Sebagian media massa (walau sekarang sudah ada yang sadar dan sudak tidak "bodoh" lagi, dibanding beberapa tahun yang lalu).
Kalimatnya misalnya begini: "..............Seorang putra keturunan yang bernama asli Cheng Terry Yang (kalau ada kesamaan nama, ini bukan disengaja hanya sebagai contoh) sangat berhasil dalam bisnis property di tanah air...."
Atau kalimat lain misalnya begini:
"............ banyak WNI keturunan yang masih agak takut pulang ke tanah air menyusul trauma mereka atas peristiwa Juli 1998..."
Saya kalau membaca artikel yang menulis kalimat-kalimat "bodoh" ini terus terang saya terganggu walaupun saya bukan etnis Tionghoa. Penggunan kalimat "putra keturunan" diatas maupun penggunaan kalimat "WNI keturunan" di beberapa media massa sangat diskrimatif bagi etnis tertentu dan sebaliknya melecehkan etnis tertentu yang mengaku dirinya pribumi. Mengapa tidak dikatakan putra keturunan Tionghoa/China, dan atau putra keturunan Batak, dan atau putra keturunan Nias saja?
Atau menggunakan kalimat: WNI keturunan China, WNI keturunan Jawa, WNI keturunan Nias dan sebagainya tanpa menggantung pemakaian kalimat: "putra keturunan" dan "WNI keturunan". kalau ada kalimat "putra keturunan" dan "WNI keturunan" berarti etnis lain (yang notabene menyebut dirinya pribumi, walau sebenarnya kita sama-sama pribumi, hanya etnis/suku bangsalah yang membedakannya) bukan keturunan donk? Pribumi ini yang tidak dilabeli "putra keturunan" atau "WNI keturunan" lalu mereka siapa? apakah mereka bukan keturunan ayah/ibu mereka? (maaf ini agak kasar) dan atau apakah etnis lain ini bukan "putra keturunan" atau "WNI keturunan" Nias sesuai dengan etnis yang kebetulan dia lahir sebagai etnis Nias/etnis tertentu misalnya? Saya berharap media massa ini yang mestinya berusaha mengedukasi masyarakat tidak sengaja mengetik kalimat-kalimat bodoh dan biadab seperti ini. |