................
salah satu kunci penting dalam tudang sipullu adalah Niat yang jujurdan benar untuk mendamaikan, Allah berfirman tentang dua orang penengahyang mendamaikan suami-istri yang berselisih: Jika kedua hakam itubermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepadasuami istri itu [An-Nisaa : 35], kalau dalam masalah mendamaikan suamiistri saja Allah menjanjikan taufiq untuk membantu mereka berdua (Duahakim tersebut), apalagi orang yang berusaha untuk mendamaikan antarakaum muslimin, tidak diragukan lagi dia akan diberi kekuatan taufik-insya Allah-, apabila terpenuhi padanya niat jujur (benar), karenakejujuran niat itu merupakan salah satu sebab hilangnya perselisihan,sehingga diapun menjadi kunci kebaikan yang Allah mudahkan dengannyaterjadi perdamaian.
coba pertimbangkan beberapa kerugian yang telah dialami:
mandeknya kegiatan remaja masjid
larangan dari pak RW
beberapa medan dakwah tertutup antara lain TPA dsb
silaturahmi yang terganggu
kesalah pahaman warga terhadap masalah yang terjadi.
tidak ada obat instant yang berupa quickfix, tapi hal tersebut bukan pula berarti masalah tersebut kita biarkan saja.
coba dengan hal yang sederhana yang tampaknya kecil tapi konsisten.jangan terlalu difikir ttg kegiatan apa yg sederhana, itu akan hadirsendiri, nah pada saat ide itu datang, jalankan, jangan ditunda2 denganhal2 yg rumit. misalnya membersihkan halaman masjid pada setiap harijumat, entah itu sebelum atau sesudah shalat jumat, niatnya amal saja,namun jika dilaksanakan dengan konsisten, insya Allah dalam tiga minggusudah ada pintu2 ide dan kesempatan yang terbuka, namun kegiatanmembersihkan masjid sebagai kunci awal jangan ditinggalkan itulah yangaku maksud dengan konsisten.
tentang rencana tudangsipulung yg "gatot" (Gagal total) sebetulnyabanyak memberi pelajaran bagi kita, menurut aku, gak tahu bener atauenggak, fulan cs masih rentan terhadap kebenaran yang sedang merekapertahankan, jadi sebaiknya dihindari dulu konfrontasi secara langsung,tahukan bagaimana kalau seorang anak kecil dapet mainan baru, merekabelum saatnya berbagi, karena masih dalam tahap meresapi dan memiliki,bagaimana kita mau berbagi jika kita belum memiliki?
Alhamdulillah, aku sempet mendalami berbagai aliran dalam islam, danfanatisme buta adalah penghalang yang paling kokoh bagi siapapun untukmengenali Rahmatan lilalamin (Islam). Ustad2 di Wihdah dijalan Dg.Sirua, seperti Ustad Ikhwan Abdul Jalil, ustad Ilham jaya yang keduanyasangat ahli dalam masalah Tauhid juga mengajarkan "Gazwul Fikr" atauperang pemikiran/opini atau invasi pemikiran, dari beliaulah sayamemiliki kesimpulan bahwa tidak pada tempatnya bagi siapapun yangmengaku sebagai Thalabul Ilmi (manusia pembelajar/penuntut ilmu)menyerang kepercayaan muslim lainnya tanpa kebijaksanaan hikmah danpelajaran " Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah danpelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”[An-Nahl : 125] dimana letak kebijaksanaan kiranya dengan memahamisejauh apa yang bisa diterima oleh saudara muslim kita terhadap apayang akan kita sampaikan. segala sesuatu ada tahapannya, bahkanAl-Quran turun secara bertahap berdasarkan kemampuan pemahaman umatsaat itu. lagi pula seorang pelaku bid'ah belum tentu dapat dikatakansebagai ahlul bid'ah.
Berkata Syaikh yang mulia, al-Muhaddits al-Ashr al-Mujaddid al-FaqihMuhammad Nashirudin al-Albani -Rahimahullah- di dalam kaset Silsilahal-Huda wan Nur ash-Shouthiyah no 784 side A, sebagai berikut :
"Syuf (perhatikan) wahai saudaraku! Aku menasehatkanmu dan para pemudalainnya yang berada di jalan munharif (menyeleweng) sebagaimana tampakpada kami, wallahu a'lam, untuk tidak membuang-buang waktumu untukmencela satu dengan lainnya dan sibuk dengan mengatakan fulan beginidan fulan berkata begitu. Dikarenakan, pertama, hal ini tidaklahtermasuk ilmu sama sekali, dan yang kedua, uslub (cara) ini akanmerasuk ke dada dan menyebabkan kedengkian serta kebencian di dalamhati. Wajib atasmu menuntut ilmu!!! Karena ilmulah yang akanmenyingkapkan apakah perkataan ini yang mencela Zaid atau fulan darimanusia dikarenakan dirinya memiliki banyak kesalahan, apakah berhakbagi kita untuk menyebutkan shohibul bid'ah atau mubtadi' ataukahtidak?? Apa yang harus kita lakukan dengan mendalami perkara ini?? Akutidak menasehatkanmu untuk mendalami seluruh perkara ini denganbenar-benar, karena hakikatnya kita sekalian sedang mengeluhkanperpecahan ini yang terjadi di tengah-tengah orang-orang yangberintisab (menisbatkan diri) pada dakwah al-Kitab dan as-Sunnah, atausebagaimana kita menyebutnya, Dakwah Salafiyah.
Syaikh juga berkata tentang definisi siapakah mubtadi' itu di dalamkaset Silsilah Huda wa Nur ash-Shouthiyah no 785 side B, sebagaiberikut :
"Atsar Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu bermanfaat untuk menunjukkancontoh dari terjatuhnya seorang alim kepada bid'ah tidaklah serta mertamenjadikannya mubtadi' dan jatuhnya seseorang kepada perbuatan haram,dengan pernyataan memperbolehkan apa-apa yang diharamkan secaraijtihad, tidak serta merta menjadikannya sebagai pelaku keharaman. Sayakatakan, atsar Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu ini menunjukkanbahwasanya ia dulu berdiri menasehati manusia pada hari Jum'at sebelumsholat, berfaidah untuk menunjukkan contoh yang shahih, bahwa bid'ahyang terkadang terjatuh kepada seorang alim, tidaklah dengan demikiania menjadi seorang mubtadi'.
Sebelum masuk ke jawaban yang lengkap, aku katakan, al-Mubtadi' adalahberawal dari kebiasaannya mengada-adakan bid'ah di dalam agama, dantidaklah orang yang mengada-adakan bid'ah, walaupun ia mengamalkannyabukan karena ijtihadnya, namun dari hawa nafsunya, tidak serta mertadikatakan dia mubtadi'!! contoh terjelas yang paling dekat denganperkara ini adalah, seorang hakim yang dhalim yang terkadang berlakuadil pada sebagian hukum-hukumnya, tidaklah bisa disebut hakim adil,sebagaimana pula seorang hakim yang adil yang terkadang melakukankedhaliman di sebagian hukum-hukumnya, tidaklah dinamakan dirinya hakimdhalim. Hal ini berkaitan erat dengan kaidah fiqh islami yangmenyatakan bahwasanya seorang manusia dilihat dari banyaknya kebaikanatau keburukannya. Jika kita telah mengetahui hakikat ini, maka kitadapat mengetahui siapakah mubtadi' itu. maka, dengan demikiandisyaratkan bagi mubtadi' dua hal, yaitu pertama, dia bukanlah seorangmujtahid namun hanyalah pengikut hawa nafsu dan kedua, dia menjadikanbid'ahnya sebagai kebiasaan dan agamanya."
[Dinukil dan di alih bahasakan oleh Abu Salma bin Burhan dari kutaibAqwalu wa Fatawa Ulama fi tahdzir 'ala Jama'atil Hajr wat Tabdi']
Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=854&bagian=0
adapun tentang Maulid aku sudahmembuat blog tentang itu, atau minimalsemoga kamu mengetahui bahwa hari kelahiran nabi Muhammad saw adalahbertepatan dengan hari kematiaanya, tidak lah bergembira lebih utamadari bersedih pada hari itu, sebagaimana yang diungkapkan olehsebahagian ulama diantara mereka Ibnul Hajj dan Al Fakihaany.
Telah disebutkan oleh Ibnul Hajj dalam kitab “Al Madkhal” hal: (2/15,16) ketika ia berbicara tentang maulid: “yang sangat mengherankankenapa mereka bergembira ria untuk kelahiran nabi saw! sedangkankematiannya bertepatan pada hari itu juga, dimana umat mendapat musibahyang amat besar, yang tidak bisa dibandingkan dengan musibah yanglainnya, yang layak hanyalah menangis, bersedih dan setiap orangmenyendiri dengan dirinya, karena Rasulullah saw bersabda: “hendaklahkaum muslimn itu teguh dalam segala musibah mereka, musibah yangsebenarnya adalah kematian ku”.
.....
----------------------
ini adalah kutipan e-mail, numpang nyimpen aja di blog buat dibaca2 kalo lg inget.
|
|