senja sehabis maghrib,, ketika satu persatu jemaah langgar al-azhar meninggalkan rutinitas menghadap sang pencipta, untuk kembali ke rumah masing-masing,, memulai kegiatan makan malam mereka barangkali...atau mereka yang belum cukup dan puas untuk lebih tekun beribadah, memilih menetap di langgar,, sembari menanti shalat isya,, yang akan datang sekitar 45 menit lagi,,,
kebiasaan ini sering di lakukan oleh sebagian jemaah langgar al-azhar... tak terkecuali Bahrul ilmi,, pemuda desa yang senantiasa menghabiskan waktunya hanya untuk beribadah
bahrul ilmi yang kukenal sejak 4 tahun yang lalu, dan kini masih setia menghadap sang pencipta,, masih saja seperti dahulu,, tidak ada perubahan pada diri dan tubuhnya.. ucapannya yang sopan santun dan berbudi itu,, serta tingkah lakunya yang mencerminkan muslim sejati,, masih terpatri dari trade marknya...
pertemuan yang tak terduga dan rasa kagum yang begitu terasa dari hatiku,, hanya tertuju padanya
ahh, pemuda yang dulu pernah terfitnah dan menderita karena ulahku, dan dia kini masih saja mau menerimaku, sebagai temanya, membalas teguranku,, dan masih saja dia tersenyum padaku,, padahal hatinya begitu tersakiti olehku.
bahrul ilmi yang dulu ku manfaatkan sebagai studyku,, profilnya yang begitu gemilang dimataku, pujian dan sanjungan takmembuatnya besar kepala,,
kepribadiannya yang kutukar dengan pengkhianatan,, ketika studi kasusku pada bahrul ilmi selesai,, aku pun tak menghiraukanya,, namun sebaliknya,, kusodorkan makalah itu pada kafir...
uh,, jahat bukan diriku |
|