Tentang Bandung :: 2008/05/22 17:12

Pertama kali aku menginjakkan kaki di Kota Bandung, hal pertama yang terlintas adalah 'kenapa bandung tidak seperti yang aku bayangkan?'. Berbeda sekali penampilannya dengan apa yang aku saksikan belasan tahun yang lalu.

Sebenarnya salah juga membandingkan Bandung kini dengan Bandung-ku dulu. Karena sewaktu aku ke Bandung dulu, yang kuingat adalah sebuah pertokoan yang memiliki arena permainan 'Rumah Hantu', hijaunya kebun teh di pegunungan dan hangatnya air di obyek wisata Ciater.

Harapanku atas Bandung adalah sebuah kota yang indah dengan pohon-pohon rindang disekitarnya. Mungkin dalam pikiranku Bandung malah lebih bagus daripada kota Yogyakarta, tempat di mana aku kuliah dulu.

Memang banyak bangunan indah dan pohon rindang di Bandung, seputaran Braga misalnya, atau kampus ITB, atau Dago, jalan Aceh, dll. Hmm, sesuai harapan lah, awalnya. Namun kenapa pemandangan itu hanya seluas beberapa hektar di area pusat kota saja? agak keluar dikit ke daear sub urban, pemandangan tersebut tidak lagi kujumpai.

Sebaliknya, pohon yang jarang, got yang menggenang, kemacetan tak karuan, polusi tak terhindarkan, panas cuaca menyerang; dan yang paling menonjol adalah JALAN yang sama sekali tidak membuat pemakainya NYAMAN. What an awful thing!

Suatu malam ketika aku merenungi nasib jalan di Bandung bersama pamanku, beliau berkata "Banyak mobil mewah di Bandung ini, berplat D, satu rumah rata-rata dua mobil. Kalau masing-masing mobil memberi pajak satu juta misalnya dikalikan mobil yang ada, berapa penghasilan daerah Jabar dari Bandung sendiri?"

Bermilyar-milyar seharusnya!

Trus, bagaimana bisa jalan-jalan di bandung bernasib begitu malang? Kemana larinya pajak di atas?

Ah aku jadi takut berprasangka buruk.

Jika pajak itu benar-benar dialirkan untuk pernaikan jalan saja, berapa rupiah lagi yang bisa didapat dari investasi itu? berapa duit bisa disisihkan untuk membiayai pembersihan got, penanaman pohon, atau pembangunan taman guna mencegah global warming. Berapa dana yang terkumpul untuk membuat masyarakat Bandung makin sejahtera?

Pamanku kembali berkata "Yogya aja yang penghasilannya tidak sebanyak Bandung, jalannya mulus sampai pelosok dan taman dibangun dimana-mana, kenapa Bandung pinggiran ini, rasanya lama sekali berkembang?"

Hanya sebuah renungan diri.

Trackback Address :: http://www.blogboleh.com/hannalaila/trackback/38
  • yasmin | 2009/01/02 17:24 | PERMALINK | EDIT/DEL | REPLY

    yah..itu juga mba yang sering saya tanyakan..
    makin lama bandung semakin ga jelas arah pembangunannya. mungkin (asumsi sendiri), pemkot Bandung merasa Bandung masih bisa dikeruk habis2an dan keuntungan itu (mungkin) dimanfaatkan untuk pihak2 yang berkepentingan saja. sedangkan masyarakat? hum..tampak ga berasa apa2 kok mba.

    yah, mau intervensi atau sekedar bertanya dengan pemkot setempat juga ga tau lewat mana...

    -yk-

Name
Password
Homepage
Secret