harga cinta :: 2008/04/19 23:28

/

Selalu ada kenangan setiap aku menyusuri jalan ini,pepohonan yang rindang, udara sejuk dengan hembusan sepoi sang bayu,selalu menghantarkan aku padanya. Belum lagi daun-daun yang mulaimenguning dan rontok dihela angin terhembus jatuh ketanah, semakinmenambah deretan kenangan yang sedang kuhampiri kini.

Biasanya,seuntai senyum dari bibir padatnya selalu menyertai perjalanan sorekusepulang dari kampus, tangannya yang gempal selalu mengikat erat tubuhmungilku, "sini, jangan jauh-jauh kutil, Aa peluk ya" rayunya kala itu. Pesonanya semakin menautkan relung rinduku, hangat dan nyaman.

Takterasa langkah kakiku sudah jauh berjalan, dan aku sudah sampai ditempat aku biasa bercengkrama lebih dekat dengan dia. Hmm... di kafeitu, kafe dimana kami biasa memadu kasih, 10 tahun lalu. Ah... sepertibaru kemarin. Semuanya masih terlihat sama. Bangku-bangku kecil terbuatdari rotan Kalimantan masih tertata apik, saling berhadapan.

Hatikujadi berdebar. Ini berbeda, tidak seperti dulu lagi. Hatiku merinduakan getaran itu. Rasa penasaran atau kah aku memang masih mencintailelaki itu.

Kubuka pintu kafe itu, dia sudah duduk dibangku yangbiasa kami gunakan dulu, bangku paling sudut yang menembus langsungpemandangan langit kota kenangan kami. Posisi duduk dan cara diamenghisap rokoknya masih serupa dengan cara dia pada 10 tahun yanglalu, hanya satu yang berbeda darinya kini, statusnya.

"Akhirnya kamu dateng juga, manis, tambah ndut aja sih kamu... hehe"sapa Aa dengan canda yang biasa dia lontarkan padaku, tanpa sadar jikadirinya lah yang sedang dia bicarakan. Tubuh besarnya semakin bertambahsehat semenjak pernikahannya sekitar 3 tahun yang lalu, barangkaliistrinya memberikan gizi yang lebih sehingga Aa semakin tambun saja.

"Aa seneng kita bisa ketemu lagi, lama sekali ya kita gak ketemu, kamu terlalu cepat pergi"sorot matanya menyiratkan kerinduan mendalam, membuatku semakin merasabersalah atas pertemuan kami ini. Dia bukan milikku lagi.

Seringaisenyum ku yang selalu tulus untuknya terus kusodorkan bersama tingkahkuyang agak kaku kali ini, belum mampu bibirku berkata-kata untukmembalas sapa rindunya.

Aku ulurkan tangan padanya. Ahh..sungguh kikuk. Tak biasa aku bersalaman dengannya. Aku biasanya diapeluk dan tak lupa mengecup pipiku dengan manis. Aa pun terlihat kaget.Namun mungkin ia pun mengerti aku bukan miliknya lagi. Disambutnyatangan kecilku. Dan mempersilahkan aku duduk di hadapannya.

Di meja telah terhidang cappuccino hangat. Minuman kesukaan kami. "sok atuh di minum dulu" Aa menawariku minum.
"iya, Aa... makasih"ujarku lirih. Sebenarnya aku pun heran mengapa aku masih mau bertemudengannya. Semenjak ia sekolah di Amerika untuk melanjutkan pendidikanDoktoralnya, maka semenjak itu pula kisah cinta kami terhenti sampaisitu. Tiada kabar, e-mail, sms bahkan telpon. Hanya kata perpisahan dikafe ini ketika kami habiskan malam terakhir itu.

Ia berpesanpadaku, agar tak menunggunya lagi. Dan membisikan aku agar aku mencaripenggantinya. Aku seperti terhipnotis ketika itu. Tak ada sanggahanatau tanya, mengapa aku harus menuruti kata-katanya. Aku hanya yakinbahwa dia masih mencintaiku sebenarnya. Aku masih ada di hatinya.Hingga aku tahu dari seorang sahabatnya kalau Aa-ku itu telah menikahdengan orang Indonesia yang sama-sama belajar di sana.

"Kok diem aja sih Hen, ngomong dong" Aa berusaha mengisi suasana hening diantara kami.
"Mau ngomong apa dong?" lagi-lagi rasa grogiku belum juga hilang.
"Cerita dong kabar kamu gimana sekarang" ia bertanya lagi.
"Ya... masih begini-begini aja a"aku bingung entah harus bagaimana, menangiskah menumpahkan rasakekesalanku. Atau memeluknya, karena sebagian hatiku sungguh merindukansosoknya.

"Begini-begitu gimana?" tanyanya menyelidik.
"Ya masih jomblo" ujarku coba mencairkan suasana.
"Hahaha... ah yang bener?"ia tertawa, ah... kudengar kembali renyah tawanya. Aku makin rindu.Kalau tak malu aku ingin menghabisinya dengan ciuman dan pelukanku. Akusungguh rindu padanya.

"Iya, suer" sambil ku acungkan dua jari kedepannya seolah polos.
"Jadi gak enak nih. Kamu kenapa blom nikah Hen?" tanyanya. Ah... dia memanggil namaku. Tak seperti biasanya, ia selalu memanggilku "cay" atau "kutil" apakah pertanda ia tak lagi sayang padaku. Padahal aku masih amat mengharapkannya.
Ah... persetan dengan statusnya kini. Ia masih miliku dan akan menjadi milik ku. Buktinya ia masih mau bertemu denganku disini.

"Ya...cari suami itu gampang-gampang susah. Kadang kalo kita suka, dia gaksuka. Kalo kita gak suka, dia malah suka. Jadi ya tetep kaya gini a"timpalku, dan Ia terdiam sesaat, rokoknya dia hisap dalam-dalam. Asaprokok seakan membuyarkan obrolan ini. Ia berganti topik. Mungkin iatersindir dari ungkapan spontanku. Ialah yang dulu meninggalkan aku,meninggalkan semua kisah manis diantara kami.

"Hen, kira-kirasebulan yang lalu aku ketemu David. Dia udah punya anak tiga lhosekarang. Katanya salam sama kamu. Aku bilang iya nanti disampein kaloketemu kamu" Aa mencoba mengalihkan topik pembicaraan tadi.
"Ketemu dimana?" timpalku.
"Di Bandara, waktu mau sama-sama ikut konvensi di Brussel" balasnya semangat.
"ooh..." jawabku singkat.

Obrolankami pun makin hangat. Aku jadi lupa kalau dia bukan milik ku lagi. Akujuga heran kenapa ia belum juga menceritakan keadaan rumah tangganya.Bahagiakah dia, atau tidak? Untuk bertanya pun aku enggan. Akumembodohi diriku. Aku tak ingin mengingatkan ia akan statusnyasekarang. Aku ingin ia jadi milik ku sepenuhnya. Bukan milik wanitalain. Salah kah aku? Tapi ia milik ku. Milik ku semenjak dulu. Dan akupun telah menyerahkan seluruh hati ku untuknya.

**


Bukannyaaku tak berusaha untuk hidup dengan lelaki lain. Mengarungi cinta dalambahtera rumah tangga. tapi aku tak bisa. Telah berkali-kali aku coba.Hingga terakhir waktu itu aku hampir saja menikah dengan seorang.Setelah acara lamaran usai. Tinggal kami duduk berdua dengannya diberanda belakang rumah orang tua ku. Ia berusaha untuk menggapaicintanya. Ia ingin menciumku. Rasanya hatiku berdesir amat kencang. Akubelum pernah berciuman dengan lelaki lain selain Aa.

Walaupunaku sering berganti pria semenjak aku mencoba menata hidup ku kembali,setelah ku ketahui Aa telah menikah tapi aku tak pernah ingin di sentuhlelaki lain. Kupejamkan mataku, bibirnya menempel di bibirku, dinginbagai es, bau napasnya, ah... aku tidak suka. Aku dorong badannya kebelakang. Ia terkejut, ia tersinggung.

Semenjak itulah iamembatalkan pertunangan kami. Membatalkan lamarannya. Aku tak peduli.Hanya keluarga ku yang merasa tersinggung dan menangisi mengapa anakgadisnya di putuskan dalam pertunangannya. Tapi sungguh aku tak peduli.Karena aku tak bisa disentuh lelaki lain. Rasaku telah mati, hinggaindera ku menghilang bersama hati itu.

**


Setelahpertemuan di kafe itu. Kami jadi sering berhubungan. Kalau tidak Aayang menelpon, maka aku yang menelpon. Kami sering bertemu untukmelepaskan rasa yang tertunda. Untuk makan siang atau hanya makan malamdi terangi lampu-lampu jalanan. Aku sungguh bahagia. Hidupku kembalikepada lajurnya. Bagai satelit hubble kembali mengeliling orbitnyauntuk memata-matai bumi. Aku hidup dalam asa baru. Dalam moment cintayang lain. Aku makin cinta kepadanya.

Bahkan sekarang ia kembali memanggil ku dengan nama kesayangannya padaku "cay" atau "kutil", ia telah kembali padaku. Walau aku tak tahu harus bagaimana untuk memiliki dia seutuhnya.

Poligamikah? Ah... suatu kehidupan tradisional. Tak pernah aku bercita-citamemasuki hidup seperti itu. Apalagi menjadi istri kedua. Tak sudi!

**


Seiring waktu berputar dan berlalu. Aku merasakan sesuatu yang kurang dalam hidupku.
Manusia tak pernah cukup untuk sekedar bermimpi. Walaupun telah memiliki itu tak pernah cukup.

Manusiaakan selalu mencari dan mencari semua keinginan dalam hatinya. Walautelah memiliki gunung emas maka akan mencari gunung emas yang lain. Akutak puas membawa hubunganku dengan Aa sebatas cinta monyet yang bersemikembali.

Aku ingin disentuh olehnya dalam kesukaan kalbu.Dalam cinta yang menenangkan jiwa. Dalam desahnya dan keringat cintayang penuh hasrat.

**


Dikafe itu, tempat kami melepaskan rindu. Kami duduk di tempat biasa. Adasesuatu yang ingin ku ungkap kepadanya. Mudah-mudahan aku mampu.

"Aa, sebenernya masih punya rasa gak sih sama Heni?" bukaku ragu.
"Punya, rasa vanilla dan strawberry" seperti biasa ia selalu bercanda.
"stop it, Aa! Aku serius" Tegasku, ia diam dalam senyumnya.
"Baiklah, ada apa Heni Renata" ia menyebut nama belakangku, berarti ia pun telah memporsikan dirinya dalam keadaan yang serius.

"Apa sih yang Aa cari dari Heni?" tanyaku dalam tempo yang senyap.
"sayang" jawabnya yakin.
"sayang apa? Aa udah menikah, udah punya istri" cecarku.
"Emang. Tapi apa Aa gak boleh sayang sama Heni?"
"Gak boleh!! Karena Aa bukan punya Heni lagi!!" aku sedikit berteriak. Hingga pengunjung yang lain menolehkan matanya pada kami.

"Terus Aa mesti gimana dalam keadaan ini? Haruskah aku menceraikan istri ku, lalu menyayangimu?" jawabnya setelah sempat terdiam sejenak.
"Terserah,kamu kan laki-laki. Kamu harus punya sikap dong! Jangan biarkan akubegini terus. Kamu yang dulu meninggalkan aku. Lalu kamu datangi akulagi dengan sejuta harap di hatiku. Hingga hati ini jatuh cinta lagidan lagi pada kamu. Lalu aku berharap banyak akan semua ini. Aku takmau lagi sendiri di ombang-ambing perasaan" air mataku terpecahbuyar. Tak ingin aku menangis di hadapannya. Tak pernah walau bagaimanapun remuknya hatiku. Tapi entah mengapa air mata kali ini tak bisa ditahan.

Dipeluknya aku, lalu kami pindah ke taman di seberang jalan kafe itu. Duduk berdampingan di bangku kayu. Aku masih menangis.
"Kaloemang Aa sayang sama Heni, jadikan Heni satu dari hati Aa. Heni udahmati rasa sama cowo lain. Heni cuma mau Aa yang sayang sama heni, cumanAa gak yang lain" Begitu gigih perasaanku padanya. Aku menyerahdemi secuil cinta yang tersisa di hatiku. Aku rela ia perlakukan akubagaimana pun nistanya. Tak pernah aku ingin merebut suami orang lain.Apalagi sekarang aku rela untuk berbagi dengan wanita lain. Yang belumtentu wanita itu rela suaminya di bagi.

"Kalo kamu maunya begitu, Aa siap menanggung semua resiko yang ada"ia peluk aku diantara deru napasku yang menahan tangis. Aku sudah takkuat lagi menahan beban cinta ini. Entah cinta atau rasa sayang yangberlebihan, mungkin juga hanya nafsu belaka. Persetan dengan semua itu.Aku hanya ingin hatinya yang memayungi jalanku. Aku hanya ingin diayang mendekapku.

**


Iadihujami dengan pukulan-pukulan oleh kakak-kakakku. Ia yang badannyabesar itu seakan-akan memberikan semua bagian tubuhnya untuk di pukuli.Ia tak melawan sedikitpun. Bahkan untuk menangkis atau mengelak puntidak.

Aku tahu ia bersabuk hitam Dan-tiga karate,dengan ukuran tubuhnya yang besar itu mungkin akan dengan mudah iamengalahkan kakak-kakak ku yang masih terus saja melayangkan pukulandan tendangannya pada tubuhnya. Tak sedikitpun tubuhnya oleng. Ia diammematung. Hanya darah mulai keluar dari hidung dan bibirnya.

Aku berteriak histeris "Abang, cukup abang!!" hatiku menangis. Aku peluk lelaki itu, untuk menghalagi serbuan pukulan kakak-kakak ku. "diam kamu dek!!" kakak ku berteriak dengan keras sambil menjabak rambutku, agar jauh dari lelaki itu.

"Tidak, bang! Cukup!!" baru kali ini aku begitu berani kepada kakak-kakak ku. Tak pernah aku sedikitpun berlaku kurang ajar atau membentak kakak ku.

Semua keluarga ku diam. Terkejut akan teriakan ku. Aku terisak menangis diantara pengharapanku "Papa,Mama, abang semua. Heni tau ini salah, Heni ngerti Heni gak bolehkurang ajar sama orang tua. Tapi tolong ngerti sekali aja. Heni gakpernah minta banyak. Gak pernah minta yang lain. Heni cuma mintakeluarga nge-restuin Heni sama Aa. Itu aja. Cuma itu aja!"

Kakak ku yang nomor satu, kakak yang paling keras tabiatnya, Abang Hasan memenggal kata-kataku. "Hen,kamu mau jadi istri kedua! Apa kamu udah gila! Kamu mikir, kamu maujadi apa nanti. Kamu jangan bikin malu keluarga. Kawin dengan oranggila macam ini!!" ia menunjuk lelaki itu, Aa-ku dengan mata yang melotot, gusar.

"AbangHasan, Heni tau Aa udah punya istri. Tapi Heni sayang sama Aa. Begitupun Aa. Heny tau ini salah. Tapi Heni gak bisa hidup sama lelaki lain.Heni pengen Mama-Papa, abang semua sayang sama Aa seperti kalian sayangsama Heni. Sekarang Heni mohon, Heni janji gak bakal ngerepotinsemuanya lagi. Heni cuman minta di restui sama keluarga, itu aja gaklebih". Tangisku makin meledak.

Papa yang diam membungkam, menubruk dan memeluk ku. Papa menangis."Heni, Papa pengen Heni bahagia. Kalau kamu emang sayang sama dia. Papa restui Hen, Papa restui"Tak pernah aku melihat Papa menangis. Aku merasa berdosa sekaligusbahagia. Asal Papa setuju itu sudah cukup. Kami menangis berpelukan.Kakak-kakak ku diam membisu. Mereka menitikan air mata. Mama ku ikutmemeluk ku.

"Hen, mama cuma bisa mendoakan kamu. Semoga kamubahagia. Kamu berani mengambil tindakan seperti ini. Mama harap kamusiap menerima segala konsekuensinya. Tidak mudah menikah dalam keadaanseperti ini nak" Mama ku ikut mengharu biru dalam isak tangiskeraguan. Aku sudah tak perduli lagi. Hati ku benar-benar terasuki olehrasa sayang pada lelaki itu.

**


Segalakonsekuensi ku terima. Sebagai istri kedua. Istri tanpa legitimasi. Akuterima dengan ikhlas. Kini anakku sudah berumur dua tahun. Sudah pintarberceloteh. Memanggil-manggil Papanya.

Aku bahagia disini.Dirumah kecil di pinggiran kota yang di belikan suamiku. Terkadang duaminggu atau sebulan sekali ia menginap disini. Untuk menumpahkan rasadalam sayangnya pada ku dan Revo anakku.

Ini lah harga cintayang kuberikan padanya. Aku rela mendapatkan setitik kasih dan sayang,asalkan itu dari Aa-ku. Tak mengapa aku disebut wanita perebut suamiorang. Tapi hatiku tak merasa merebutnya. Aku hanya berbagikebahagiaan. Itu sudah cukup bagiku. Tak ingin yang lain.

Kupeluk Revo anak ku. Sungguh ia mirip dengan Papa-nya. Berceloteh riang ia di pelukan ku. "Mama-mama, itu Papa pulang"ia menunjuk ke luar tempat dimana arah Papanya datang, menyambangikami. Tersenyum ia dengan sejuta pelukan untuk kami berdua. Bahagianyadiriku.

**

Trackback Address :: http://www.blogboleh.com/henceu/trackback/4
  • Kie Guevara | 2010/12/04 04:12 | PERMALINK | EDIT/DEL | REPLY

    woi-------baru baca lagi nich cerita masih menarik da penuh energi hehehhehehhe

Name
Password
Homepage
Secret