Perhatianku tertuju pada kamar orang tuaku. Belum pernah aku melihat pancaran cahaya yang begitu terang berkilau. Cahaya lampu tak mungkin bisa seperti ini, begitu sejuk, namun bersinar terang. Pikir ku sejenak, akupun melangkah untuk mencari tau sumber cahaya itu. Hingga kudapati ruangan yang begitu luas seolah tak berujung. Kamar orang tuaku jelas tak mungkin seluas ini. Semakin ku melangkah masuk, cahaya itu semakin lembut terpancar. Hingga kudapati sosok wanita yang sepertinya tak asing di mataku. Beberapa bagian tubuhnya tampak basah, bekas sisa² air wudhu.
Ya ... sepertinya wanita ini baru selesai mengambil wudhu. Namun aku tak bisa melihat wajahnya yang masih terhalang oleh bias² cahaya.
Wanita itupun mengambil mukena yang tergeletak di atas sajadah, dan segera mengenakannya. Iapun membelakangiku, dan menghadap kiblat tuk kemudian bersiap untuk sholat. Postur tubuhnya makin tak asing bagiku. ingatanku dgn postur tubuh ini begitu kuat. Akupun melangkah semakin dekat untuk mencari tau siapakah yang ada di hadapanku ini. Tampak sosok pria yang tak asing bagiku berada didekatnya. Sosok itu ternyata adalah ayahku. Raut wajahku yang bertanya² terbaca olehnya. Ayahku mendekati wanita, lalu menahan wanita itu untuk sejenak menemuiku, sebelum ia memulai sholat. Ayahkupun berkata : " Anakmu ... Rahman ingin bertemu ... " Aku kaget mendengar ucapan itu. Aku tak percaya dengan apa yang ku dengar. Wanita itupun menoleh. Subhanallah, raut itu tak asing buatku. Pancaran cahaya lembut disekitarnya berangsur memudar sehingga aku bisa melihat sosoknya secara utuh.
Batinku berucap ... : " Ibu ..... aku pasti bermimpi. Kau telah lama wafat, lebih dari setahun yang lalu". Aku berusaha menahan rasa haruku dan tetap terpaku ditempat aku berdiri. Aku tak percaya dengan apa yg kulihat di hadapanku. Wanita itu hanya tersenyum, begitu lembut ... wajahnya yang teduh mampu mengobati rasa rinduku yang teramat sangat pada ibuku.
Ibuku melangkah mendekatiku, tetap dengan senyumnya yang indah... Tanpa sebait katapun terucap ....
Beliau lalu mengulurkan tangannya, akupun meraih tanganya dan ku cium tangannya dengan penuh rasa Takdzim, tanda penghormatan dan kecintaanku pada beliau. Tangannya begitu hangat. Tangan yang pernah membelaiku dengan mesra, tangan yang pernah menggendongku dengan kuat, tangan yang pernah menyambung hidupku dengan rezeki yang diberikanNya untukku melalui suapan jarinya yang lembut.
Tangan itu, masih dengan kerut tanda dimakan usia dan kelelahan. Aku kembali menatapnya, wajah yang selama ini ku rindukan berada di hadapanku ...
Batinku kembali berkata : Ibu .... bicaralah, aku rindu dengan suaramu ... katakanlah, walau sedikit saja ... Bicaralah .... aku tak mampu mengartikan senyummu itu ... aku tak mampu mengartikan tatapan penuh kasihmu itu ...
Ku mohon ibu ... bicaralah .... Beliau kemudian mengakhiri senyumnya, dan kemudian berbalik membelakangiku. Lalu beliau memulai sholatnya ...
Akupun terbangun .... aku terbangun dari mimpi indahku. Rupanya aku tertidur dikamar sholat rumahku, setelah sholat subuh tadi mataku begitu berat hingga aku tak sempat wirid dan dzikir karena tak kuat menahan kantuk.
Ibu, aku merindukanmu ... tunggulah aku disana . Semoga Allah kelak mempertemukan kita di tempat terbaik yang Dia Anugerahkan untuk kita semua. Bersama kekasih dan suri tauladan kita, Rasulullah SAW, beserta keluarga, sahabat, dan para orang² sholeh ... Amin Ya Rabb ... -------------------------------------------------------------- Apabila anak Adam wafat putuslah amalnya kecuali tiga yaitu sodaqoh jariyah, pengajaran dan penyebaran ilmu yang dimanfaatkannya untuk orang lain, dan anak yang mendoakannya. (HR. Muslim)
Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo
“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” Robbirhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." ” [Al Israa’:24]
|