BLOG main image

Name :

Message :

All (42)
pilih fakta (14)
atau fiktif? (1)
<<   2008/05   >>
S M T W T F S
1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
Menyerah gw, akhirnya non.. by hannalaila 01/07
web bisnis by seagateawan 01/07
Klik, Rupiah Mengalir, by seagateawan 01/07
BISNIS DENGAN MODAL GRATI.. by seagateawan 01/07
Ke kantor pake baju baru by superyoss 01/07
Komik BATMAN tahun 1968 by superyoss 01/07
Mudik - Natal dan Tahun B.. by superyoss 01/07
mauku by yisha 01/07
mYb@bY B0Y by nismaray 01/07
kata cinta by massiimmaa 01/06
1299 Visitors up to today!
Today 17 hit, Yesterday 4 hit
'2008/05' 4
[hannalaila, 2008/05/29 07:06, ]
Duuh, mungkin rada telat ya kalo gw ngomongin soal Hari Kebangkitan Nasional, tapi ya gimana lagi gw tetep mo curhat.

Jauh dalam lubuk hati gw yang paling dalem, gw sebenernya merindukan banget acara-acara nasionalis yang menggetarkan hati, jiwa dan raga seperti perayaan 100 tahun Kebangkitan Nasional kemaren. Dulu tuh jaman Pak Harto berkuasa, acara-acara kek gitu kan sering banget diadakan. Bedanya, kalo yang sekarang gambar yang ditampilin ama beratus peserta di sana adalah gambar SBY dan Bu Ani, bukan lagi Pak Harto dan Ibu Tien.

Kangen gak sih, ama lagu-lagu daerah yang dinyanyiin, kayak Yamko Rambe Yamko tuh. Dulu waktu SD apal bangetts (mpe sekarang...). Trus ada ondel-ondel, ada TNI yang berbaju singa dan anjing laut marching band, trus liat tari Saman-nya tu bow...kagak nguatin....kompak banget...bergetar2 rasa hati...Ini cuma ada di Indonesia...bangga banget gw

Sesaat rasa cinta tanah air gw menyeruak muncul...lihatlah betapa beranekaragamnya kekayaan bangsa!

Di tengah gegap gempita perayaan kembalinya rasa patriotisme dan nasionalisme tersebut, yang terngiang kemudian adalah sebuah paradoks. Perayaan ini rasanya aneh dilakukan ketika bangsa sedang terpuruk, apalagi beberapa minggu kemudian BBM naik. Tapi dilema-nya gw merasa emang butuh suatu dorongan untuk mengembalikan semangat cinta negara gw, untuk bekerja sepenuh hati demi bangsa kita yang 'kaya' ini.

Ah gw jadi binun sendiri memaknai 100 years of Nation Awakening ini...

Cuman gw setuju banget tu ma PSA-nya Om Deddy Mizwar...

"Bangkit itu susah,
susah melihat orang lain susah, senang melihat orang lain senang.
Bangkit itu malu,
malu bila jadi benalu, malu kalau minta melulu.
Bangkit itu marah,
marah bila martabat bangsa diinjak-injak.
.............
(tar deh gw apalin dulu...hihihi)"

Ayo! Kita bisa!
Indonesia bisa!

Kerja, kerja, kerja
demi Indonesia!
[hannalaila, 2008/05/28 16:53, ]

Fyuhh, uda saatnya pulang kantor, capek!

Gw mo nunggu maghrib, pulang, ngrumpi2 dikit, trus bobo

Besok ngantor lagi, capek, pulang, trus bobo

dst, dst...

Sabtu, Minggu....aku menunggumuuuuu....

[hannalaila, 2008/05/23 16:08, ]
Ada hal yang sangat aku suka dari Bandung...

Kerlap kerlip lampu di daerahnya yang berbukit-bukit kala malam menjelang
seperti taman bintang yang berada di atas bumi.

I Love It.
[hannalaila, 2008/05/22 17:12, ]
Pertama kali aku menginjakkan kaki di Kota Bandung, hal pertama yang terlintas adalah 'kenapa bandung tidak seperti yang aku bayangkan?'. Berbeda sekali penampilannya dengan apa yang aku saksikan belasan tahun yang lalu.

Sebenarnya salah juga membandingkan Bandung kini dengan Bandung-ku dulu. Karena sewaktu aku ke Bandung dulu, yang kuingat adalah sebuah pertokoan yang memiliki arena permainan 'Rumah Hantu', hijaunya kebun teh di pegunungan dan hangatnya air di obyek wisata Ciater.

Harapanku atas Bandung adalah sebuah kota yang indah dengan pohon-pohon rindang disekitarnya. Mungkin dalam pikiranku Bandung malah lebih bagus daripada kota Yogyakarta, tempat di mana aku kuliah dulu.

Memang banyak bangunan indah dan pohon rindang di Bandung, seputaran Braga misalnya, atau kampus ITB, atau Dago, jalan Aceh, dll. Hmm, sesuai harapan lah, awalnya. Namun kenapa pemandangan itu hanya seluas beberapa hektar di area pusat kota saja? agak keluar dikit ke daear sub urban, pemandangan tersebut tidak lagi kujumpai.

Sebaliknya, pohon yang jarang, got yang menggenang, kemacetan tak karuan, polusi tak terhindarkan, panas cuaca menyerang; dan yang paling menonjol adalah JALAN yang sama sekali tidak membuat pemakainya NYAMAN. What an awful thing!

Suatu malam ketika aku merenungi nasib jalan di Bandung bersama pamanku, beliau berkata "Banyak mobil mewah di Bandung ini, berplat D, satu rumah rata-rata dua mobil. Kalau masing-masing mobil memberi pajak satu juta misalnya dikalikan mobil yang ada, berapa penghasilan daerah Jabar dari Bandung sendiri?"

Bermilyar-milyar seharusnya!

Trus, bagaimana bisa jalan-jalan di bandung bernasib begitu malang? Kemana larinya pajak di atas?

Ah aku jadi takut berprasangka buruk.

Jika pajak itu benar-benar dialirkan untuk pernaikan jalan saja, berapa rupiah lagi yang bisa didapat dari investasi itu? berapa duit bisa disisihkan untuk membiayai pembersihan got, penanaman pohon, atau pembangunan taman guna mencegah global warming. Berapa dana yang terkumpul untuk membuat masyarakat Bandung makin sejahtera?

Pamanku kembali berkata "Yogya aja yang penghasilannya tidak sebanyak Bandung, jalannya mulus sampai pelosok dan taman dibangun dimana-mana, kenapa Bandung pinggiran ini, rasanya lama sekali berkembang?"

Hanya sebuah renungan diri.

*1