|
|
|
what kind of person you are?
~ Dini's Journal ~ |
2007/05/31 19:49
|
|
|
Sayamerasa sangat beruntung memiliki banyakteman dengan berbagai karakter. Dengan kehadiran mereka, saya selalubelajar banyak hal. Termasuk diantaranya belajar merasa banggamenjadi diri sendiri. Walaupun beberapa orang ada yang bilang kalosaya ini menganut paham narcisme (termasuk pacar saya), yang pastijujur saja, memiliki rasa bangga yang utuh terhadap diri sendiricukup sulit lho! Dan, sekedar info, saya narcis kalo lagi down. Inisalah satu trik ampuh untuk mengembalikan rasa PD. Hehehe… Ok, balik ke masalahsebelumnya (soal teman-teman saya yg banyak itu). Melihat darikondisi demografis tempat tersebarnya seluruh teman-teman saya (baikyang ada di pelosok pulau indonesia atau pun di luar nergri), satuhal yang sangat pasti, saya menemukan beberapa pola karakter yangsama diantara mereka. Yangpertama, mereka yang punya tujuan hidupjelas tetapi selalu playing save. Mereka ini adalah orang-orang yangsangat study oriented dan selalu hidup di atas jalur yang aman. Yangpasti mereka selalu berprestasi. Selalu jadi anak baik. Danbakalan stress kalo apa yang mereka targetkan tidak tercapai. Yang ke dua, mereka yangtidak punya tujuan hidup tetapi always playing save. Mereka yangseperti ini saya sebut sebagai para follower tipe pertama. Karenabiasanya, di mana ada si tipe pertama, pasti disitulah si tipe ke duaini hidup berparasit. Yang sangat terlihat jelas dari tipe kedua ini adalah mereka tidak pernah mengalami masalah secara akademik.Tetapi kelemahan mereka cukup dominant dan ini dia yang buat sayajadi ilfeel berteman dgn org tipe seperti ini, yaitu; mereka tidakbisa hidup mandiri sebagai diri sendiri dan selalu bergantung samaorang lain. Dan mereka juga bakalan stress kalo dijauhin samateman-teman yg dianggap berpotensi (baik secara akademik, financial,fisik, etc). O iya, satu lagi… karena tipe ini selalu hidupparasit, mereka punya satu keunggulan yg saya rasa cukup sulitdipraktekan, yaitu bagaimana hidup menjadi penjilat sejati. Pokoknyayg kelihatan banget paling sering ngejilat dosen di kampus, ya...mereka2 ini. Yang ke tiga, mereka yangpunya tujuan hidup jelas tetapi tidak pernah playing save. Sayasebenarnya sangat tertarik dengan tipe orang seperti ini. Karena tipeseperti ini punya ambisi yang beragam, mereka punya banyak strategiyang sudah didapatkan dari berbagai pengalaman, dan yang pasti merekapecinta tantangan sejati. Tentunya mereka bukan orang-orang yanghidup study oriented at the school doank. Buatmereka, belajar itu bisa di mana saja. Termasuk di tempat dugem. Well...berbagi pengalaman. Waktu zaman SMA saya pernah pacaran dgn si tipenomer tiga (maaf pacarku… yg saya maksud bukan kamu. abisnya dulukamu itu cupu banget seh. eh, skarang juga denk! huehuehue...).mantan saya ini orangnya pinter tapi buandelnya naudzubillah. Dia inisalah satu pembuat onar di sekolah saya. Tapi anehnya nilaiakademiknya baek-baek aja tuh. Walaupun di kelas nih anak tidur kayakkebo, tapi pas penerimaan raport akhir smester dia pasti masukperningkat umum. Biasanya masuk 5 besar gitu deh. Cuman akhirnyamantan saya ini di-drop out juga dari skolah, gara-gara lari dariasrama pas malam taon baru trus ketemu guru di pesta kota. Yeah...saya tahu alasan dia di-DO emang cukup stupid. Please deh... di-DOcuman gara-gara mabal buat taon baruan doank? Sebenarnya ada hal yanglebih penting kenapa mantan saya itu sampe di-DO. Dia sempat berantemsama salah satu guru hanya karena merasa perlu membela diri sampaiakhirnya membuat dia mengeluarkan argument2 bodoh. Adasatu moment yang membuat saya belajar dari mantan saya ini. Sebelumbenar2 keluar dari asrama, dia sempat bilang ke saya kalo masadepannya nggak bakalan stuck cuman gara-gara di-DO dari sekolah saya.Dan, satu tahun kemudian he prove what he’s talkin’ about. Diakuliah di fakultas kedokteran dan sudah menggenggam masa depan cerahdi tangan. Cuman,ada satu bagian tidak enaknya pacaran dengan orang seperti ini.Karena mereka yang bertipe seperti ini biasanya bukan orang-orangyang terbiasa berkomitmen dengan satu cinta. Mereka sangat mencintaitantangan. Pacar satu nggak bakal cukup menantang buat mereka. Tapimungkin saja ini merupakan salah satu daya tarik mereka. Wajar…setiap playboy/playgirl pasti bakal kelihatan keren di matacewek/cowok normal. O iya… soal mantan saya. Terakhir dengan kabar,katanya mantan saya ini udah mulai sedikit belajar berkomitmen dgnsatu cewek. Dan dengar2, ini satu-satunya record dia bisa pacaran (ormaybe TTM-an) cukup lama. Thank God! Saya nggak kebayang gimanajadinya dunia kedokteran kalo manusia playboy yg satu itu nggakinsyaf juga. Dugaan narcis saya, ehmm… maybe he’s learningsomething special from our relationship yang dulu-dulu itu. Coz’dengar2 pacarnya yg skarang adalah pacarnya setelah putus sama saya.Jadi, paling ga dia sedikit berubah jadi cowok baek gara-gara sayajuga donk. huehuehue… atau, mungkin pacarnya yg skarang nggak kayaksaya yang banyak tingkah, cemburuan nggak jelas, rada controlfreak—ini dia sudut pesimis saya mulai angkat bicara. Hahaha… Sekarang yang jadipertanyaan saya, what kind of person you are? Tipe yang pertama, kedua, atau ke tiga? Pesan saya sih simple aja; if you follow the rules(life rules) and playing save, you never get the adventure. Lebihparah lagi kalo lo cuman jadi follower doank dan hidup berparasit-riadi sana-sini. Itu artinya lo hidup nggak ada gunanya. Mending tinggaldi kuburan aja biar nggak ngerepotin orang laen. Huehuehue… Well, saya jadi ingatkata-kata di salah satu iklan pewarna rambut; “kalo bisa jaditrendsetter, kenapa harus jadi follower?”. Jadi, skalian aja youbroke the rules (life rules), get something new, having the realadventure, and you will find something excellent on your ordinarylife. Saya sudah mencobanya.Menjadi si tipe ke-3. And guess what… I feel the world always in myside (walaupun terus terang saja… bumi ini lumayan sering membuatsaya kewalahan menghadapinya). |
|
|
| Trackback Address :: http://www.blogboleh.com/d1ni/trackback/58009 |
|
|
|
|
|
jangan pernah menganggap remeh org laen!
~ Dini's Journal ~ |
2007/05/31 19:41
|
|
|
Adasalah satu pengalaman yang membuat saya tidak pernah menganggapsepeleh siapa pun yang saya kenal di atas bumi ini. Ini pengalamannyata dan membuat saya berpikir banyak hal buruk yang sudah sayaperbuat kepada orang lain. Begini cerintanya... Sebelumnya,perlu diketahui cerita ini bermula waktu saya mengikuti short courseyang diadakan SBTC (syariah banking training centre) beberapa bulanyang lalu. Diantara puluhan peserta short course yang sekelas dengansaya, ada dua peserta yang sangat menarik perhatian semua orang.Tapi, yang jadi masalah, mereka jadi sangat popular bukan karenakeaktifan mereka bertanya ke pemateri atau keaktifan mereka menjawabpertanyaan pemateri. Saya sendiri baru menyadari masalah inibelakangan. Kedua peserta ini memiliki wajah yang sangat identik satudan yang lainnya. Setelah diusut lebih lanjut, ternyata mereka memangkembar. Tapi bukan itu yang diributkan anak-anak sekelas. Karena,ternyata salah satu dari si kembar itu memiliki (maaf) cacat. Keduakakinya (maaf lagi) panjangnya tidak seimbang. Sementara kembarannyayang satu lagi terlihat cantik dan sempurna. Seharusnya,semua perbedaan yang ada di muka bumi ini disyukuri dan tidak perludipermasalahkan. Tapi, yang jadi masalah sekarang, bagaimana kalauperbedaan itu menempatkan kita pada posisi yang kurang beruntung? Memangtidak ada orang yang terlahir sempurna dimuka bumi ini. Tapi, normally setiap orang pasti wants to beperfect. Ketika hadir seseorang yang posisinya selalu menjadibayang-bayang, menjadi pembanding, menjadi si cantik dan memposisikankita sebagai si buruk rupa, apa yang harus kita lakukan? Kalau sayamenjadi si cacat, saya nggak bakalan ikut short course SBTC itu ataupergi ke komunitas mana saja yang di situ ada kembaran saya. Well, kemarin saya barumembuka ulang salah satu buku yang saya beli di acara obral bukubesar2an gramedia malang thn lalu. Melalui buku Duck Soup for theSoul, Swami Beyonanda membuat saya berpikir bahwa; pada dasarnyasetiap hari hidup kita ini sudah ditempa dengan kesulitan. Posisisaya sebagai orang yang terlahir tanpa cacat mungkin tdk lebih baikdari pada orang yang sejak lahir buta dan tuli. Setidaknya merekanggak pernah nonton film bokep, nggak bakal bohong (karena buatbicara aja udah susah), dan nggak pernah kena’ karma gara-garasering salah menyalahgunakan kelebihan-kelebihan yg di kasih Tuhansama mereka. Ada paragraf di halamanpertama di buku Swami yg menurut saya cukup menarik; “Life mayactually be easier than we think. I can already hear you protestingthat life is hardly easy. And I agree that life can easily be hard.But what if I told you that there is a way that life can easily beeasy, and hardly be hard?” Swami benar. Bahwasannyahidup ini bisa saja sulit kalau kita sengaja mempersulit hidup. Dan,bisa juga mudah kalau kita membuatnya mudah. Makanya, lo nggak usahdeh bikin hidup lo jadi susah. Lo nggak usah juga repot-repotmengomentari kekurangan orang lain. Dan, lo nggak perlu melakukanhal-hal yang nggak ada manfaatnya (termasuk ngegosipin orang). Di buku itu Swami jugabilang, life is easier when you laugh. Tapi,jangan menertawakan orang lain lho ya. Tertawakanlah keadaan ketikalo lagi susah. Karena hidup ini kurang lebih sama saja seperti DuckSoup. Duck Soup is similar to chicken soup in its healingpowers. The only difference is, you don’t need a chicken to make aDuck Soup—or, for that matter, a duck. you are the main ingredient in Duck Soup, which is made primarilyfrom your own laughingstock. Each time you laugh, you add to thelaughingstock. Jadi, kurang lebih kalau lo sering ketawa, ya, loseperti memasak Duck Soup—fun, easy, a piece of cake—when you arethe laughingstock! Seharusnya sayamengangukkan kepala, atau mengangkat topi, atau mengacungkan twothumbs, sebagai tanda kehormatan dan rasa salute saya kepada sicacat. Bayangin aja, dia bisa menempatkan dirinya di komunitas kamimeskipun harus bersanding dengan saudara kembarnya yang sempurna.Well, mungkin saja tanpa saya ketahui, si cacat adalah salah satumurid Swami dan saat ini dia sedang menertawakan saya dan parapeserta short course yang lain. Karena saya (dan mungkin beberapateman-teman saya) sebenarnya sangat meragukan kadar mental survivekami jika kami berada di posisinya. Ah... nggak usah banyakomong lagi deh. Sudah saatnya sekarang saya harus tutup mulut danmengakui bahwa si cacat itu lebih baik dari saya. PS. Pesan moral daripengalaman saya; jangan pernah merasa sempurna & menjadikankekurangan orang lain sebagai lelucon. Karena, mungkin sajasebenarnya justru hidup kitalah yang perlu ditertawakan. |
|
|
| Trackback Address :: http://www.blogboleh.com/d1ni/trackback/58008 |
|
|
|
|
|
Bingung!
~ Dini's Journal ~ |
2007/05/09 15:06
|
|
|
Ada tiga hal di hidup ini yang tidak saya mengerti. Pertama takdir, kedua lelaki, dan yang ketiga posisi seorang sahabat yang lebih sering tidak bersahabat dalam hidup saya. Oke, saya akui kehidupan saya memang tidak gampang. Tapi, anehnya salah seorang teman satu jurusan saya yg sebenarnya tdk terlalu akrab dengan saya pernah ngasih testi di friendster dan dia bilang kalau saya cewek yang sangat beruntung. Saya tidak merasa aneh dengan tanggapan teman saya ini. Mungkin banyak yang melihat kehidupan saya berjalan dengan mulus.
Tapi maaf kawan… dengan berat hati saya harus bilang kalau kalian tertipu oleh tampang “keberuntungan” saya. Sebenarnya hidup saya justru jauh dari kata MULUS. Segala hal yang saya peroleh di hidup ini, bahkan cuman untuk sekedar tidur lelap selama satu malam, harus saya peroleh dgn susah payah.
Ada sedikit rahasia yang ingin saya bagi di sini. Saya sebenarnya sama saja dengan kalian. Saya cuman ingin memperoleh sebuah “posisi” di muka bumi ini. Well… saya rasa tidak perlu harus menjadi kaya-raya supaya kita bisa menemukan “posisi” eksis tersebut. Tapi, ada orang yg pernah bilang ke saya, kalo lo punya banyak uang, apa pun “posisi” lo di atas muka bumi ini, semua orang pasti akan tunduk dan mengakuinya.
Tujuan hidup saya simple aja; pengen hidup bahagia, mati bahagia, nggak mau nyusahin orang lain, dan trus terang (saya nggak mau munafik) saya pengen punya banyak duit. Huehuehue… I’ll make a lot of money someday. Kedengaran agak sedikit arogan ya? Tapi sebenarnya saya punya alasan kenapa saya seperti ini. Saya cuman mo mastiin ke diri saya bahwa saya nggak mau hidup miskin.
Cuman kadang saya rada takut juga. Kalau takdir hidup saya berkata lain, apa yg harus saya lakukan? Ini dia yg bikin saya bingung. Kadang takdir sama kerja keras jalannya nggak searah. Saya ingat kata Enstein; “Kesuksesan ditentukan oleh 99% kerja keras dan 1% talenta.” Well… kenapa Enstein nggak melibatkan presentasi takdir di dalam sebuah kesuksesan? Coba lo bayangin… seandainya lo itu terlahir dgn otak brilliant, bermental baja, dan pantang menyerah. Tapi kemudian takdir berkata lain… elo cuman jadi seorang dosen bergaji pas-pasan? Apa ini adil? Ya, mungkin sebagian dari anda yg membaca postingan ini akan berkata; “saya rasa kondisi seperti ini cukup adil buat dosen tersebut karena bisa jadi dia memang mencintai pekerjaan itu”. Tapi, coba lo pikir lagi… posisikan diri lo sebagai dosen bergaji pas-pasan tadi. Mungkin lo merasa hidup lo udah cukup sempurna. Tapi… apa hidup lo udah cukup sempurna buat orangtua atau anak-istri lo?
Ah… sutralah… saya sendiri nggak mau kebanyakan ngomong masalah beginian. Karena inilah hidup kawan… kalopun entar lo masuk surga, lo pasti bakal kangen gimana menderitanya lo hidup di bumi.
PS: Gw bosen kuliah! |
|
|
| Trackback Address :: http://www.blogboleh.com/d1ni/trackback/58007 |
|
|
|
|
|
3 alasan utama kenapa saya tidak siap nikah muda!
~ Dini's Journal ~ |
2007/04/10 09:36
|
|
|
Beberapa hari yang lalu saya menonton tayangan comedian ternama Tukul Arwana, EMPAT MATA. Waktu itu yang jadi bintang tamu utamanya pasangan Titi Kamal + Christian Sugiono dan Tedi + Raihanun. Yang terlintas di benak saya waktu itu; “My Gosh! What a different couple!”. Pasangan yang satunya hanya berpacaran beberapa bulan dan langsung memutuskan untuk menikah muda. Sedangkan yang satu lagi udah pacaran 7 tahun dan masih belum memutuskan untuk menikah.
Lalu, pikirian saya flash back ke fenomena yg lagi trend di milis alumni high school saya. Beberapa eman-teman alumni yg dulu pernah tinggal satu atap dgn saya (we’re living in dormitory) kalau dihitung-hitung udah lumanyan banyak yang memutuskan untuk menikah. Bahkan ada yang udah punya anak. Indicator mereka memutuskan untuk menikah juga beragam. Ada yang menikah karena accident. Ada pula yang emang menikah baek-baek.
Sebenarnya, sah-sah aja kalo ada orang yg hendak memutuskan menikah muda. Menikah kan hak asasi setiap orang. Tapi, coba kita melihat permasalahan ini dari sudut pandang perempuan. Yaa… karena saya seorang perempuan, makanya saya membahas masalah ini menggunakan kaca mata perempuan.
Awalnya saya agak bingung kenapa banyak teman-teman cewek yg terlihat tangguh di mata saya tiba-tiba menikah di usia yg sangat muda. Karena menurut saya, ketika seorang perempuan memutuskan untuk menikah muda, hanya ada tiga alasan masuk akal yg terlintas di otak saya. Pertama, perempuan tersebut ingin menggantungkan hidupnya dibawah ketiak lelaki mapan tanpa harus repot-repot cari duit. Kedua, dia ingin menghindari zina (di sini napsu kritis yg mengendalikannya dan dia emang udah nggak tahan lagi hahaha… ups! Sorry!). Dan, yang ketiga, dia memutuskan menikah karena mungkin, well… udah terlanjur hamil. Ketiga masalah diatas tidak berlaku untuk perempuan yg dipaksa menikah oleh orangtuanya.
Saya sama sekali tidak memandang rendah atau menganggap bodoh perempuan yang memutuskan untuk menikah muda. Malah saya cukup salute dengan keberanian mereka mengambil keputusan se-sulit itu di usia muda. Karena saya sendiri nggak bakal mungkin senekat itu. Saya takut kehilangan jati diri saya sebelum saya menemukan posisi saya di atas muka bumi ini. Dan, jujur saja, saya takut nantinya bakal menemukan diri saya berakhir sebagai seorang ibu rumah tangga yang kerjaannya cuman stay at home. Itu alasan pertama kenapa saya tidak ingin menikah muda.
Yang kedua, saya terlahir sebagai anak pertama, saya punya 3 orang adik (2 adik kandung dan 1 adik angkat), keluarga saya banyak yang kurang mampu, papa saya bukan presiden dan mama saya bukan istri presiden. Saya tidak bisa menggantungkan hidup saya untuk seorang lelaki, mengharapkan dia menjadi pengeran impian saya yang bersedia menaikan status keluarga saya menjadi kaya-raya. Ini sama saja mengingkari prinsip hidup. Saya bukan perempuan yg terbiasa mendzolimi lelaki untuk kepentingan diri sendiri. Terus terang, saya orang yang terlahir dengan harga diri yg cukup tinggi. Ego saya mungkin agak kelewatan. Saya tidak ingin direndahkan. Dan, menggantungkan hidup kepada lelaki mapan, kaya-raya, dan punya segalanya, memungkinkan hal-hal seperti; dilecehkan, direndahkan, dan disepelehkan… terwujud sempurna.
Dan, yang ketiga, saya pernah diberi tahu teman saya; perempuan baik-baik tidak bisa mengubah dunia. Maksudnya, perempuan baik-baik di sini adalah perempuan yang hidupnya sangat terpola mulai dari lahir, dewasa, menikah, punya anak, lalu mati (mereka tidak akan bisa mengubah dunia). Dan, saya tidak ingin menjadi perempuan yang seperti itu. Walaupun saya sadar membutuhkan tenaga yg luar biasa untuk mengubah dunia, setidaknya untuk saat ini saya ingin mengubah dunia saya menjadi sedikit berwarna. Saya tidak ingin hidup di dunia sempit dengan label di atas jidat; “Dini as a good wife, good mom, and good women”. Saya ingin menjadi dini as a good daughter, good sister, and she have a good job.
Well… sebenarnya, dari lubuk hati yang paling dalam, sebagai cewek normal, jujur saja saya juga pengen nikah. Tapi nggak sekarang. Karna saya mau mengabdikan diri dulu ke orangtua. Mereka adalah orang yg udah cukup banyak berkorban buat saya. Baru habis itu, ketika orangtua saya siap melepas saya, dan saya siap mencintai satu orang seumur hidup… baru deh saya akan mengabdikan diri kepada suami.
Yang jelas kalaupun emang harus nikah umur 30, saya nggak takut kok. Saya lebih takut kehilangan masa muda saya, takut nggak bisa bales keringat orangtua saya, dan takut menghabiskan waktu seumur hidup dengan orang yg salah.
Target nikah saya... ehm... yg jelas bukan sekarang! |
|
|
| Trackback Address :: http://www.blogboleh.com/d1ni/trackback/58005 |
|
|
|
|
|
HOLIDAY = KERJA LAGI
~ Dini's Journal ~ |
2007/01/29 15:08
|
|
|
Finally tiba juga waktu liburan. Buat sebagian anak kampus liburan adalah waktu yang sangat dinanti-nanti. Tapi tdk untuk saya pribadi. I hate holiday. Same like I hate birthdays.
Menurut gw, birthdays are an injury, an imposition, a reminder of vulnerability, a fake event artificially construed. I destroy in order to equalize the misery. I rage in order to induce rage. Holidays create in me an abandon of negative, nihilistic emotions, the only ones I consciously possess. Hahaha… Saya memang tipe cewek introvert yang suka menghabiskan akhir pekan menyendiri di dalam kamar, berkutat dengan komputer sampai kadang tidak tidur sampai pagi. Tapi saya cukup waras untuk mengatakan kalau kegiatan saya setiap akhir pekar tersebut cukup produktif. Menulis novel, cerpen, artikel, jurnal, atau kadang mendesign, mengedit foto, pokoknya melakukan kegiatan yang tujuannya untuk menggali potensi diri. Saya bukan tipe mahasiswi yang keranjingan produk-produk game house sampai rela menghabiskan waktu semalam suntuk berkutat dengan game itu. Saya juga bukan mahasiswi yang hapal betul jam tayang setiap program reality show, termasuk diantaranya acara-acara infotaiment.
Makanya saya benci liburan. Alasannya, ya itu tadi, saya benci waktu yang terlalu luang. Sebagai antisipasi, biasanya saya akan mencari kegiatan positif yang kira-kira bisa mengisi waktu yang terlalu luang itu. Paling sering sih traveling. Pernah sekali hiking sama anak-anak satu jurusan. Tapi hasilnya saya malah asma saya kambuh.
Untuk liburan kali ini, saya sudah merencanakan beberapa kegiatan, antara lain:
- Belajar design web sampe jago!
Selama seminggu kemarin saya sudah ikut pelatihan desain web. Bayar Rp.75.000 doank (murah kan?). Soalnya yang ngajar teman-teman saya dari jurusan informatika & elektro yang tergabung di UPI (unit pelatihan internet). Selama seminggu itu saya baru diajarkan dasar-dasar HTML sama dreamweaver doank. Setelah itu saya mau mulai belajar css sama java script.
- Magang
Tanggal 3 feb nanti saya mau ikut short course perbankan syariah. Habis itu baru magang (prosedurnya emang harus short course dulu baru bisa magang). Lagian saya nge-blank banget soal perbankan syariah. Secara saya kuliah di Teknik Industri dan para dosen saya kalo ngajar selalu make study kasus manufaktur. Makanya kalo soal manajemen atau pemasaran saya agak ehm... kurang jago!
- Ngurusin laporan PKN
Minggu kemarin saya dan team saya sudah memasukan proposal PKN di salah satu perusahaan pelintingan rokok yang ada di malang. Gila bo’! nggak nyambung banget ya sama point nomer 2!? Saya magang di bank, tapi PKN di perusahaan pelintingan rokok. Ahahaha.... Rencananya saya mau ngambil judul yang ada hubungannya dengan Penjadwalan Produksi. Ini sedikit ada pertimbangan pemasarannya. Jadi kurang-lebih masih ada seikit hubungannyalah dgn point no 2!
Well, sejauh ini pengalaman yang saya peroleh dari kegiatan-kagiatan liburan (kegiatan di luar akademik kampus) bisa dibilang sudah cukup banyak. Selain sudah menghasilkan karya tulis (baik fiksi ataupun non fiksi), saya juga sudah mengumpulkan lumayan banyak sertifikat2 keren J. Antara lain:
- Sertifikat Autocad 2D dari Autodesk Autorizhed Singapore
- Sertifikat Autocad 3D dari Autodesk Autorizhed Singapore
- Sertifikat bahasa Prancis dari CCF
- Sertifikat bahasa inggris & tofel dari ELC
- Sertifikat workshop kreatif dari klub NOVA
- Sertifikat pelatihan website dari UPI
- Sertifikat short course dari bank syariah
- Sertifikat magang dari bank syariah & Sangkar Mas (perusahaan t4 saya PKN) (yang ini keluarnya nanti).
- Dan semoga bakal nambah banyak lagi yg menyusul J
Kalo soal riwayat bersosialisasi dgn masyarakat & organisasi ehm... sejauh ini pengalaman saya bisa dibilang lumayan banyak (walaupun saya akui saya agak sedikit bego’ kalo dihadapkan dgn dunia organisasi & politik). Yang jelas untuk sekarang ini saya lagi aktif-aktifnya di LSM lingkungan hidup PROFAUNA. Dan, yang paling penting, tujuan dari LSM ini sama sekali tdk bertentangan dengan idealisme saya. J Karena liburan & ulang tahun saya jatuh pada waktu bersamaan, well... I make it a point to carry on routinely. I accept no gifts, I do not celebrate, I work till the wee hours of the night. It is a demonstrative refusal to participate. Bukannya saya sok keren—rejection of social norms, an "in your face" statement of withdrawal. Saya punya kegiatan sosialisasi yg cukup positif kok. Saya bergabung dgn LSM Profauna. It makes me feel unique. It makes me feel even more deprived and punished. It feeds the furnace of hatred, the bestial anger, the all engulfing scorn I harbour. I want to be drawn out of my sulk and pouting - yet, I decline any such offer, evade any such attempt, hurt those who try to make me smile and to forget. In times like that, in holidays and birthdays, I am reminded of this fundamental truth: my voluptuous, virulent, spiteful, hissing and spitting grudge is all I have. Those who threaten to take it away from me - with their love, affection, compassion, or care - are my mortal enemies indeed. |
|
|
| Trackback Address :: http://www.blogboleh.com/d1ni/trackback/57997 |
|
|
|
|
|
| blog ini merupakan tempat terbaik saya buat mencurahkan semua yang ada di isi otak saya.
kalo ada yg isinya bikin ga enak hati, berusahalah berpikir positif dan saya anjurkan untuk mengutamakan kebebasan berpikir. |
<<
2012/05
>>
| S |
M |
T |
W |
T |
F |
S |
|
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
| 6 |
7 |
8 |
9 |
10 |
11 |
12 |
| 13 |
14 |
15 |
16 |
17 |
18 |
19 |
| 20 |
21 |
22 |
23 |
24 |
25 |
26 |
| 27 |
28 |
29 |
30 |
31 |
|
|
|
|
tata 2007
d1ni 2007
Total : 6571
Today : 5
Yesterday : 4 |
|
|