Kulirik penunjuk waktu di HP mungilku seketika saat terjaga. JamDelapan malam. Ukh.. sayang sekali, keluhku. Aku terlewatkan tulisan ”Selamat Datang di Kota Sebiduk Semare “. Lampu jalanan terlihat begitubenderang malam ini, tanda kami telah melewati daerah perkebunan. Akusudah sampai. Dalam sebuah travel jurusan Bengkulu-Lubuklinggau, akumembolak-balik leher ke kanan dan ke kiri. Sekali dua aku terdiam. Takada yang berubah. Tetap seperti terakhir aku menginjakkan kaki di tanahkelahiran ini. Adik 10 menit lagi sampe rumah! kukirim pesan singkat ke rumah yang entah berapa kali hari ini menghubungiku untuk memantau keberadaanku. Telah kuduga bahwa aku bakal terakhir tiba di rumah, terakhirdiantar tepatnya. Maklum, Om Eko –Supir Travel– kan tetanggaku, jadiwalaupun rumahku daerah paling kota, paling rame, tetap saja aku tibabelakangan. Tapi lumayanlah, aku bisa mengelilingi tempat tercinta ini,masa lalu yang menggugah. Sembilan kurang beberapa menit aku tiba di rumah. Anak tercintapulang dari Jakarta, mungkin demikian pikir Bunda. Keluarga dan temankusudah berkumpul, mereka merinduku, aku tahu betul. Bulan terlihat begitu harmonis dengan antero raya. Cahaya yangmemergokiku saat mencuri-curi lihat lewat celah jendela menetawaiku.Entah misteri apa? telahkah terjadi resonansi pada kekasihmu ini? satujam lagi tepat tengah malam, aku berharap tak kena kutukan. Kemudian (hal yang tak pernah kuduga)….
08138542xxxx calling “halo… sapa neh..?”
“Ini gua, masih inget gak? gua butuh lu banget malem ini. Lu ketempat gua ya, kalo gak gua yang ke kosan lu. Sekarang ya…!!” Akukaget sekali. Tak mungkin aku katakan kalau aku sedang tidak diJakarta. Aku bingung, bagaimana harus menghadapi si desperate ini!! "Yah... Gua ke tempat lu sekarang!!"
tubikontinyu |