|
|
|
Kulihat sang pujaan Hati .. Datang melangkah tuk menghampiri ......
The Diary Of FathulRahman |
2010/02/23 18:18
|
|
|
Perhatianku tertuju pada kamar orang tuaku. Belum pernah aku melihat pancaran cahaya yang begitu terang berkilau. Cahaya lampu tak mungkin bisa seperti ini, begitu sejuk, namun bersinar terang. Pikir ku sejenak, akupun melangkah untuk mencari tau sumber cahaya itu. Hingga kudapati ruangan yang begitu luas seolah tak berujung. Kamar orang tuaku jelas tak mungkin seluas ini. Semakin ku melangkah masuk, cahaya itu semakin lembut terpancar. Hingga kudapati sosok wanita yang sepertinya tak asing di mataku. Beberapa bagian tubuhnya tampak basah, bekas sisa² air wudhu.
Ya ... sepertinya wanita ini baru selesai mengambil wudhu. Namun aku tak bisa melihat wajahnya yang masih terhalang oleh bias² cahaya.
Wanita itupun mengambil mukena yang tergeletak di atas sajadah, dan segera mengenakannya. Iapun membelakangiku, dan menghadap kiblat tuk kemudian bersiap untuk sholat. Postur tubuhnya makin tak asing bagiku. ingatanku dgn postur tubuh ini begitu kuat. Akupun melangkah semakin dekat untuk mencari tau siapakah yang ada di hadapanku ini. Tampak sosok pria yang tak asing bagiku berada didekatnya. Sosok itu ternyata adalah ayahku. Raut wajahku yang bertanya² terbaca olehnya. Ayahku mendekati wanita, lalu menahan wanita itu untuk sejenak menemuiku, sebelum ia memulai sholat. Ayahkupun berkata : " Anakmu ... Rahman ingin bertemu ... " Aku kaget mendengar ucapan itu. Aku tak percaya dengan apa yang ku dengar. Wanita itupun menoleh. Subhanallah, raut itu tak asing buatku. Pancaran cahaya lembut disekitarnya berangsur memudar sehingga aku bisa melihat sosoknya secara utuh.
Batinku berucap ... : " Ibu ..... aku pasti bermimpi. Kau telah lama wafat, lebih dari setahun yang lalu". Aku berusaha menahan rasa haruku dan tetap terpaku ditempat aku berdiri. Aku tak percaya dengan apa yg kulihat di hadapanku. Wanita itu hanya tersenyum, begitu lembut ... wajahnya yang teduh mampu mengobati rasa rinduku yang teramat sangat pada ibuku.
Ibuku melangkah mendekatiku, tetap dengan senyumnya yang indah... Tanpa sebait katapun terucap ....
Beliau lalu mengulurkan tangannya, akupun meraih tanganya dan ku cium tangannya dengan penuh rasa Takdzim, tanda penghormatan dan kecintaanku pada beliau. Tangannya begitu hangat. Tangan yang pernah membelaiku dengan mesra, tangan yang pernah menggendongku dengan kuat, tangan yang pernah menyambung hidupku dengan rezeki yang diberikanNya untukku melalui suapan jarinya yang lembut.
Tangan itu, masih dengan kerut tanda dimakan usia dan kelelahan. Aku kembali menatapnya, wajah yang selama ini ku rindukan berada di hadapanku ...
Batinku kembali berkata : Ibu .... bicaralah, aku rindu dengan suaramu ... katakanlah, walau sedikit saja ... Bicaralah .... aku tak mampu mengartikan senyummu itu ... aku tak mampu mengartikan tatapan penuh kasihmu itu ...
Ku mohon ibu ... bicaralah .... Beliau kemudian mengakhiri senyumnya, dan kemudian berbalik membelakangiku. Lalu beliau memulai sholatnya ...
Akupun terbangun .... aku terbangun dari mimpi indahku. Rupanya aku tertidur dikamar sholat rumahku, setelah sholat subuh tadi mataku begitu berat hingga aku tak sempat wirid dan dzikir karena tak kuat menahan kantuk.
Ibu, aku merindukanmu ... tunggulah aku disana . Semoga Allah kelak mempertemukan kita di tempat terbaik yang Dia Anugerahkan untuk kita semua. Bersama kekasih dan suri tauladan kita, Rasulullah SAW, beserta keluarga, sahabat, dan para orang² sholeh ... Amin Ya Rabb ... -------------------------------------------------------------- Apabila anak Adam wafat putuslah amalnya kecuali tiga yaitu sodaqoh jariyah, pengajaran dan penyebaran ilmu yang dimanfaatkannya untuk orang lain, dan anak yang mendoakannya. (HR. Muslim)
Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo
“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” Robbirhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." ” [Al Israa’:24]
|
|
|
| Trackback Address :: http://www.blogboleh.com/fathulrahman/trackback/57753 |
|
|
|
|
|
Sebuah Pinta Seorang Istri
The Diary Of FathulRahman |
2010/02/09 11:55
|
|
|
HP-ku berdering, waktu menunjukkan pukul 10.30 pagi. Ternyata dari teman lama yang teramat sangat jarang komunikasi denganku.Firasatku mengatakan bahwa ini mungkin hal penting. Akupun meluangkan waktuku untuk menerima telpon darinya dan berusaha untuk tetap sambil mengerjakan pekerjaanku yg lumayan padat pagi itu.
Sebut sj Akhwat X, yg singkat cerita bahwa dia curhat padaku tentang suaminya yg jg merupakan kawanku juga.
Suaminya yg mulai "sibuk" dgn aktivitasnya bersama teman²nya hingga istrinya merasa bahwa suaminya kurang memperhatikannya. Suaminya mgkn lupa bahwa kini mereka sdh menikah, hingga tidak mengurangi kepadatan aktifitas hobbynya bersama teman²nya. Aku memahami kondisi saudariku itu. Sebagai istri, tentu dia ingin mendapatkan perhatian lebih. Terlebih setelah ujian yang menimpanya, sehingga ada perasaan takut dan ingin dijaga oleh suaminya.
Aku sempat bingung untuk menenangkan hatinya, krn aku bukanlah orang yang berpengalaman dalam hal rumah tangga.
Setidaknya aku berusaha untuk menghiburnya dan menjadi pendengar yang baik. Andai aku bisa menyampaikan hal ini pada sahabatku itu, mgkn itu akan lebih baik. Tp istrinya melarangku, krn khawatir suaminya akan marah padanya. Meski dia berharap akulah yg bisa menasehatinya, karena aku dan suaminya adlah sahabat. Memang tidak mudah mendamaikan 2 orang sahabatku yang akhirnya berkomitmen untuk menikah.
Setelah 'putar otak', aku rasa cara inilah yang paling bisa kulakukan Semoga saja kedua sahabatku itu membaca tulisan yang ku kutip ini, sehingga komunikasi keduanya bisa mencair dan kembali hangat oleh cinta mereka, amin :) ******************************************************************************************************************** Sebuah Pinta Seorang Istri
Kadangkala mungkin tergambar di benak pikiranmu, bahwa engkau telah salah ketika memilih diriku menjadi pasanganmu. Kadang kala ia mengganggu dalam pergaulan sehari-harimu denganku, terkadang ku takut perasaan cintamu berubah menjadi benci, limpahan kasih sayangmu menjelma menjadi kemarahan, dan ketenangan pun berubah menjadi ketegangan. Suamiku….. Di saat engkau masih sibuk dengan pekerjaan yang tak kunjung selesai, tak jarang aku kau abaikan. Waktu di rumah pun, kadang ku ikhlaskan demi masa depanmu. Bukankah engkau tahu aku pun butuh perhatian darimu. Terkadang ku cari perhatian itu, namun terlihat salah dipandanganmu. Kalaulah itu terlihat salah, semoga engkau bisa melihat kebaikanku yang lain. Bukankah Allah SWT yang mempertemukan dan menyatukan hati kita berpesan, “Dan pergaulilah mereka (isterimu) dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” [QS: An Nisa' 19]. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang kita cintai pun berpesan, “Sempurnanya iman seseorang mukmin adalah mereka yang baik akhlaknya, dan yang terbaik (pergaulannya) dengan istri-istri mereka.” Jika engkau melihat kekurangan pada diriku, ingatlah kembali pesan beliau, Jangan membenci seorang mukmin (laki-laki) pada mukminat (perempuan) jika ia tidak suka suatu kelakuannya pasti ada juga kelakuan lainnya yang ia sukai. (HR. Muslim) Sadarkah engkau bahwa tiada manusia di dunia ini yang sempurna segalanya? Bukankah engkau tahu bahwa hanyalah Alllah yang Maha Sempurna Sadarkah engkau bahwa tiada manusia di dunia ini yang sempurna segalanya? Bukankah engkau tahu bahwa hanyalah Alllah yang Maha Sempurna. Tidaklah sepatutnya bila kau hanya menghitung-hitung kekurangan pasangan hidupmu, sedangkan engkau sendiri tak pernah sekalipun menghitung kekurangan dan kesalahanmu. Janganlah engkau mencari-cari selalu kesalahanku, padahal aku telah taat kepadamu. Saat diriku rela pergi bersama dirimu, kutinggalkan orangtua dan sanak saudaraku, ku ingin engkaulah yang mengisi kekosongan hatiku. Naungilah diriku dengan kasih sayang, dan senyuman darimu. Ku ingat pula saat aku ragu memilih siapa pendampingku, ketakwaan yang terlihat dalam keseharianmu-lah yang mempesona diriku. Bukankah sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Ali bin Abi Tholib saat ditanya oleh seorang, “Sesungguhnya aku mempunyai seorang anak perempuan, dengan siapakah sepatutnya aku nikahkan dia?” Ali r.a. pun menjawab, “Kawinkanlah dia dengan lelaki yang bertakwa kepada Allah, sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika ia tidak menyukainya maka dia tidak akan menzaliminya.” Ku harap engkaulah laki-laki itu, duhai suamiku. Saat terjadi kesalahan yang tak sengaja ku lakukan, mungkin saat itu engkau mendambakan diriku sebagai istri tanpa kekurangan dan kelemahan, sadarlah, sesungguhnya egois telah menguasai dirimu. Perbaikilah kekurangan diriku dengan lemah lembut, janganlah kasar terhadapku. Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengajarkan kepada dirimu, saat Muawiah bin Ubaidah bertanya kepada beliau tentang tanggungjawab suami terhadap istri, beliaupun menjawab, “Dia memberinya makan ketika ia makan, dan memberinya pakaian ketika dia berpakaian.” Janganlah engkau keras terhadapku, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pun tak pernah berbuat kasar terhadap istri-istrinya. Duhai Suamiku… Tahukah engkau anugerah yang akan engkau terima dari Allah di akhirat kelak? Tahukah engkau pula balasan yang akan dianugerahkan kepada suami-suami yang berlaku baik terhadap istri-istri mereka? Renungkanlah bahwa, “Mereka yang berlaku adil, kelak di hari kiamat akan bertahta di singgasana yang terbuat dari cahaya. Mereka adalah orang yang berlaku adil ketika menghukum, dan adil terhadap istri-istri mereka serta orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya.” [HR Muslim]. Kudoakan bahwa engkaulah yang kelak salah satu yang menempati singgasana tersebut, dan aku adalah permaisuri di istanamu. Jika engkau ada waktu ajarkanlah diriku dengan ilmu yang telah Allah berikan kepadamu. Apabila engkau sibuk, maka biarkan aku menuntut ilmu, namun tak akan kulupakan tanggungjawabku, sehingga kelak diriku dapat menjadi sekolah buat putra-putrimu. Bukankah seorang ibu adalah madrasah ilmu pertama buat putra-putrinya? Semoga engkau selalu mendampingiku dalam mendidik putra-putri kita dan bertakwa kepada Allah. Wahai Allah,
Engkau-lah saksi ikatan hati ini…
Aku telah jatuh cinta kepada lelaki pasangan hidup ku,
jadikanlah cinta ku pada suamiku ini sebagai penambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.
Namun, kumohon pula, jagalah cintaku ini agar tidak melebihi cintaku kepada-Mu,
hingga aku tidak terjatuh pada jurang cinta yang semu,
jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu. Jika ia rindu,
jadikanlah rindu syahid di jalan-Mu lebih ia rindukan daripada kerinduannya terhadapku,
jadikan pula kerinduan terhadapku tidak melupakan kerinduannya terhadap surga-Mu.
Bila cintaku padanya telah mengalahkan cintaku kepada-Mu,
ingatkanlah diriku, jangan Engkau biarkan aku tertatih kemudian tergapai-gapai merengkuh cinta-Mu. Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-Mu,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kokohkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.
Amin ya rabbal alamin. Source: http://www.voa-islam.net/muslimah/artikel/2009/12/01/1881/sebuah-pinta-seorang-istri/ http://www.blogboleh.com/fathulrahman
|
|
|
| Trackback Address :: http://www.blogboleh.com/fathulrahman/trackback/57749 |
|
|
|
|
|
Ketika Cinta Bertasbih - (eps.Pernikahan Suci)
The Diary Of FathulRahman |
2009/07/12 19:46
|
|
|
Waktu telah menunjukkan pukul 3 dini hari. Rasanya mata ini masih terasa berat untuk bangun. Baru pkl 1 pagi aku bisa memejamkan mata membantu mempersiapkan pernikahan kakakku. Aku bergegas mandi agar badanku terasa segar, dan segera bersiap untuk mempersiapkan semua sebelum kami berangkat ke Sukabumi tempat akad dan resepsi berlangsung. Maklum saja, musim liburan sekolah ini sangat rentan untuk terjebak macet. Antisipasi agar semua bisa tepat waktu dan mempelai pria tidak terjebak macet, berangkat lebih awal adalah solusi terbaik.
Doa pun mengiringi perjalanan kami, menembus embun dan dinginnya pagi. Subhanallah ..... " Embun di pagi buta .. menebarkan bau asa. Detik demi detik ku hitung .. inikah saat ku pergi .... " Adzan Subuh berkumandang diseparuh perjalanan. Doa kembali mengalun dalam lisan kami setelah 2 rakaat kami tunaikan dengan penuh pengharapan. Alhamdulillah .... akhirnya kami sampai ditujuan pkl 7 pagi. Disambut Ayah mempelai wanita dengan penuh rasa lega.
Kamipun beristirahat sejenak di rumah tetangga sekaligus sahabat dari ayah mempelai wanita, sambil mempersiapkan diri dan menunggu rombongan keluarga kami yang baru akan berangkat pkl 7 pagi. Pkl 09:45, 3 kendaraan keluarga kami dari jakarta nampak beriringan. Masih tersisa 15 menit untuk mempersiapkan rombongan keluarga sebelum memasuki rumah mempelai wanita.
Upacara dengan adat sunda menyambut kami, diiringi musik dan tarian tradisional bumi pasundan. **** Ijab Qabul **** Semua seakan menahan napasnya, sesaat setelah Wali nikah mengucapkan Ijab. Semua mata tertuju pada mempelai pria, menanti ucap kabul yang mengalir dengan mantap tanda kesungguhan hati untuk memenuhi separuh agama, yaitu pernikahan. "saya terima nikah dan kawinnya fulan binti fulan dengan mas kawin selaksa cinta dan cincin berlambang janji setia ... TUNAI ..." Bergetar suara mempelai wanita ketika berucap dalam hatinya mengikuti suara sang mempelai pria. Wajah kekasih hati itu makin cantik dengan pulasan bedak dan letik mata sedikit basah karena gelegak jiwa. Sang Penghulu bertanya kepada wali dan para saksi :
"Sah...??"
wali dan saksi menjawab cepat : "Sah...!" sambil mengangguk mantap "Alhamdulillahi robbil 'alamin...."
"barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khairin "
- Semoga Allah membarakahi kalian dan barakah Allah tercurah atas kalian dan semoga Allah mengumpulkan kalian bersama dalam kebaikan.
Doa penuh haru pun mengalir diringi mata-mata yang berkaca-kaca tanda bahagia semerbak begitu rupa.
Mempelai wanita mencium punggung tangan suami tampannya yang akan dijaganya seluruh kehormatannya dengan sepenuh daya.
Mempelai pria menatap mempelai wanita dengan penuh kelembutan. Kan dijaga pujaan hatinya dengan seluruh jiwa dan raga.
" oh Tuhan ku cinta dia... berikanlah aku hidup...takkan ku sakiti dia... hukum aku bila terjadi "
Wali dan para saksi pun tersenyum penuh rasa lega
Allahu Akbar ........ Langit dan semesta seakan bertasbih ...
Subhanallah .... walhamdulillah .... walaa ilaaha illallah .. Wallahu akbar
Seluruh warnanya berpelangi merona
Ikatan suci berpadu sudah, disaksikan sebagian penduduk bumi & langit semesta Kedua mempelai bersimpuh dikaki ayah bunda tercinta, disambut pelukan hangat dan gemuruh tangis bercampur segala rasa. Wahai pasangan serasi yang sedang bersemu pipinya...
Jagalah bersemayamnya cinta diuntaian ridhoNYA.... "mereka (para) istri adalah pakaian bagimu, dan kamu (para) suami adalah pakaian bagi mereka..."( QS : 2 - Al Baqarah : 187 ) "“Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka Allah memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala suaminya merengkuh telapak tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela jemarinya” (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar- Rafi’dari Abu Sa’id Alkhudzri r.a) "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. " (QS. Ar-Ruum: 21)
"senandungku hanya untuk cinta ...tirakatku hanya untuk Engkau ( Ya Allah )...tiada dusta sumpah ku cinta,sampai ku menutup mata ....
cintaku sampai ku menutup mata "
*************************************************************** Suasana sakral itu berlalu, bersama rasa haru dan bahagia. Tausiyah singkat saat itu mengingatkan kami pada Almarhumah ibu, Bidadari hati yang selalu menjadi inspirasi kami untuk berjuang untuk bertahan hidup. Sulit bagiku menahan air mata yang mulai menggenangi mataku, karena aku pun harus memenuhi tugasku untuk mengabadikan moment indah seumur hidup itu. Kami percaya, Allah memperlihatkan pada almarhumah moment sakral salah satu anaknya itu.
Aku percaya, almarhumah tersenyum bahagia di alam sana.
Aku percaya, akan tiba bagiku juga untuk memenuhi separuh agamaku.
Hingga tiba saatnya bagiku untuk mempertanggung jawabkan semua amal ibadahku pada Pemilik Jagat Semesta ini, Allah SWT.
Semoga Allah mempertemukanku pada junjunganku, suri teladanku, Rasulullah SAW. Bersama keluarga, para sahabat, serta umat Rasulullah yang sholeh. Termasuk denganmu .. bunda ... " oh bunda, ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku " Terinspirasi oleh pernikahan kakakku Muhammad Fachmi Alwi dan Anita supriyatna.
11 Juli 2009 M
18 Rajab 1430H
****************************************************************
Sampai Menutup Mata
Filed under: Ost Heart
by Acha Septriasa embun di pagi buta
menebarkan bau asa
detik demi detik ku hitung
inikah saat ku pergi oh Tuhan ku cinta dia
berikanlah aku hidup
takkan ku sakiti dia
hukum aku bila terjadi reff:
aku tak mudah mencintai
aku tak mudah mengaku ku cinta
aku tak mudah mengatakan
aku jatuh cinta senandungku hanya untuk cinta
tirakatku hanya untuk Engkau
tiada dusta sumpah ku cinta
sampai ku menutup mata
cintaku sampai ku menutup mata oh Tuhan ku cinta dia
berikanlah aku hidup
takkan ku sakiti dia
hukum aku bila terjadi
|
|
|
| Trackback Address :: http://www.blogboleh.com/fathulrahman/trackback/57718 |
|
|
|
|
|
Bukan Cinta Biasa ...
The Diary Of FathulRahman |
2009/05/11 12:44
|
|
|
Malam itu aku terbangun, aku tertidur disofa depan tv yang ternyata masih menyala.
Akupun bergegas bangkit dan mencari remote tv.
Belum penuh aku bangkit untuk duduk dan mengumpulkan anganku, tampak ayah masih duduk di depan tv dan menatap acara tv dengan haru.
Matanya sembab, tak kuasa menahan derasnya air mata yang mengalir, tanpa suara, tanpa kata.
Tv yang sedari tadi menyala, ternyata memutar lagu-lagu favorit ayah dan Almarhumah.
Hatiku bergetar, ayah yang sedemikian tangguh ternyata begitu lembut hatinya.
Raut wajah yang sendu, dengan kerutan-kerutan beban hidup menghiasi wajahnya yang bersih.
Sulit bagiku untuk tidak menangis, karena aku belum sekuat ayah.
Aku berusaha untuk menahannya dan menyapa ayah :" Ayah belum tidur ?, beliau hanya menjawab singkat sambil menahan suaranya agar tidak tampak serak " belum.. "
"Allahu Akhar ... hati ini rasanya begitu pilu. Ya Allah, ampuni kami yang bersedih. Ini bukanlah ratapan kami atas ujianmu, tapi inilah luapan cinta kami terhadap wanita yang kami cinta Ya Rabb. Kekasihmu yang telah Engkau panggil lebih dulu. "
Aku kembali merebahkan kepalaku dan berdoa, agar ayah dan kami diberikan kekuatan untuk tidak bersedih ...Cintai ibu dan ayahmu selagi nafasmu berhembus, selagi darahmu masih mengalir, dan selagi matahari masih terbit dari arah timur ..

Afgan Bukan cinta biasa kali ini kusadari
aku telah jatuh cinta
dari hatiku terdalam
sungguh, aku cinta padamu.. reff : cintaku bukanlah cinta biasa
jika kamu yang memiliki
dan kamu yang temaniku seumur hidupku trimalah pengakuanku
percayalah kepadaku
semua ini kulakukan karna kamu memang untukku
|
|
|
| Trackback Address :: http://www.blogboleh.com/fathulrahman/trackback/57714 |
|
|
|
|
|
Teruntukmu Bunda
The Diary Of FathulRahman |
2008/12/22 14:27
|
|
|
| - Teruntukmu Bunda -
SITI FATIMAH
Binti H Abdul Ghani
28 Agustus 1957
13 Desember 2008
Banyak orang menghabiskan waktunya untuk keliling dunia, tapi aku hanya ingin dirumah agar bisa selalu bersamamu. Karena aku tak mau jauh darimu Bunda.
Banyak orang beristirahat di hotel berbintang untuk sekedar melepas segala lelah dan penat, namun aku lebih suka berbaring di pangkuanmu Bunda.
Sungguh, tiada yang lebih membuatku nyaman selain ketika kau membelai lembut kepalaku dalam pangkuanmu.
Banyak orang menyalurkan hobinya ketika akhir pekan tiba, tapi aku lebih suka belajar memasak, mencuci pakaian, dan bersendau gurau bersamamu Bunda, di temani ayah, adik dan kakak.
Bundaku yang baik.. Kau adalah cinta pertama dalam hidupku, terima kasih karena telah mencintaiku.
Bundaku yang cantik.. Maafkan aku karena belum banyak yang bisa ku beri untukmu. Masih banyak keinginanmu yang belum ku penuhi.
Kekasihku.. Maafkan aku bila ucapanku pernah membuat murung, terluka, bahkan sakit hati.
Bunda .. Selama aku masih bernapas, aku akan selalu berdoa untukmu. Karena ku yakin, kau telah bahagia di alam sana. Berjumpa dengan Kekasih Sejati yang jauh lebih mencintaimu.
Bunda .. Aku tidak dapat menahanmu untuk tidak pergi dariku. Sungguh karena aku tidak memiliki daya untuk menahanmu, karena Kekasih Sejatimu lebih berhak atasmu.
Bunda.. Terima kasih atas segala cinta dan air matamu yang selalu mengalir untukku.
Bundaku tercinta .. aku mencintaimu karena Allah.
Ya Allah .. Aku hanya manusia yang penuh dosa, yang selalu berharap akan ampunan-Mu
Ya Allah .. Ampuni aku yang bersedih setelah kepergian Ibuku. Seolah aku bersedih meratapi kekalahanku. Bukan aku tidak ikhlas dengan ketentuan-Mu, bukan aku tidak menerima takdir-Mu, namun sungguh karena aku begitu mencintai hamba-Mu yang telah melahirkanku.
Ya Allah .. Terima kasihku karena Engkau menitipkanku pada seorang wanita yang begitu lembut hatinya, begitu indah cintanya, begitu patuh pada suaminya, dan begitu mencintai anak dan keluarganya.
Ya Allah .. Ampuni Ayah dan saudara-saudariku yang bersedih ketika ibuku wafat. Sungguh kami tidak bermaksud untuk meratapi semua ini.
Ya Allah .. Ku Mohon dengan sangat kepada-Mu. Sayangilah Ibuku melebihi sayang beliau kepada kami. Terangi dan lapangkanlah alam kuburnya dengan Rahmat-Mu Ya Rabb.
Ya Allah .. Terima kasih atas segala yang Engkau berikan pada kami. Nikmat-Mu begitu indah, ujian-Mu begitu indah, takdir-Mu begitu indah.
Ya Allah .. Memuja-Mu begitu Indah. Ku memohon pada-MU, sampaikan salamku pada Ibuku untuk tidak mencemaskan kami. Dengan Ridho-Mu, kami akan lanjutkan hidup kami, hingga Engkau pertemukan kami dengan orang-orang yang kami cintai di waktu yang telah Engkau tentukan untuk kami.
Ya Allah .. Sampaikan salamku pada Ibuku bahwa ayah begitu mencintainya, kakak dan adikku, begitu juga denganku.
Ya Allah .. Ku bermunajah kepada-Mu dalam setiap doaku. Tempatkan ibuku di sisi terbaik-MU
Ya Allah .. Perpisahan kami dengan bunda adalah awal dari pertemuan Bunda dengan-MU. Maka kuatkan kami untuk menerimanya. Karena pertemuan dengan-Mu begitu beliau inginkan, seperti halnya beliau menginginkan perpisahan yang indah bersama kami.
Ya Allah .. Kumohonkan pada-MU. Titip ibuku Ya Allah, sebagaimana Kau titipkan aku pada ibuku.
Ya Allah .. Aku percaya bahwa Engkau selalu ada untuku, untuk hamba-hamba-Mu. Kumohon kabulkan pintaku
"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." [Al Israa’:24]
Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo
“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil."
Seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?" Nabi Saw menjawab, "ibumu...ibumu...ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu." (Mutafaq'alaih).
Memperingati Hari Ibu ( 22 desember ) |
|
|
| Trackback Address :: http://www.blogboleh.com/fathulrahman/trackback/57699 |
|
|
|
|
|
Mungkin masih ada mata air disini
The Diary Of FathulRahman |
2004/06/29 20:23
|
|
|
Mungkin masih ada mata air disini ..
Dulu aku mudah menemukan bulan dan bayanganku diatasnya. hingga Danau ini kering dan melenyapkan bayanganku.
Tanganku patah, bibirku pecah, hanya mimpi ingin berlayar.
selain bayangan diantara pohon, tidak ada yg menghiburku, dan rasa lelah mengenang masa lalu yg tinggal ceruk kosong.
ada benih tersiram dimasa laluku.
kelam mengancam gelisah, wajah biru yg menunduk ketika itu..
Larut malam hanya gerimis, dan di sepanjang jalan .. yg kulihat hanyalah diriku yg runtuh.
kubangun kembali lorong yg pengab dan panjang .. namun sia-sia... tidak ada tanda - tanda, hingga kubaringkan kenangan yg lesu.
tak kuduga kau terjaga ketika merebak musim yg berkilau megah
hingga angin mengirimkan pasangan lelaki perempuan ke taman itu .. hingga kehampaan di hempaskan
Akulah yg kau lihat dalam tidurmu, berlarian, terbang, tersenyum, bergandenghan tangan ... sesuatu yg lama kau idamkan ... tapi lupa kau sapa
Akulah yg suatu malam membangunkanmu dgn sapaan halus ..
yang membuatmu teringat pada janji yg pernah kau tinggalkan..
kaulah ... kaulah... kaulah orangnya |
|
|
| Trackback Address :: http://www.blogboleh.com/fathulrahman/trackback/12790 |
|
|
|
|
| Setiap kita memancarkan cahaya, dan menerangi dunia dgn cinta
fathulrahman2003@yahoo.com |
|
 |
The Diary Of FathulRahman (6) |
|
|
|
<<
2012/05
>>
| S |
M |
T |
W |
T |
F |
S |
|
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
| 6 |
7 |
8 |
9 |
10 |
11 |
12 |
| 13 |
14 |
15 |
16 |
17 |
18 |
19 |
| 20 |
21 |
22 |
23 |
24 |
25 |
26 |
| 27 |
28 |
29 |
30 |
31 |
|
|
|
|
Total : 31028
Today : 7
Yesterday : 12 |
|
|