Baik apa Buruk
Lagi enak-enaknya ngobrol sambil minum teh, tiba-tiba Plep kentut sembarangan.
Moek2 : Sialan lo, masa gw dikentutin! Ga sopan tau!
Plep : Sekarang gw mau tanya, kalo kentut itu baik apa buruk?
Moek2 : Ya buruk lah, semua orang juga tau.
Plep : Makanya gw buang.
Moek2 : !!, lah kalo gw jawab baik!
Plep : Ya gw bagi ama lo.
Moek2 : !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Nenek Moyang Monyet
Sepulang sekolah, Ani langsung menanyakan kepada Ibu apa yang sudah dia dapat dari Guru.
Ani : Ibu!!, kata Pa Guru sebenarnya nenek moyang kita itu monyet. Betul ga Bu?
Ibu : Wah ga tau ya nak, wong... Ibu belum kenal semua saudara Bapakmu.
Ani : Ooohhh...
Tidak Tau Barang Enak
Dalam perjuangan pulang ke Indonesia dari tugas masing2, seorang pastor dan seorang haji kebetulan satu bangka dalam pesawat terbang. Ketika makan siang tiba, pastor dan haji mendapatkan porsinya masing2.
Pak haji tertarik dengan makanan pastor dan bertanya, "Pastor, daging yang berwarna merah itu apa?"
"Oh, ini daging babi. Rasanya nikmat dah, jawab si pastor.
"Tapi dalam agama saya daging itu haram untuk dimakan," lanjut Pak haji.
"Anda sih nggak tau barang enak," jawab pastor.
Ketika pesawat telah mendarat, Pak haji dijemput oleh istrinya. Ia melihat bahwa pastor yang duduk di sampingnya tidak ada yang menjemput.
Lalu ia bertanya, "Pastor, mengapa istri Anda tidak datang menjemput?"
"Wah agama saya melarang pastor mempunyai istri," jawab pastor.
"Uh, dasar Anda juga nggak tau barang enak," jawab Pak haji.
Pekerjaan Istri Pengemis
Seorang pengemis tua sedang duduk di pojok suatu pasar besar, sambil memegang mangkoknya utk mengemis. Seorang wanita tua merasa kasihan kepadanya dan memberikannya uang dari dompetnya. Dia menghiburnya dengan berkata, "Ah! Aku merasa kasihan sekali di hatiku melihat bahwa kamu masih harus mengemis di usia setua ini! Bagaimanakah hidupmu bisa menjadi seperti ini? Tidak apa-apa jika kamu tidak mau menceritakannya kepada ku. Aku hanya bertanya karena merasa kasihan." Pengemis tua itu sungguh sengsara duduk di sana. Air mata berlinangan, dan dia berkata dgn penuh iba, "Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa lebih sengsara mendengar nyonya menanyakan ini! Melihat nyonya mengingatkan aku akan isteriku. Aku tidak akan mengemis sekarang jika dia masih hidup!" Lalu wanita tua itu bertanya, "Oh! Jadi isteri kamu hebat sekali! Apakah pekerjaan dia waktu dia masih hidup?" Pengemis tsb menjawab, "Dia mengemis untuk ku setiap hari sewaktu dia masih hidup, oleh karena itu aku tidak perlu mengemis buat diri ku."
Salah Memahami Resep
Ada satu pasangan yang baru menikah, dan sang suami tidak dapat bertepa-seliro dgn isterinya. Dia bertengkar dengannya setiap hari hingga dia hampir mendapatkan gangguan urat syaraf. Dia lalu bergegas menemui dokter. "Ada masalah apa?", tanya sang dokter. "Ah! Aku telah terlalu banyak bertengkar dengan isteriku," lelaki tsb menjawab. "Sekarang aku merasa lemah secara jasmani dan pikiran. Apa yang mesti kulakukan?" "Anda perlu lakukan beberapa latihan!" Saya sarankan Anda membeli seragam olahraga lari dan berlari sekitar sepuluh kilometer setiap hari, lalu temui saya lagi dalam waktu satu atau dua minggu." Lelaki tsb berkata, "Oke!" dan dia pun berlalu. Hari itu juga, dia membeli seragam olahraga dan mulai berlari. Seminggu kemudian, lelaki tsb menelpon dokternya dan dokter tsb menanyakan, "Bagaimana keadaan jasmani Anda? Apakah merasa lebih baik?" "Lebih baik, sungguh lebih baik!" kata lelaki tsb. Lalu dokternya menanyakan, "Bagaimanakah isteri Anda memperlakukan Anda sekarang?" "Bagaimana aku tahu?" lelaki tsb menjawab, "Aku telah berada tujuh puluh kilometer jauhnya dari rumah!"
Tradisi Keluarga
Dua orang gila sedang berbincang di rumah sakit jiwa, salah satunya berkata, "Aku telah memutuskan untuk menyerahkan adik perempuanku untuk menikah denganmu begitu kita keluar dari sini." Lelaki lainnya berkata, "Jangan, terima kasih. Tidak boleh demikian." Dia bertanya, "Kenapa?" Lelaki itu menjawab, "Karena, menurut tradisi keluarga kami hanya boleh menikahi sanak keluarga. Kami tidak dapat menikah dengan orang luar." Lelaki satunya lagi bertanya, "Bagaimana mungkin ada kebiasan keluarga yang demikian?" Dia berkata, "Yah begitulah, nenekku kawin dengan kakekku. Ibuku kawin dengan ayahku, adikku kawin dengan adik iparku, dan seterusnya. Bagaimana dapat aku menikahi adikmu?" |
|