal, aku sama sekali tidak bisa berkata "tidak", meski hatiku sama sekali tidak bisa menerima kondisi itu. Akhirnya masa-masa SMA aku habiskan dengan perasaan takut, cemas akan nasibku setelah lulus sekolah. Aku tidak dapat menikmati masa-masa SMAku yang menurut banyak orang itu merupakan masa-masa paling indah.
Di penghujung bangku SMA, entah terinsipari dari mana, akhirnya terbersit keinginan untuk "kabur". Ya ... mungkin dengan cara melarikan diri itu aku bisa menghindari perjodohan itu. Dan seperti dalam cerita mimpi, sampai akhirnya aku terdampar di suatu negara yang memberi aku sedikit semangat untuk melanjutkan langkah.
Dan saat ini, hampir 7 tahun sudah aku berada dalam pelarian.
Satu demi satu lelaki yang datang, merasa lelah dan akhirnya mundur dan memilih wanita lain untuk di sanding.
Dan aku masih disini ...
Dalam pelarianku yang tak tau entah sampai kapan akan berakhir.
Aku lelah ...
Fisikku lelah ...
Batinku lelah ...
Namun aku tidak tau harus dengan cara bagaimana untuk mengakhiri pelarian ini.
Aku tidak tau kemana pelarian ini akan berujung.
Yang kutau hanyalah ... aku harus terus melangkah meski harus tersandung, merangkak, tertatih atau bahkan harus berlari.
Ya ... hanya itu yang aku tau ...
Terus melangkah ... ....................................................................................... "Mbak minta tolong sampein ke Bunda, jangan terlalu mengkhawatirkan aku disini, agar kesehatan Bunda tidak memburuk. Agar kondisi Bunda bisa pulih kembali. Aku disini baik-baik saja." pesanku ke Mbak Ika, kakakku satu-satunya yang dengan sabar mendengarkan curhat panjangku, sebelum meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya. Maafkan anakmu bunda, yang belum mampu menjadi anak seperti yang engkau harapkan.
Hanya satu pintaku..
Jaga kesehatan Bunda
Meski aku tidak disisi bunda, aku selalu sayang bunda.
Sangat sayang ....
Tapi aku juga belum tau bagaimana mengakhiri pelarian ini.
|