|
|
|
Back to where I Belong
My Everyday Life |
2007/03/14 15:50
|
|
|
 Sudah lama aku ngga nongol di blog ini, terutama setelah ikut acara Asia Source II. Keren.... ikutan acara yang dihadiri kurang lebih 130 peserta dari 27 negara. Acaranya di Sukabumi, dan pas disana diwawancara oleh Fouad Bajwa, salah satu penggerak Free and Open Source Software dari Pakistan. Ini aku sertakan petikan wawancaraku oleh Fouad Bajwa.
Ngomong-ngomong, sekarang aku punya blog baru lho, tapi in English. bisa di lihat di http://agusnugroho.110mb.com, it's al about FOSS and Asia Source II.
Crashing Servers Teaches Linux - Realizing the Passion in Indonesia Possibly, a productive way to learn computer use may be fiddlingwith it, however many may disagree but for Yohannes BaptistaAgusnugroho, IT Coordinator of Formasi, Indonesia, it may really havebeen true. “Even though I was a student of Psychology, that didn’t turnout to be the career track for me since I actually fell in love withcomputers” narrates Yohannes as he recalls the track he followed toaqcuire his Linux and FOSS skills. “In 1985, around age 6, my father bought me a XT generation computerthat helped evolve my love for games including Digger for DOS, this,probably, a very long time back when games came on large Floppy Diskshardly seen today. One day, while at the store where I went to buygames, a guy told me to learn programming and I questioned him that whyshould I, he replied, if you do so then one day you will program a gameyourself and people may even buy it if its good. The passion for programming was born driving me towards learning theBasic Programming Language and further in high school a computerteacher taught me computer software and hardware. In 1997, I attendedcollege in Semarang, Central Java and initiated work as a part-timeInternet Administrator for Internet Cafe’s in the region and that wasthe first time I used Linux but passed through a very bad experience. Imade some changes to the Linux Server and somehow later that day, theserver crashed however, the owner called in a System Administrator whofixed the problem easily but that intrigued me to further explore Linuxand strenghten my grip on the technical aspects. After resigning from my Internet Cafe’ job, I took up SystemAdministration helping organizations with Linux but also tried otherareas such as working as a Graphic Designer for a commercial newspaperwhile several other companies called me occasionaly to providetechnical support visits to them. Later on, I met a programmer andlearnt from him HTML growing my skills on to PHP and various FOSS CMSapplications. In 2005 I stepped into the NGO sector with Jakarta as ITStaff that lead me to joining Formasi, in 2006 as an IT Coordinatorresponsible for assembling and leading a seven member IT SpecialistsTeam but they still have been working on Windows due to someunavoidable constraints that I am tackling. Yohannes’s organization, Formasi, also known as the Indonesian ForumFor Cooperatives Development is network of cooperative organizationsand lobbies for the Government to develop polices to help Cooperativesgrow in Indonesia and also supports its network to gain access tofinancial institutions. Formasi helps cooperatives grow bigger and isnow including a focus for empowering these organizations with ICTs.Formasi’s focus on ICTs is driven by the fact that Cooperatives arestill ignorant of the benefits of ICTs especially FOSS, mostly stillusing manual data entry methods and if they anyhow manage to usecomputers, its only for donkey work, that is, data entry into aSpreadsheet Software without digital calculations and formulas. Shares he: “Organizations cannot affored the burgonong costs oflicensed proprietary software within the NGO sector and FOSS is animmediate and evident solution to remove that barrier therefore I havevision for this year to push the agenda of FOSS and Linux in particularfor both Formasi and its cooperative members network since they have noexposure to FOSS attributed to the fact of lack of FOSS ResourcePersons and limited budgets to support the organization of FOSSCapacity Building Programmes. I will be initially reducing the gap bytraining the inhouse staff at Formasi on FOSS right after Asia Source2″. Yohannes has also faced certain problems promoting the use of FOSSin various other organizations, “It is a common perception in Indonesiathat if the software Source Code is open and available with thesoftware, it makes the software very insecure for use and to changethat perception, I am building knowledge and technical partnerships atAsia Source that will help me in countering those misconceptionspractically with enhanced knowledge and appropriate skills”. FOSS Inspiration, “For Indonesia, Onno W. Purbo is an inspirationfor our young generation whom I met at the Security and HackingConference in Jakarta. in 2002. He has always been there to providehelp, support and awareness on various occasions anywhere and anytime”.
|
|
|
| Trackback Address :: http://www.blogboleh.com/choboel/trackback/52321 |
|
|
|
|
|
Merry Christmas & Happy New Year
Unrevealed Words |
2006/12/21 14:46
|
|
|
Dia....
Menyapa alam dengan segala misteri yang terselubung
Menoreh cinta dengan menyangga derita
Menaruh harapan dengan cerita yang syahdu
Menuang karya dalam cemooh dan caci-maki
Kita....
Berjalan limbung ditengah gegap gempita dunia
Merangkak pelan diterpa badai dosa dan derita
Terseok tertatih menghimpun tangis dan air mata
Terlunta ditengah hujan dan badai kejahatan dan kemurkaan
Bersama....
Menyongsong secercah cahaya di tengah gelapnya malam
Meneguk setetes kesegaran dari curahan rahmat
Bersimpuh di bawah kaki yang menaungi dari terpaan gelombang
Menatap harapan yang terpancar dari surga
|
|
|
| Trackback Address :: http://www.blogboleh.com/choboel/trackback/52320 |
|
|
|
|
|
Menjelang Natal 2006
Review of Life |
2006/12/13 19:48
|
|
|
Natal sudah dekat. Tak terasa sudah setahun berlalu, sejak natal yang terakhir. Luar biasa ternyata apa yang telah Tuhan lakukan pada diriku sepanjang tahun ini.
Sebagai hadiah tahun baru 2006, aku mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Sebuah mimpi yang tadinya seperti jauh untuk tercapai. Tapi Tuhan telah mewujudkannya untukku.
Bulan Maret 2006, secara tidak terduga, dalam keadaan hamil besar, istriku mendapatkan panggilan untuk PTT di sebuah rumah sakit di Kelapa Dua, Depok. Sebuah keajaiban, karena menurut yang kudengar, sudah tidak mungkin untuk dapat PTT di wilayah JABODETABEK. Tapi itu Tuhan berikan untuk keluarga kami.
Bulan April 2006, lahir putriku yang pertama, Victoria Samantha Karen Nugroho. Betapa menggembirakannya menyaksikkan putriku itu lahir dan mengisi hari-hariku bersama istri tercinta. Melalui persalinan caesar, aku melihat sendiri bagaimana sebuah kehidupan hadir di dunia ini. Sebuah keajaiban yang tak terkatakan.
Bulan Juni 2006, Tuhan memberikan cobaan padaku, pekerjaanku yang baru berusia 6 bulan harus hilang, entah dengan alasan apa. Aku mencoba untuk bertahan, dan aku mencoba untuk dapat tetap berdiri.
Bulan Agustus 2006, Tuhan memang MahaBaik. Secara tidak diduga, aku mendapatkan panggilan pekerjaan untuk sebuah pekerjaan yang benar-benar aku sukai. Puji Tuhan. Aku sangat berbahagia.
Bulan November 2006, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mendapatkan hadiah dari Tuhan berupa jalan-jalan melihat negara lain. Aku pergi ke Philippine untuk mengikuti 3 event, Regional Conference on Gender Integration in Co-operative, Regional Steering Committe IT@Coops Project, dan The First FOSS@Work International Conference. Akhirnya aku punya kesempatan untuk jalan-jalan ke luar negeri.
Tak kusangka selama tahun ini banyak sekali keajaiban dan kemurahan hati Tuhan yang telah aku rasakan. Aku semakin merasa mencintai Tuhan.
Terima kasih Tuhan akan segala kemurahan-Mu.
|
|
|
| Trackback Address :: http://www.blogboleh.com/choboel/trackback/52319 |
|
|
|
|
|
Poligami v.s. Genetika
Review of Life |
2006/12/12 12:56
|
|
|
Poro saderek,
Menarik tulisan berikut ini.
Saya membaca satu artikel di Kompas
yang mengangkat topik terkait .
salam,
..............................
Demikian dilansir softpedia, Senin (11/12/2006) kebanyakan mahluk hidup memang tidak terbiasa hidup bermonogami. Secara genetik, mayoritas mahluk hidup pun tidak diprogram untuk hidup monogami alias hidup dengan satu partner saja. Bahkan, dari sekitar 5500 jenis mamalia hanya 3-5% yang dikenal bisa hidup monogami.
Walau demikian, hampir tidak ada jenis mahluk hidup yang mengenal monogami murni. Walau beberapa mahluk hidup selalu diciptakan untuk berpasangan, pada kenyataannya tetap saja mereka tetap mencari kesempatan untuk 'keluar jalur' sesekali.
Terutama untuk beberapa jenis binatang, sulit sekali bagi mereka untuk tetap setia pada satu pasangan saja. Pejantan umumnya terbiasa untuk menyebarkan benih dan betina umumnya selalu berusaha mencari gen terbaik dari pejantan terbaik.
Dengan monogami, berarti mahluk hidup hanya bisa 'mengiventasikan' gen-nya pada satu partner saja. Karena itu, mahluk hidup yang menerapkan sistem ini biasanya sulit dan membutuhkan waktu yang lama untuk memilih pasangan potensialnya.
Dalam kehidupan mahluk hidup secara umum, terdapat tiga jenis monogami. - Pertama monogami seksual; hanya melakukan aktivitas seksual pada satu partner saja selama satu musim kawin.
- Kedua, monogami sosial; mahluk hidup mempunyai satu pasangan untuk berkembang biak, tapi tetap memiliki partner lain untuk bersosialisasi dan juga beraktivitas seksual.
- Ketiga, monogami genetik; hanya memiliki satu partner untuk bereproduksi.
Teorinya, sebagai salah satu jenis mahluk hidup, manusia biasanya melakukan monogami seksual dan sosial. Mahluk hidup jenis lain, jarang yang melakukan hal ini.
Hampir semua jenis burung umumnya menganut gaya hidup monogami sosial. Masing-masing memiliki pasangan, tapi tetap melakukan aktivitas seks dengan partner lain. Dalam sebuah penelitian, burung betina yang dipasangkan dengan pejantan yang telah disteril masih bisa tetap menghasilkan telur baru.
Burung merpati yang dianggap sebagai simbol kesetiaan saja masih bisa tidak setia, apalagi angsa yang kerap identik dengan simbol cinta. Spesies jenis ini juga kerap berselingkuh bahkan 'bercerai' dengan pasangannya.
Beberapa jenis mahluk hidup yang cukup setia dianggap punya dasar-dasar biologis dan sosial. Misalnya saja vole atau sejenis tikus. Vole pejantan akan setia pada betina yang diperawaninya. Jika betina lain mendekatinya, vole pejantan akan langsung menyerang.
Burung Nasar juga termasuk mahluk hidup yang setia. Alasannya karena pola reproduksi mereka. Pasangan burung Nasar bergantian mengerami telur mereka. Masing-masing bertugas selama 24 jam. Selama delapan bulan awal kelahiran bayi burung Nasar, ayah dan ibunya bergantian memberi makan. Karena itu ikatan pasangan pada burung Nasar cukup kuat.
Sama seperti berang-berang. Untuk mempertahankan kolam atau tempat mereka tinggal, berang-berang memerlukan kerjasama yang kuat dari betina dan pejantan. Karena itu, ikatan sosial pasangan berang-berang sangatlah kuat.
Intinya, monogami akan terjadi jika mahluk hidup merasa memerlukan situasi yang membuat pasangan harus tetap bersama. Dipercaya, manusia sejak dahulu hidup bermonogami karena membutuhkan komitmen dan kerjasama yang panjang untuk membesarkan keturunannya serta membangun keluarga. Tapi untuk kehidupan seksual binatang, monogami adalah sesuatu yang sangat membosankan.
Jadi?(fta/dit) Points: - Belum diteliti soal poligami iseng atau hiburan. (pada manusia)
- Kalau ini jadi alasan poligami pada manusia, lalu apa bedanya manusia dengan hewan??
- dengan kata lain: Apa beda pelaku-pelaku poligami di Indonesia dengan binatang???
|
|
|
| Trackback Address :: http://www.blogboleh.com/choboel/trackback/52318 |
|
|
|
|
|
Jagalah Hati, Lha Kok Poligami
Review of Life |
2006/12/11 11:40
|
|
|
Achmad Munjid
Kandidat Doktor Bidang Religious Studies, Temple University,
Philadelphia, AS Sejumlah alasan Isu poligami Aa Gym perlu disoroti setidaknya karena tiga alasan. Pertama, dalam sejarah Islam dan fikih klasik, poligami memang memiliki legitimasi. Tapi jelas pula, dalam kehidupan modern, praktek poligami amat problematik. Karena itu, mayoritas muslim tidak bisa menerimanya sebagai praktek, tapi juga ragu untuk menolak. Dalam posisi itu, banyak orang memilih diam atau menghindar. Sebagian muslim lain yang menyatakan menerima pun merasa perlu memberikan catatan: "tidak berniat mempraktekkan" . Situasi ini jelas terasa di seputar kontroversi kasus poligami Aa Gym. Kedua, Aa Gym mewakili kelompok fikih established yang tidak merasa perlu mendengar jeritan perubahan zaman. Asumsinya jelas, agama bersifat universal dan final. Sejarahlah yang harus menyesuaikan diri terhadap agama sebagai aturan Tuhan, bukan sebaliknya. Di sini tidak dibedakan mana pesan esensial Tuhan, mana tafsir manusia. Islam adalah paket jadi yang bersifat gamblang, paripurna, dan tidak boleh diganggu gugat. Ketiga, karena posisi yang telah dimainkannya selama ini, betapapun Aa Gym adalah bagian dari trend setter publik muslim di Tanah Air. Bagi jemaahnya, tentu nalar dan cara keberagamaan Aa Gym merupakan model yang dijadikan panutan. Karena itu, bagi yang setuju, poligami Aa Gym adalah legitimasi kukuh buat sandaran. Bagi yang tidak, ia adalah pukulan berat yang terus mengganggu pikiran, bahkan melukai perasaan. Akibatnya, banyak orang seperti sedang dituntun untuk menerima bahwa tidak semua ketentuan Tuhan memang selalu sejalan dengan kebutuhan pikiran dan perasaan manusia. Pada gilirannya, hal ini menggiring orang untuk menerima agama secara taken for granted. Sebagian orang lainnya bersifat apatis, skeptis, bahkan antipati. Idola Lebih dari sekadar dai kondang, dengan aneka kemasan rekaman, poster, buku, rupa-rupa aksesori islami, penampilan televisi, dan pemberitaan media, kita tahu Aa Gym adalah seorang idola. Sebagaimana para bintang, ia adalah tokoh pujaan yang perilakunya terus diikuti aplaus atau helaan napas para pengagumnya. Ia adalah penghibur mata, penghibur telinga, dan lebih-lebih dengan "Manajemen Qalbu"-nya, ia terutama adalah penghibur hati, pelipur jiwa banyak orang. Tapi mari kita tetap ingat, betapapun, ia adalah seorang manusia. Bukan dewa, bukan malaikat, bukan pula nabi. Kadang kita lupa, jika seseorang telah menjadi idola, s/he can do no wrong. Ia harus sempurna, apa pun tindakan dan perilakunya. Terhadap tindakan dan perilaku sang tokoh, kitalah yang berkewajiban menyesuaikan diri. Itu terjadi pada Soekarno, Soeharto, Gus Dur, dan banyak figur idola lainnya. Kini hal yang sama sedang berlangsung di sekitar Aa Gym. Menyangkut perkara poligaminya, with all due respect, buat saya, apa yang dilakukan Aa Gym secara sosiologis tidak mendidik, secara teologis mandul, secara moral menyakitkan. Dalam istilah linguistik, paling jauh, ia mungkin secara gramatikal bisa diterima, but he doesn't make sense. Lembaga Patriarki Secara sosiologis, sebagai pemimpin yang dijadikan panutan banyak orang, mempraktekkan tindakan yang dari banyak segi jelas problematik amatlah tidak mendidik. Dengan begitu, bukan saja menampilkan bahwa agama adalah seperangkat dogma yang tak perlu ditanyakan, ia sama sekali tidak peka terhadap tuntutan perubahan kehidupan. Terlepas dari niat pribadinya yang mungkin saja tulus dan lillahi ta'ala, dengan berpoligami, sadar atau tidak, ia sebenarnya telah terjerat permainan kekuasaan patriarkis yang meminggirkan martabat kaum perempuan. Jika kita menerima bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan, baik secara sosiologis maupun teologis, memang sederajat, mari kita bersepakat pula bahwa poligami bukanlah persoalan pribadi. Sebagai praktek sosial, ia adalah lembaga patriarkal yang memberikan privilese kuasa bagi laki-laki sembari menempatkan perempuan sebagai pecundang. Jangan lupa, jika ditelusuri, nalar ini tidak berhenti di sini. Ketika asumsi "lelaki superior, perempuan inferior" telah diterima sebagai common sense, siapa saja yang "dilelakikan" dengan sendirinya memiliki privilese atas kuasa dan kebenaran. Sementara itu, siapa saja yang "diperempuankan" harus tunduk sebagai kaum lemah yang sewaktu-waktu siap sedia menjadi korban, menjadi tumbal. Karena itu, sesuai dengan capaian kematangan kita dalam pemahaman atas keadilan, termasuk kesederajatan laki-laki dan perempuan, secara sosiologis poligami tidak bisa dibenarkan. Dalam hal ini, isyarat positif pemerintah untuk segera memperluas cakupan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil perlu mendapat dukungan luas dari masyarakat. Kemandulan teologis Mempraktekkan poligami dalam masyarakat modern sekarang ini adalah bukti kemandulan teologis. Dari sisi historis, mari kita ingat bahwa konteks pembolehan poligami dalam Islam pada mulanya bertujuan justru untuk membatasi, bukan menambah jumlah istri. Sebab, dalam masyarakat Arab ketika itu, perempuan ibarat "obyek" yang boleh diapasajakan oleh laki-laki. Maka banyak orang, termasuk Umar ibn al-Khatab, sebelum menjadi muslim, tega mengubur bayinya yang terlahir perempuan. Di masa Arab jahiliyah, orang bisa beristri berapa saja, siapa saja. Asalkan mampu, asalkan bisa. Lalu Islam datang dengan aturan "jika terpaksa, maksimal empat". Mengapa empat? Kajian Leonard Swidler dalam Women in Judaism: The Status of Women in Formative Judaism (1976: 144-8) cukup menarik disimak. Sebagaimana bisa diduga, poligami adalah praktek budaya yang dulunya juga lumrah di kalangan kaum Yahudi. Dalam tradisi Yahudi, rupanya pembolehan poligami juga dibatasi sampai maksimal empat. Agaknya, poligami sebagai model hubungan lelaki-perempuan yang turun-temurun diwarisi dari tradisi Yahudi itu di zaman Muhammad SAW telah berkembang demikian tak terkendali di tanah Arab. Sehingga Al-Quran kemudian mengembalikan tradisi itu kepada batas toleransi "maksimal empat" tersebut. Terlepas dari benar-tidaknya teori itu, jika kita baca kembali terutama QS 4: 3-4, jelas, "adil" menjadi kata kunci yang menyertai pembolehan poligami. Pun ditegaskan (QS 4: 129), karena adil itu hampir mustahil bisa dicapai seorang suami beristri lebih dari satu, pada dasarnya monogami adalah bentuk hubungan sah lelaki-perempuan paling ideal dalam Islam. Artinya, dengan pesan universal yang bisa diterima pemahaman manusia dari berbagai latar budaya dan sejarah, dengan ketentuan "maksimal empat" itu, Al-Quran sebenarnya sedang meletakkan fondasi penting buat kesederajatan lelaki-perempuan. Dengan "adil" sebagai hakikat pesannya, soal wujud hubungan legal itu selanjutnya diserahkan kepada kematangan umat Islam dalam mempraktekkannya. Tapi arahnya jelas, dari satu laki-laki dengan jumlah istri tak terbatas, menjadi maksimal empat istri, menuju monogami sebagai bentuk ideal. Anggap saja prinsip "kalau terpaksa, maksimal empat" ini bisa diibaratkan sebagai invensi "roda" dalam sejarah teknologi. Sedangkan "adil" sebagai spirit hubungan lelaki-perempuan adalah logika yang menopang penemuan dan pengembangan teknologi itu selanjutnya. Apakah setelah lebih dari 14 abad kita cuma berkutat di sekitar teknologi setingkat "roda"? Kita sama sekali tidak berpikir, atau malah haram hukumnya, buat bikin sepeda, motor, mobil, pesawat, dan seterusnya yang berangkat dari prinsip "roda" itu? Untuk masyarakat yang demikian promiscuous di mana perempuan sama sekali tidak berharga seperti dalam dunia Arab waktu itu, kalau Al-Quran langsung bicara "jangan poligami", jelas tidak masuk nalar. Jangankan ada yang mau menerima, mau mendengar pun mungkin tidak. Bukankah hal yang sama terjadi pada perkara perbudakan? Islam tidak pernah terang-terangan melarang perbudakan. Tapi, dengan kesederajatan manusia sebagai prinsip kunci, dengan "membebaskan budak" sebagai bentuk penebusan kesalahan tertentu yang dilakukan seorang muslim, misalnya, di samping treatment lain yang menyangkut soal ini, arah yang ditempuh jelas: penghapusan perbudakan. Setelah lebih dari 14 abad ditinggal Muhammad, masihkah kita hendak menghalalkan perbudakan? Lari di treadmill bisa menyehatkan, tapi beragama seperti lari di atas treadmill saya kira amat mengenaskan. Soal moral Karena itu, secara moral, bagi saya, poligami Aa Gym amat menyakitkan. Karena alasan situasi darurat? Apa? Jika demi mengurus anak yatim yang jadi pertimbangan, dalam kenyataan global di mana persoalan kemiskinan, ledakan penduduk, dan bencana yang mengakibatkan jutaan anak dan kaum perempuan terlunta di mana-mana, bukankah solusi sistemik yang semestinya dijadikan pilihan? Dengarlah apa yang tidak terkatakan di balik "pengakuan" istri pertamanya, Teh Ninih. Meski "tak semudah yang dibayangkan. ..", apa boleh buat, "ternyata untuk jadi istri yang 'ikhlas' butuh perjuangan". Di telinga saya, suara demikian--dengan segala hormat atas pilihan pribadi dan niat baiknya--adalah rintihan dari pihak yang tak punya pilihan selain "menerima". Itulah suara kaum yang dilemahkan. Dengar baik-baik juga rupa-rupa komentar kecewa jemaah pengagumnya. Karena watak patriarkis yang mengidap ketidakadilan itu, jangan lupa, dari sisi hukum, poligami minimal selalu diperdebatkan. Ingat, betapa tidak berkenannya Rasulullah saat Ali RA, sang menantu, menunjukkan isyarat hendak memadu Fatimah, putri kesayangannya. Sembari berdiri di atas mimbar, Rasulullah berkata, "Aku tidak akan kasih izin, kecuali Ali ibn Abi Talib terlebih dulu menceraikan anak perempuanku jika ia mau mengawini anak-anak gadis mereka. Sebab, Fatimah adalah bagian dari tubuhku, aku membenci apa yang dia benci untuk dilihat, dan apa yang melukainya juga melukaiku" (Sahih Bukhari, Vol. 7, Kitab 62, No. 157). Sekali lagi, jika diskusi seputar isu poligami ini ditambatkan hanya pada soal hukum, kita tidak akan sampai ke mana-mana. Lebih-lebih menempatkannya semata sebagai urusan pribadi. Ini adalah persoalan sosial, perkara relasi kuasa yang timpang, masalah ketidakadilan atas kaum perempuan. Jelas pula, status poligami mendesak untuk direvisi kedudukannya dalam hukum Islam yang kita anut. Menggugat poligami dalam konteks masyarakat kita bukanlah menentang ayat Tuhan, melainkan justru menerjemahkan pesan esensial Islam: keadilan. Dan perempuan, sebagai kaum yang dilemahkan sekian lama, menurut Chandra Mohanty dalam Feminism without Borders (2003: 236) memiliki "potential epistemic privilege" guna mewujudkan sistem sosial yang adil bagi semua pihak. Epilog Sebagai penutup, saya teringat kisah seorang kiai yang kebetulan kaya tapi selalu berkeras mendisiplinkan keluarganya untuk berpenampilan amat sederhana. Seorang anaknya, karena dilarang berpakaian bagus yang telanjur dimilikinya, suatu hari memprotes, "Kenapa? Bukankah, dengan keadaan kita, apa yang saya pakai sama sekali tidak berlebihan? Ini harta halal dan kita tidak mengada-ada. " "Betul anakku, jika kita hanya mau melihat diri sendiri," begitu jawab sang ayah. "Tapi sebagai pemimpin di tengah umat yang dibelit demikian banyak persoalan, hendaklah kamu sadar bahwa kita adalah hiburan mereka yang hampir satu-satunya. Apakah kamu tega merebut hiburan itu dari tangan mereka?" Sang anak tertegun dan kemudian tersedu, menangis. Ketika saya mendengar banyak anggota jemaah Aa Gym yang menangis saat mendengar berita poligami ini, saya seperti menyaksikan hati jutaan orang yang terluka karena penghibur rohani yang selama ini menyejukkan hati mereka tiba-tiba terenggut. Atas nama agama pula. |
|
|
| Trackback Address :: http://www.blogboleh.com/choboel/trackback/52317 |
|
|
|
|
|
Mayoritas Warga Arab Menentang Poligami
Review of Life |
2006/12/11 08:34
|
|
|
Jurnalperempuan. com-Jakarta. Kabar bersumber dari AFP yang diusung Korantempo, hari ini (8/12), tersebut muncul setelah kasus poligami seorang kiai ternama Indonesia, KH Abdullah Gymnastiar atau yang biasa disapa Aa Gym mengumumkan pernikahan keduanya dengan Alfarini, 38 tahun, mantan model yang juga pernah bekerja di pesantren yang dipimpin Aa Gym, Daarut Tauhid, di Bandung. Menurut jajak pendapat yang melibatkan 1.000 responden di Mesir, Yordania, Libanon, dan Maroko tersebut tingkat penentangan terhadap poligami berkisar antara 62 persen di Maroko sampai 90 persen di Libanon.
Dari hasil survei yang dimuat dalam Laporan Pembangunan Kemanusiaan Arab PBB itu tampak adanya desakan akan kesempatan yang lebih luas bagi perempuan untuk lebih berpartisipasi dalam ruang-ruang publik seperti pendidikan dan ekonomi, serta diberi keleluasaan menentukan kehidupannya sendiri.
Terbukti, misalnya, 95 persen responden menyatakan bahwa perempuan harus diizinkan memilih suami sendiri dan mengecam pelanggaran fisik atau pun mental terhadap perempuan. Sebesar 98 persen responden setuju anak perempuan harus mendapatkan hak pendidikan yang sama dengan anak laki-laki. Lebih dari 91 responden mendukung peluang perempuan memiliki properti dan mengelola proyek ekonominya sendiri. Sekitar 90 persen responden menyatakan perempuan juga harus mendapatkan hak yang setara dalam bekerja dan dukungan untuk persamaan kondisi kerja sebanyak 78 persen.
Seputar hak politik, ada perbedaan pendapat antarnegara- negara Arab tersebut. Terdapat variasi prosentase mengenai peran perempuan di bidang tersebut, juga mengenai kesempatan menduduki jabatan setingkat menteri. Akan tetapi, meskipun penentangan muncul cukup kuat terhadap perempuan yang memegang jabatan presiden atau kepala negara, 62 persen responden mengakui perempuan lebih unggul dalam hal kepemimpinan.
Jurnalis: Henny Irawati
Jumat, 8 Desember 2006
http://www.jurnalpe rempuan.com/ yjp.jpo/? act=berita% 7C-733%7CX |
|
|
| Trackback Address :: http://www.blogboleh.com/choboel/trackback/52316 |
|
|
|
|
|
Sedih.... Marah.... Kecewa.... Dongkol....
My Everyday Life |
2006/12/09 02:00
|
|
|

Emang kalo udah janji, kalo bisa sih ditepati. Kalo ngga bisa ya ngasih tau. Setidak-tidaknya itu, kalo emang sudah janji, gak tertepati, asal ngomong aja ngga akan sampe se-kecewa, se-dongkol, se-marah, dan se-sedih ini.
Jauh-jauh dari UK dateng ke Jakarta, waktunya juga mepet banget. Aku sadar kok, kamu udah jadi orang super-duper sibuk. Tapi "ya mbok" kalo ngga sempet tuch SMS kek, atau misscall kek, atau ya yang baik sih telpon. Bayangin, ditungguin sampe jam 12 malem ngga ada kabar beritanya sama sekali. Aku sih cuma berusaha untuk mikir positif aja. Kamu pasti cape, butuh istirahat, pekerjaan numpuk. Tapi kalo kamu ngomong aku bisa ngerti kok. Swear..... Untuk nunggu ketemu kamu itu, aku sudah harus bersabar selama 3 tahun. Sekarang sudah sangat dekat, kamu "katanya" nginep di sekitaran Kuningan, aku ada di Mampang. Ngga jauh kok. Yang bikin aku bingung adalah, kamu ngga mau kasih tau aku dimana kamu nginep, dan aku check di semua hotel sekitaran Kuningan, kamu ngga booking room dengan nama kamu. Ngga tau pake nama siapa. Nomer HP gak bisa dihubungi, di SMS ngga bales. Khan aku bingung, sebagai teman, aku kebingungan kenapa kamu kaya gini. Kalo emang ngga mau ketemu ya bilang aja (sorry kalo nadanya udah kaya orang marah). Yaudah, aku berusaha untuk ngga marah, tapi aku bener-bener ngga bisa menyembunyikan rasa kecewa. Kecewa banget, kayanya penantian 3 tahun ngga ada artinya buat kamu. Yaudah. Still I want to wish you luck, healty, and prosperity. May Jesus Bless you in all your work, love, and your family. GBU! |
|
|
| Trackback Address :: http://www.blogboleh.com/choboel/trackback/52315 |
|
|
|
|
|
WACANA tenang AA GYM
Review of Life |
2006/12/08 17:56
|
|
|
 Sebuah artikel dari Suara Merdeka, 7 Desember 2006
Aa Gym dan Tubuh Perempuan
Oleh Hendro Basuki
Jagalah hati, jangan kau nodai Jagalah hati lentera hidup ini... (Syair KH Abdullah Gymnastiar) ITU lagu wajib ibu-ibu pengajian. Dengan syahdu lagu itu dinyanyikan, kadang dengan menangis sesenggukan. Panggung dirancang sedemikian megah, sound system dengan kekuatan penuh, dan berdiri di sana seorang kiai muda berserban dengan sapaan yang santun, menyejukkan, dan sering membuat tertawa. Lalu, orang bilang, "Inilah kiai muda yang sedang naik daun....". Yang merasa ditunjuk tak rela disebut naik daun, lalu KH Abdullah Gymnastiar segera mengoreksi. "Yang naik daun hanyalah ulat, bukan ustad." Nah.
Sepanjang pekan ini, media massa baik cetak maupun elektronik dipadati berita tentang poligami Aa Gym. Istri yang lebih dulu, Teh Ninih Mutmainah, dengan senyum yang agak dipaksakan dan bibir bergetar mengatakan, awalnya marah, tetapi buat apa marah jika memang hukum Islam memungkinkan itu.
Lalu, bergegas pula Aa membela diri dengan mengatakan, orang mengecam poligami karena orang itu kurang ilmu. Lalu, Aa juga memperkenalkan istri keduanya kepada para santri dan ketika keluar dari ruang pertemuan, Alfarini berjalan menunduk. Tentu tak ada orang yang tahu, pikiran apa yang sedang berkecamuk di benaknya.
Banyak orang marah. Seorang ibu rumah tangga, "pemuja" Aa sampai-sampai harus membuang beberapa kaset penyejuk hati yang dimilikinya ke jalan. Para pengendara pun tersenyum, entah simpul atau kecut. Barangkali itulah sebagian dari pemandangan dalam seminggu terakhir ini, setidaknya setelah mendengar Aa menikah lagi, atau berpoligami.
Perempuan Luar Biasa
Orang lalu menerka-nerka dan mengonstruksi pikiran tentang latar belakang kenapa kiai muda itu menempuh jalan poligami? Kenapa pula pernikahan itu dilakukan diam-diam bahkan sudah tiga bulan yang lalu? Bagaimana mereka merajut hubungan sebelum sampai ke pernikahan? Benarkah untuk melakukan itu, Aa kabarnya telah mempersiapkan selama lima tahun?
Mari kita hubungkan antara syair di atas dan keadaan Teh Ninih. Perempuan hebat itu telah melahirkan tujuh anak dari rahimnya. Suatu jumlah yang tidak sedikit untuk musim sekarang. Jika harus dibandingkan dengan rata-rata rumah tangga, kehadiran jumlah anak yang sedemikian itu tergolong luar biasa. Lebih luar biasa lagi adalah kekuatan untuk melahirkannya satu demi satu. Hanya tubuh perempuan kuat saja yang bisa seperti itu.
Dengan anak-anak yang masih kecil, pastilah setiap hari terdengar rengekan satu dengan lainnya. Si kecil yang masih berumur dua tahun, pastilah bisa panas badan, berkeringat buntet yang tidak nyaman dan menangis karenanya. Jika saat demikian, sang "bapak" tidak ada di tempat karena sedang berusaha berbuat "adil", kepedihan ibu itu harus "diletakkan" di mana?
Jagalah hati, jangan kau nodai. Jagalah hati lentera hidup ini...
Wajah lelah Teh Ninih sangat kuat terpancar. Guratan bagian tertentu di wajahnya kuat terlihat. Melahirkan bukan pekerjaan sederhana, membutuhkan energi yang besar, dan taruhan nyawa. Setidaknya, sekian kali melahirkan, sekian kali pula mempertaruhkan nyawa.
Penulis bahkan merasa tidak perlu menambah anak ketika melihat betapa beratnya istri melahirkan anak kedua. Setiap kali melihat anak-anak yang mungil, terbersit untuk "kepengin" lagi. Akan tetapi, pada saat yang sama, terbayang betapa beratnya istri saya menggendong "drum band" sembilan bulan lebih lamanya.
Menunggu istri melahirkan, dada terasa sesak. Menunggu proses "pembukaan" yang ada hanyalah doa. Dan, mendengar rintihan istri menjelang melahirkan, tak kuat untuk tidak meneteskan air mata... Belum lagi pada saat-saat yang begitu melelahkan setelah melahirkan.
Lega Hatikah?
Sebuah pemandangan yang "elok" ketika Aa bersama dua istrinya berjalan. Istri lebih dulu, berusaha mesra dengan senyuman bersama sang suami, sedangkan istri berikutnya, tertunduk. Wajah yang satu terlihat lelah, dan satunya masih terlihat "ranum". Orang Jawa mengatakan, randha kempling. Meminjam salah satu bait dalam nyanyian Campursari. Pemandangan itu tentu menimbulkan tafsir.
Kenapa yang terjadi selalu seperti itu, istri berikutnya selalu dipilih lebih muda, lebih cantik, dan lebih fresh. Kenapa pula yang terjadi bukan sebaliknya, istri berikutnya yang lebih tua, lebih bergurat, lebih lelah, dan seterusnya.
Perih tetapi penuh senyum dari Teh Ninih bisa ditafsirkan berbeda. Apakah dia lega hati saja karena suaminya poligami? Ataukah ia terlepas beban untuk melahirkan dan melahirkan lagi? Hanya hati nurani Teh Ninih yang bisa menjawab. Yang kita tahu, perempuan biasanya lebih banyak "bekerja" dengan perasaan, sedangkan laki-laki dengan logikanya.
Perasaan banyak dikendalikan hati nurani, sedangkan otak lebih mendorong nafsu. Pengelolaan hati nurani secara terus-menerus akan memberikan ruang yang makin luas bagi pribadi untuk makin bijak, lembah manah, tawaduk, mudah sekali menghadirkan Tuhan dalam dirinya, dan sebagainya. Sedangkan bersandar pada otak hanya akan melahirkan sikap-sikap penuh nafsu, jumawa, merasa dirinya lebih hebat, dan segala jenis sikap rumangsa.
Perasaan yang makin halus, pertanda hati nurani semakin hidup. Dominasi hati nurani itulah yang menjadikan manusia lebih berbudi, yang pada akhirnya mendorong sampai pada kesadaran, kebijaksanaan, kekasihsayangan, kebenaran, kesucian, kebertanggungjawaba n, dan kekuatan sejati. Sebaliknya, nafsu yang didorong oleh kekuatan otak hanya akan melahirkan nepsu-nepsu yang tidak terkendali, yakni cenderung berbuat tidak suci seperti menipu (Sengkuni), serakah dan angkara murka (Duryudana), suka merebut hak orang lain (Rahwana). Maka, manusia yang sudah pada tataran mampu memperhalus budi, menguasai hati nurani akan mampu pula menguasai keempat nafsunya, yakni nafsu merah (amarah), nafsu hitam (aluamah), nafsu kuning (supiah), dan nafsu putih (mutmainah).
Para sanyasin (manusia suci) adalah orang-orang yang mengerti agama yang tidak lagi berada di tataran ilmu, tetapi sudah berada di tahapan agama itu laku. Mengerti saja tidak cukup, karena itu hanyalah pekerjaan otak. Sebaliknya, mempraktikkan dan menjiwai dalam perilaku mampu mendorong pada tataran jumbuhing kawula Gusti. Di setiap sepersekian detik, di hatinya selalu ada Tuhan. Agama yang hanya dimengerti saja hanya menjadi konsumsi otak yang akhirnya hanya akan mendorong nafsu saja, yakni rumangsa ngerti.
Mengerti secara ilmu belum cukup karena harus pula dibarengi dengan hati nurani. Maka, sebenarnya "jagalah hati jangan kau nodai" itu secara teks ajaran benar. Nah, implementasinya yang berat. Syair yang dibantu dengan suara empuk dan peralatan rekam yang canggih bisa melenakan, tetapi ketika tidak dilaksanakan, dampaknya sungguh amat dahsyat.
Dan, ketika para ibu sedang menggugat, malah dibilang sebagai "kurang ilmu", penulis menjadi ragu, apakah benar kebesaran Aa bisa mengeluarkan pernyataan seperti itu. Baiklah, jika memang "kurang ilmu", lalu di mana syair tentang hati itu harus dinyanyikan dan ke mana harus ditujukan? Apakah hanya kepada orang lain? Lalu, di mana posisi pengarangnya?
Pertanyaan yang sering menggoda untuk ditujukan kepada para pelaku poligami adalah, apa motivasi paling dasar ketika memilih jalan itu. Tanyalah pada hati nurani, dan biarlah "dia" yang menjawab. Bukankah untuk pelampiasan "kelebihan" nafsu? Atau yang terjadi malah bisa sebaliknya, memilih poligami agar bisa disebut lelaki gagah, kuat, atau penuh talenta? Lelaki merasa menjadi hero ketika dirinya seolah-olah telah memenangi peraihan atas diri perempuan. Lelaki merasa dirinya menjadi super ketika dirinya telah "mengoleksi" sekian perempuan dalam kehidupannya.
Padahal, yang terjadi adalah penampakan kelemahan yang amat sangat. Tidak ada dalam satu kamus pun bahwa lelaki bisa memenangi seks dengan perempuan. Tidak pernah terjadi. Maka, tidak ada obat kuat untuk perempuan. Yang ada, mulai dari jamu-jamuan sampai pil yang paling heboh sekalipun diperuntukkan kaum lelaki. Dengan memiliki sekian banyak istri "seolah-olah" dirinya kuat. Justru yang terjadi sebaliknya. Mesakke ! Para peserta poligami justru menunjukkan ketidakmampuan menguasai diri terhadap tubuh perempuan.
Ilmu dengan Laku
Kalau yang dimaksud Aa Gym bahwa mereka yang mengecam poligami karena "kurang ilmu" maka kita mesti mengonstruksi lagi pengertian ilmu itu. Apakah sekadar ajaran dalam teks dan dalil yang sepi praktik, ataukah seperti yang diuraikan dalam Serat Wedhatama, Pocung 33 yang menyebutkan: Ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani setya budya pangekese dur angkara. Artinya, penghayatan ngelmu dalam kehidupan nyata adalah berupa laku atau lampah batin yang sungguh-sungguh.
Karena ilmu agama itu berhubungan tentang ilmu batin manusia, maka akan menjadi berarti kalau dilaksanakan, dimiliki disertai dengan laku utama dan budi pekerti yang senantiasa mengendalikan hawa nafsu. Dan, penerapan ilmu pengetahuan merupakan pembinaan akal budi yang kuat dan dapat diarahkan untuk menyertai pembentukan sebuah pribadi yang berkesadaran luhur. Penguasaan ilmu yang tinggi, ditambah dengan kesadaran beragama yang tinggi, seharusnya mampu melepaskan dari gairah hawa nafsu. Pemahaman literer tentang poligami itu benar, tetapi tidak tepat. Bener ning nora pener.
Ketika seorang Begawan sekelas Aa yang masih terperangkap "hanya" pemahaman seperti itu, dan ternyata itu "melukai" begitu banyak ibu-ibu rumah tangga, lalu apakah hati Aa bisa dengan enteng mengatakan, "sak karepku to. Salahmu mengagumiku ...?" Duh. Bukankah Begawan itu harus senantiasa bijak?
Ada yang unik lagi dari Aa ketika memberikan tanggapan atas keresahan ibu-ibu itu. Katanya, jika langkah saya melukai hati ibu-ibu saya mohon maaf... Sampai di sini Aa tidak lagi beda dengan yang lain karena meskipun meminta maaf, niatnya berpoligami jalan terus. Lalu, apa makna dari minta maaf itu? Sama akhirnya dengan sebagian besar pemimpin bangsa ini yang meminta maaf karena menaikkan harga BBM, tetapi kenaikan itu jalan terus. Lho, lalu apa artinya minta maaf. Kan, sangat kuat kesannya basa-basi saja.
Padahal meminta maaf kan harus dengan hati yang tulus. Jagalah hati, jangan kau nodai...
Dan, episode Aa berpoligami ini segera menyadarkan penulis tentang akar dari penindasan terhadap perempuan yang bersumber pada sistem gender yang sangat patriarkis. Di setiap relasi perempuan dan laki-laki yang selalu dimenangkan adalah supremasi laki-laki. Sistem opresi yang berbasis kontrol laki-laki atas perempuan itu berlanjut pada pembentukan nilai-nilai, emosi, dan logika di setiap tahapan penting kehidupan manusia. Dan, perempuan baru bisa terbebas jika kontrol laki-laki di sektor kehidupan publik dan domestik dihilangkan. Ketatnya kontrol laki-laki atas perempuan itu telah merasuk dalam kehidupan keluarga, religi, bahkan akademisi, dan keadaan itu kian melegitimasi subordinasi perempuan. Muncullah kemudian rasa inferioritas perempuan terhadap laki-laki. Dan, meskipun Teh Ninih telah memberikan pengorbanan "toh nyawa" 7 kali, seolah menjadi tak begitu berarti dengan hadirnya istri yang lain.
- Penulis adalah wartawan "Suara Merdeka".
|
|
|
| Trackback Address :: http://www.blogboleh.com/choboel/trackback/52314 |
|
|
|
|
|
Surat dari Seorang Janin yang terbuang
Unrevealed Words |
2006/12/05 12:50
|
|
|
Mama sayang,
Aku di surga sekarang, duduk di pangkuan Tuhan. Ia mengasihiku dan menangis bersamaku sebab pedih pilu hatiku. Begitu ingin aku menjadi putri mungilmu.
Tidak terlalu mengerti aku akan apa yang telah terjadi. Aku begitu bergairah ketika mulai menyadari keberadaanku. Aku ada di suatu tempat yang gelap, namun nyaman. Aku melihat aku punya jari-jari dan jempol. Aku cantik seturut perkembanganku, tapi belum siap meninggalkan tempatku.
Aku menghabiskan sebagian besar waktuku dengan berpikir atau tidur. Bahkan sejak hari-hari pertamaku, aku merasakan ikatan istimewa antara engkau dan aku.
Kadang aku mendengarmu menangis, dan aku menangis bersamamu.
Kadang engkau berteriak dan memaki, lalu aku menangis.
Aku dengar Papa memaki balik.
Aku sedih dan berharap engkau akan segera baik kembali.
Aku heran mengapa engkau begitu sering menangis.
Suatu hari engkau menangis hampir sepanjang hari.
Pilu hatiku karenanya.
Tak dapat kubayangkan mengapa engkau begitu berduka.
Pada hari itu juga, hal yang paling mengerikan terjadi.
Suatu monster yang amat keji masuk ke tempat hangat dan nyaman di mana aku berada.
Aku sangat takut, aku mulai menjerit, tapi tak sekalipun engkau berusaha menolong. Mungkin engkau tak pernah mendengarku........
Monster itu semakin lama semakin dekat sementara aku terus berteriak, "Mama, Mama, tolong aku....., Mama......tolong aku."
Suatu teror yang ngeri aku rasakan. Aku berteriak dan berteriak.......hingga tak sanggup lagi. Lalu monster itu mulai mencabik lenganku. Sungguh sakit rasanya, sakit yang tak kan pernah dapat kuungkapkan dengan kata. Monster itu tidak berhenti. Oh....bagaimana aku harus mohon agar ia berhenti. Aku menjerit sekuat tenaga sementara ia mencabik putus kakiku.
Sepenuhnya aku dalam kesakitan, aku sekarat.
Aku tahu tak kan pernah aku melihat wajahmu atau mendengarmu membisikkan betapa engkau mengasihiku.
Aku ingin menghapus butir-butir air matamu.
Aku punya begitu banyak rencana untuk membuatmu bahagia, Mama....Tapi aku tak dapat. Mimpi-mimpiku musnah sudah.
Walau menanggung sakit tak terperi pedih dan pilunya hati kurasakan melampaui segalanya. Lebih dari segalanya aku ingin menjadi putrimu.
Tak ada gunanya sekarang, aku meregang nyawa dalam sengsara tak terkatakan. Hanya hal-hal buruk yang terlintas di benakku. Begitu ingin aku mengatakan bahwa aku mengasihimu, sebelum aku pergi. Tapi, aku tak tahu kata-kata yang dapat engkau mengerti.
Dan segera saja, aku tak lagi punya napas untuk mengatakannya; aku mati.
Aku merasa diriku terangkat, seorang malaikat besar membawaku ke suatu tempat yang besar dan indah. Aku masih menangis, tapi segala rasa sakit tubuhku sirna sudah. Malaikat membawaku kepada Tuhan dan membaringkanku dalam pelukan Nya. Tuhan mengatakan bahwa Ia mencintaiku. Lalu, aku merasa bahagia. Kutanya pada-Nya, apa itu yang membunuhku.
Jawab-Nya, "Aborsi, Aku menyesal anak-Ku; karena Aku tahu bagaimana ngeri rasanya."
Aku tidak tahu apa itu aborsi; Aku pikir mungkin nama monster itu.
Aku menulis untuk mengatakan betapa aku mengasihimu......dan mengatakan padamu betapa ingin aku menjadi putri mungilmu.
Aku telah berjuang sehabis-habisnya untuk hidup, aku ingin hidup......! Kuat keinginanku, tapi aku tak mampu; monster itu terlalu kuat...Dicabik-cabiknya lengan dan kakiku dan akhirnya seluruh tubuhku.....
Tak mungkin bagiku untuk hidup. Aku hanya ingin engkau tahu bahwa aku berusaha tinggal bersamamu. Aku tidak mau mati! Juga Mama, berhati-hatilah terhadap monster bernama aborsi itu. Mama aku mengasihimu.....Aku sedih engkau harus menanggung rasa sakit seperti yang kualami.
Berhati-hatilah,
Peluk cium,
Bayi Perempuanmu.........
sumber: Silent Scream of a Baby |
|
|
| Trackback Address :: http://www.blogboleh.com/choboel/trackback/52313 |
|
|
|
|
|
Nicole Kidman & Euan MacGregor - Come What May
My Favorite Songs |
2006/05/23 11:24
|
|
|
 Never knew I could feel like this Like I've never seen the sky before I want to vanish inside your kiss Every day I'm loving you more and more Listen to my heart, can you hear it sings Telling me to give you everything Seasons may change, winter to spring But I love you until the end of time
Come what may Come what may I will love you until my dying day
Suddenly the world seems such a perfect place Suddenly it moves with such a perfect grace Suddenly my life doesn't seem such a waste It all revolves around you And there's no mountain too high No river too wide Sing out this song I'll be there by your side Storm clouds may gather And stars may collide But I love you until the end of time
Come what may Come what may I will love you until my dying day
Oh, come what may, come what may I will love you, I will love you Suddenly the world seems such a perfect place
Come what may Come what may I will love you until my dying day
For downloading the mp3 version of this song, click http://www.binaswadaya.org/NicoleKidman&EuanMacGregor-ComeWhatMay.mp3 |
|
|
| Trackback Address :: http://www.blogboleh.com/choboel/trackback/52312 |
|
|
|
|
|
| Ini ceritaku, ini kisah hidupku. Karena aku cuma manusia biasa, jadi cerita yang kutampilkanpun sederhana dan biasa saja. Tak berbeda dengan kamu dan orang lain, I'm just ordinary person. So if you want to know me more, give me a call. |
<<
2012/02
>>
| S |
M |
T |
W |
T |
F |
S |
|
|
|
1 |
2 |
3 |
4 |
| 5 |
6 |
7 |
8 |
9 |
10 |
11 |
| 12 |
13 |
14 |
15 |
16 |
17 |
18 |
| 19 |
20 |
21 |
22 |
23 |
24 |
25 |
| 26 |
27 |
28 |
29 |
|
|
|
|
|
Guest141444 02:11 - Today
Total : 7723
Today : 1
Yesterday : 2 |
|
|