Sebagaimana kita tahu, Pulau Nias itu jauh dari daratan Sumatera dan ada di ujung bumi selain waktu itu kapal-kapal masih sangat sederhana, kapal kayu yang sangat sederhana ini tidak mungkin melakukan pelayaran dan menaklukan ombak di kepulauan Nias yang terkenal ganas. Jadi Nias zaman dahulu tidak pernah dikunjungi orang dari pulau lain, baru dikunjungi setelah bangsa Eropa ke Nias.
Orang Nias zaman dahulu beranggapan bahwa merekalah satu-satunya manusia di dunia ini yang kebetulan mendiami pulau Nias.
Maka ada istilah "Ono Niha (anak orang)" ; "Tano Niha atau Tanah Orang" ; Omo Niha (Rumah Orang), semuanya pakai kata-kata Niha atau orang.
Nah setelah bangsa-bangsa Eropa mendatangi pulau Nias, manusia yang mendiami pulau Nias yang menyebut dirinya “Ono Niha” merasa heran, ternyata ada orang atau manusia dari pulau lain selain manusia yang mendiami pulau Nias.
Maka mereka mengatakan “Niha Si”
Kata dibelakang Niha adalah “Si” ini adalah aksen bahasa masyarakat Nias yang mendiami bagian selatan. Dimana semua percakapan mereka diakhiri dengan kata “si”, kata “si” itu tidak ada artinya hanya sebagai pelengkap percakapan. Seperti percakapan bahasa pasaran sekarang, misalnya: “gimana sih”, “capek deh” “jangan donk”. Kata sih, deh dan donk tidak punya arti, tetapi mendukung percakapan tadi.
Percakapan dengan diakhiri dengan kata “si” ini sampai sekarang masih dipakai oleh masyarakat Nias Selatan khususnya di daerah öri Onolalu dan sekitarnya di kecamatan Teluk Dalam serta di kepulauan Tello.
Jadi, orang-orang Eropa ini yang tidak tahu percakapan yang digunakan oleh penduduk setempat yang mendengar kata-kata “Niha Si” ini beranggapan serta menebak-nebak bahwa orang-orang ini memperkenalkan diri dan pulau mereka yaitu “Niha Si” makanya orang-orang Eropa ini yang berbeda bahasa dan aksennya menyebut kata “Niha Si’ ini dengan “Nias”.
Sejak itulah mereka memberi identitas pulau ini dengan Nias.
*Catatan:
Cerita ini adalah dari berbagai sumber, diantaranya dari guru sejarah saya yang mengajar di SMK Kristen BNKP dan juga dari buletin tentang Nias (lupa nama buletinnya) serta dari penuturan beberapa tokoh masyarakat yang tahu sejarah Nias zaman dahulu. Keakuratan informasi dan datanya masih perlu kita teliti dari berbagai sumber. |