|
'KOPAJA Story'
23건 2005/12/21 17:43, KOPAJA Story
![]() Ada sedikit perbedaan antara nyetir di hari biasa dengan nyetir di hari dengan angin kencang seperti ini. Masalahnya, si jupi suka terpengaruh dengan tiupan angin dan seringkali oleng ke kiri atau kekanan karena tekanan angin. Jadinya jalan mesti dengan full kehati hati an. Apalagi kalo jalan di dekat kendaraan berbadan besar seperti bus ataupun truk, tekanan anginnya menjadi lebih besar lagi dan gak seimbang. Entah apa itu daku sahaja ataukah pengendara yang lain turut merasakan hal serupa. Tapi yang jelas sih dituntut kehati-hatian tambahan sekarang2 ini. Have a nice day, $user 2005/09/15 22:27, KOPAJA Story
Kemaren coba coba nyari jalan alternatif yang lebih singkat berujung dengan kegagalan. Ya kalo di liat dari satu sisi sih mungkin bisa di bilang kegagalan karena gue malah nyasar sampe ke Lenteng Agung. Tapi kalo di liat dari sisi lain, bukan juga kegagalan, karena jadi tau jalan pintas untuk ke Lenteng Agung (entah mo ngapain ke sono) :D Tapi tadi pagi mencoba memperbaik kesalahan kemarin dan alhamdulillah sukses walafiat. Nemu jalan pintas yang lumayan cepat dan gak [terlalu] macet. Ternyata mengendarai motor tiap hari cukup melelahkan juga rupanya. Apalagi menempuh jarak yang cukup jauh - Mampang - Parung (38km). Temen gue malah ada yang bilang kalo naek motor bisa bikin orang jadi kurus. Tadinya gue mengiyakan aja dengan cueknya ketika dia ngomong gitu sampe tadi pagi pas gue masuk kantor, ada temen cewek (yang mungkin lagi terobsesi dengan penurunan berat badan) yang nyelutuk, "Din, elo keliatan kurusan sekarang. Pake apaan?" Karena gue teringat ucapan temen gue kemaren, spontan aja gue jawab "Pake motor..", jawabku singkat sambil tersenyum .. :) 2005/08/26 17:08, KOPAJA Story
Secara sepintas, hari ini sama dengan hari kemaren, sama dengan hari sebelum kemarin. Pergi dari rumah ke halte busway Mangga Besar, naek busway, turun di Polda Metro. Dari situ sambung lagi naek KOPAJA 66 turun di Lampu Merah kuningan lalu berjalan kaki ke kantor.
Setting: Busway (Bus TransJakarta - tije), berpenumpang penuh tapi tidak penuh. Maksudnya penuh karena semua tempat duduk sudah terisi penuh. Tidak penuh karena masih ada space kosong banyak untuk mereka mereka yang mau berdiri. Pemeran Utama: Seorang Ibu Hamil Tua -- sebagai Hamilton Seorang pemuda berbadan kekar, nampaknya rajin fitness -- sebagai Raji Seorang pria umur 30-an, berpakaian kantoran rapi -- sebagai Toran Seorang wanita muda, anak kuliahan, mahasiswi Universitas Atmajaya -- sebagai Siswia Seorang penulis blog, masih muda, punya anak satu, baik hati dan tidak sombong jagoan lagi pula pinter, berkacamata yang berperan sebagai blogdino. Action: Busway berhenti di halte Monumen Nasional. Beberapa penumpang turun, tapi lebih banyak yang naik. Salah satu diantara mereka adalah seorang Ibu Hamilton. Ibu Hamilton berpegangan ke tiang yang dekat pintu. Di jejeran bangku di depannya, duduklah Siswia, Raji dan Toran. Toran dan Raji saling pandang pandangan. Nampaknya mereka sadar akan keberadaan Ibu Hamilton yang ada di depan mereka. Toran berkata dalam hati: "Wah ada ibu hamil nih. Masa di biarin berdiri sih, mestinya dia dong yang mesti berdiri. Kan tempat duduknya lebih deket ama si ibu itu." Raji berkata dalam hati: "Dia? dia siapa maksud loe? Gue?" Toran berkata dalam hati: "Ya iyalah, emang siapa lagi? Masa sopir yang mesti berdiri." Raji berkata dalam hati: "Yang mesti berdiri itu mestinya elo. Elo kan masih muda, badan elo besar, otot loe kekar. Sementara gue kan lebih tua dari elo. Dimana mana juga yang muda yang ngasih tempat duduk buat yang lebih tua." Toran bergumam dalam hati: "Ada pepatah bilang, Siapa dekat dia yang dapat. Nah kan elo yang lebih deket, berarti elo dong yang dapet kesempatan buat ngasih tempat duduk buat si Ibu." Raji berpikir dalam hati: "Kalo soal deket deketan sih, si cewek itu tuh yang pas di depan si Ibu. Ya berarti dia dong yang mesti berdiri.." Siswia berpikir dalam hati: "Ah, kalian berdua bisanya ngomong doang. Kalo gak mo ngasih mah ya bilang aja sekalian, gak usah pake pepatah duapatah kata segala. Dasar pria pria egois. Huh!" Siswia lalu berdiri dan memberikan tempat duduknya buat si ibu. Si ibu berkata dalam hati: "Aduh baik sekali. Makasih ya dek." Siswia ganti berpegangan di tiang bus sambil berkata dalam hati: "Sama sama, bu" Blogdino lalu berpikir dalam hati: "Ini kok pada ngomong dalam ati tapi kok bisa sahut sahutan gitu ya? Busway yang aneh". 2005/03/04 14:29, KOPAJA Story
"Kiri bang... kiriiiiii....." sang angkot lalu berhenti pas di tempat yang diinginkan. Blogdino seperti biasa mengeluarkan dua lembar uang kecil seribu rupiah seharga Rp. 2000 dan memberikan kepada sang sopir. Blogdino menunggu kembalian satu lembar uang lima ratusan saparti biasana.. Tapi sang gopek yang di nanti nanti tak kunjung tiba. Untuk beberapa saat lamanya terjadi tatap tatapan mata antara blogdino yang berharap dan sang sopir yang kebingungan kenapa si penumpang satu ini masih aja termangu di depan pintu depan. Akhirnya sang sopir baru sadar. "Oh, udah pas kang... Taripna emang sagini", dengan logat sunda yang kental manis (susu bendera kali ye kental manis) "Lho? biasanya kan saribu lima ratus, bang.", mencoba meniru logat sunda sebisanya. tapi bukannya jadi logat sunda kental manis malah jadi logat sunda asem manis. "Gak gitu kang... ini tarip baru kang.." "Oo.. jadi sekarang dah naek jadi 2.000 ya?" "Nah iyah kang.. betul sekali" "Ya udah deh kalo gitu.. Kembaliannya simpen aja deh, kang.." kata blogdino sambil berlalu pergi 2005/03/03 08:48, KOPAJA Story
Tadi mo cerita apa ya? kok jadi ngelantur gini.. oh iya.. di atas kereta kemaren itu ada seorang penjual jeruk yang sedang melakukan transaksi dengan sang calon pembeli. Anggap lah si pembeli bernama $user (bukan nama aslinya). Adegan ini di mulai ketika sang penjual jeruk berteriak menyebut2 nama dagangannya bersaing dengan bunyi kereta dan bunyi pedagang lain. Persaingan yang cukup ketat juga sih. "Yaa ... yang jeruknya, jeruk... Jeruk, pak? .. jeruk, bu?"
Jadi kesimpulannya sesuai dengan pesan bang napi, jika ingin membeli jeruk, usahakan untuk gaul terlebih dahulu biar gak salah nawar dan di teriakin ama sang penjual di dalam kereta yang penuh sesak. Jeruk gak dapet sih gak masalah.. tapi......... maluna itu, bah! 2004/11/25 06:06, KOPAJA Story
![]() 2004/11/04 06:51, KOPAJA Story
Semua yang bernyawa pasti merasakan mati. Semua yang sering naek KOPAJA pasti pernah merasakan di "transfer" ke KOPAJA lain. Sebagian orang cuek cuek aja di pindahin ke KOPAJA lain, sebagian pindah tapi dengan muka cemberut , sebagian pindah tapi dengan umpatan dan makian, sebagian dengan ngototnya mempertahankan ibu pertiwi tidak mau pindah ke lain hati eh, KOPAJA.
Seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu. Seperti biasanya, P20 yang ke Lebak Bulus baru setengah jalan udah mulai sepi penumpangnya, sementara banyak P20 yang lain berkeliaran. Gue udah duga kalo tanda2nya seperti ini biasanya pasti bakal pindah bus. Bener aja, gak berapa lama jalan, P20 yang gue tumpangin memberi tanda ke P20 yang lain untuk berhenti dan penumpangnya di minta untuk pindah. Dua orang bapak bapak 0.4baya (setengah baya kurang dikit) ngotot habis habisan gak mau beranjak dari tempat duduknya. Sempat juga memprovokasi penumpang2 yang lain untuk jangan turun. Akhirnya bapak itu mau turun tapi dia gak mau pindah ke P20 yang satu lagi. Dia malah minta uangnya di balikin aja. Terjadi pertukaran kata kata makian dan sekilas terdengar bunyi jotosan. Ngapain juga sih beradu argumentasi seperti itu. Yang rugi juga diri sendiri. Kalaupun uangnya bakal di balikin ke dia, dan dia gak mau naek P20 yang satu lagi, dia tetap harus naek P20 yang lain. Dan itu berarti mesti nunggu lagi, sementara kalo dia naek P20 yang udah ada itu, dia bakal lebih cepat sampe. Aku sendiri sih gak masalah kalaupun mesti di pindahin, toh yang penting nyampe ke tempat tujuan. Tapi entahlah kok ada sebagian orang yang mati-matian ngotot untuk tetap tinggal di tempat. Mungkin bagi sebagian orang, egonya terlalu besar untuk ngalah ke orang lain. Merasa diri terlalu hebat untuk mendapatkan perlakuan tertentu. Atau mungkin cuma sifat sebagian orang yang mau kalah tapi pihak lain juga harus sama sama kalah. Gak apa apalah gue gak dapet apa yang gue mau asalkan si X juga harus kehilangan sesuatu. Setelah gue pikir2 lagi, sifat2 seperti itu sering sekali muncul di film film, dan orangnya berperilaku psikopat. Dengan kalimat2 berupa "Kalau aku tidak dapat memilikinya, maka tidak ada seorang pun yang boleh". Semoga aku tidak termasuk orang orang seperti itu, moga-moga sifat seperti itu gak ada dalam diriku... 2004/10/22 10:38, KOPAJA Story
![]() "Ah, kayaknya itu aja deh.. pasti entar lagi berangkat", pikirnya. Tanpa pikir panjang kali lebar kali tinggi, akhirnya dia melengos naik ke atas angkot biru, lagi lagi dengan sebuah pekikan "Hup!".. Begitu meletakkan tubuhnya di atas kursi penumpang angkot, sayup sayup tercium semerbak aroma yang sudah tidak asing lagi. Aroma angkutan kota di sore hari yang di penuhi oleh pekerja pekerja yang sudah lelah seharian bekerja, dengan muka capek dan mata sayu sayu basah. Dia tidak terlalu ambil pusing karena tiba tiba dia juga mulai di serang rasa kantuk dan rasa penat bin lelah setelah seharian bekerja demi menghidupi keluarga. Ya, keluarganya yang sedang menunggunya di rumah. Tak sabar rasanya dia ingin berada kembali di tengah tengah anak dan istrinya. Walaupun kadang sang anak yang berada di tengah tengah dirinya dan sang istri. Di kesempatan lain, sang istri yang berada di tengah tengah suami dan sang anak. Apapun itu, dia cuma ingin berada bersama mereka, bercanda tawa tiwi. Akhirnya penumpang terakhir pun tampil ke atas angkot setelah di persilahkan oleh MC (baca: calo angkot) yang mengumandangkan suara, "Parung! Parung! Satu lagi! Satu lagi!". Angkutan kota itu pun beranjak pergi dari peraduannya menuju haribaan Parung nun jauh di mata. Untunglah di perjalanan, suasana lalu lintas dan lalu lalang kendaraan tidak begitu terasa. Lumayan sepi di bandingkan dengan hari hari sebelumnya. Tapi dia baru menyadari ada sesuatu yang lain dari yang lain di antara keheningan kendaraan yang berseliweran di jalanan ke Parung malam itu. Angkutan kota itu tidak berjalan secepat yang dia perkirakan di jalanan yang lumayan sepi itu. Dalam istilah para pengendara angkot, supirnya dapat dikatakan "Nggak Maen" alias gak berani nyalip kendaraan yang ada di depannya. Sejenak dalam hatinya terbersit ah, pasti bukan orang medan si supir. Dan ternyata benar, ketika sang supir ber-ngobrol dengan salah seorang penumpang, kedengaran dari logatnya yang medhok kalo dia bukanlah seorang batak-ers. Ah, tiada guna meratapi nasib. Maksud hati ingin cepat sampai ke rumah apa daya dapat angkot yang lambat. Tapi biarlah.. Biar lambat asal gak terlambat, kalo kata pepatah. Terkadang dalam hidup ini ada saat dimana kita bisa merubah keadaan yang kita sedang alami, dan ada pula saat saat dimana kita hanya bisa pasrah dan menikmati perjalanan hidup ini. Enjoy the ride kalo kata orang orang bule. Untuk keadaan yang saa itu, pikirnya, pilihan kedua lah yang lebih tepat. "Toh semuanya udah diatur oleh Yang di Atas sana", pikirnya menghibur diri... Akhirnya dia hanya bisa menangkan diri dan menutup mata hingga akhir tujuan, mencoba untuk ber-leha sebisa nya sambil membayangkan berada di antara keluarganya. 2004/10/16 14:23, KOPAJA Story
Wawancara dengan blogdino....
$user : blogdino... gimana kabar loe hari ini? blogdino : oh, gue baik2 aja thx.. alhamdulillah, puji tuhan.. $user : bisa gak elo berbagi cerita soal pengalaman elo pagi ini? blogdino: oh iya.. ngomong2, tadi pagi saya naek angkot bersama kambing, bukan cuma satu.. gak juga dua.. tapi tiga ekor sekaligus... $user : hah $user : kok bisa $user : kambing sodara sapi tu $user : oo blogdino: trus di naekin angkot.. $user : gila org2 gak pada protes? blogdino: soalnya lagi sepi ama penumpang.. jadinya sopir angkotnya mungkin mikir.. ah daripada gak dapat sewa (istilah sopir angkot untuk menyebut penumpang) kambing ayo aja dah.. (kalo kata pepatah, gak ada sewa, kambing pun jadi) $user : oo $user : kakakakak blogdino: gak ada orang.. cuma gue doang di belakang, ama dua orang cewek di depan... trus naek kambing tiga ekor ama yang punya kambing blogdino: tadinya sih salah satu dari dua cewek itu duduk di belakang, tapi pas kambingnya mo naek angkot, sang sopir nyaranin si cewek buat duduk di depan aja. Tadinya si cewek agak nolak.. ah, cuma kambing doang ini kok.. tapi begitu kecium semerbak aroma kambing si cewek gak perlu di suruh dua kali untuk duduk di depan. Udah duduk di depan pun masih aja nutupin idung pake tissue (yang pasti sih..tissuenya gak bau kambing). $user : hahaha.. gila juga sampe segitunya ya baunya.. blogdino : oh iya, perlu di inget juga bahwa kambing yang ada dalam angkot itu tiga ekor lho, bukan cuma satu.. jadi ya.. serasa berada di atas kandang kambing berjalan gitu lah.. :D $user : si kambing heran gak ya naek angkot blogdino: gue sih gak sempat berbincang bincang ama tuh kambing sepanjang perjalanan, karena kambingnya agak minder jadi duduknya paling belakang ama yang punya kambing. Mungkin kambingnya sadar kali ya kalo baunya kayak kambing.. blogdino: gue sih gak pernah ketemu ama tuh kambing selama gue bolak2 naek angkot di daerah situ.. so gue pikir itu pasti pertama kalinya si kambing naek angkot. Salah satu buktinya, si kambing pas turun dari angkot gak duluin kaki kiri.. :D blogdino: kayaknya sih yang pertama kali nya deh... entah untuk yang terakhir kalinya atau bukan.. blogdino: kasian juga yah jadi kambing,... hidup jadi kambing hanya untuk di potong dan jadi santapan manusia di atas meja makan atau jadi sate kambing $user : jadi sedih $user : sapi juga gitu dong? ayam? $user : babi? bebek? $user : dan semua hewan? blogdino: iyah kayaknya sih .. (sambil ngelus2 dagu) $user : hmmm... pengalaman yang menarik.. terima kasih atas waktunya. blogdino : sama-sama, $user.. $user : eh, ngomong ngomong, elo tahan juga ya duduk satu angkot ama kambing tiga ekor blogdino : hehehe.. mestinya yang hebat itu kambing-kambing itu.. bisa tahan duduk satu angkot ama blogdino .. 2004/10/02 11:47, KOPAJA Story
Anak kecil yang baru bisa ngomong, emang kadang bikin nge-gemesin. Dari lidah mereka yang mungil terkadang terlontar ucapan yang lugu dan mungkin belum pernah terpikirkan oleh kita semua.
Pagi ini blogdino diangkut (kambing kali ye di angkut) ama angkot 106 Jurusan Parung Lebak Bulus Fakultas Keangkotan Umum. Tidak lama setelah blogdino meletakkan pantatnya di atas bantalan empuk (mimpi kali ye?!) kursi angkot, sekonyong konyong naiklah seorang ibu dan seorang anaknya yang masih kecil. Kalo di tilik (tilik??) dari pakaian si bocah, nampaknya sang ibu ini sedang menghantarkan anaknya ke sekolah (sekolah TK aja kok jauh2 banget ya... mungkin karena nyari yang bagus kali ya?). Kendaraan yang blogdino beserta 13 orang penumpang lain dan 1 supir tumpangi pun beranjak dari tempat etem (kata dasar dari nge-tem) nya. Sang angkot berjalan dengan tersendat sendat karena macet. Begitu melewati Rumah Sakit deket terminal Parung, situasi masih juga macet. Dan terjadilah percakapan berikut ini titik dua. Bocah Cilik : Mama..mama... Bocah Cilik menarik narik lengan baju mamanya Sang Ibu : (dalam hati) aduh.. baju ibu jangan di tarik2 dong nak. entar robek kan bahaya Sang Ibu : Iya... ada apa sayang? Bocah Cilik : Mama...mama.. itu angkotnya warna putih.. Bocah Cilik menunjuk nunjuk ke arah sebuah Ambulans yang sedang di parkir di halaman Rumah Sakit. Sang Ibu : Angkot yang mana, nak? Bocah Cilik : Itu mah.. angkot yang di depan warung itu (sambil nunjuk2 ambulansnya) Sang Ibu : Ooo... itu toh. Itu namanya ambulans, nak (jawab sang ibu dengan sabarnya) Bocah Cilik : Rembulan yah, mah? Sang Ibu : Ambulans, nak.. bukan rembulan.. Bocah Cilik : Mama... Mama... (sambil narik narik lengan mamanya) Sang Ibu : Kenapa, sayang? Bocah Cilik : Mama.. Angkot Ambulan nya kok gak ada penumpangnya? Sang Ibu : Ambulan nya gak ngangkut penumpang, nak.. tapi ngangkut orang sakit. Bocah Cilik : Kalo gitu ade gak mau ah naek angkot ambulan.. nanti ade jadi sakit kalo naek angkot ambulan. Bocah Cilik : Mama.. mama... kalo supir angkot ambulan sakit juga gak? Sang Ibu : (masih mencoba untuk sabar) Enggak sayang.. supir ambulan gak sakit. Penumpangnya aja yang sakit. Bocah Cilik : Kalo gitu ade jadi supir angkot ambulannya aja deh biar gak sakit.. Sang Ibu : (dalam hati) waduh ??! ... |
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||



