"sudahlah andre, kamu tak perlu merasa risau , anggap saja semua hanya serba kebetulan, cuma bagian kecil hidupmu, yang tak perlu kau ambil pusing" sela wandy tegas,
" apa wan kamu bilang, ini hanya kebetulan, huh, tidak wan,ini bukan kebetulan atau hanya cerita biasa, ini adalah pertanda wan, pertanda", selaku, tak kalah tegas.
" oh, eh " wandy terlihat bingung melihat keseriusanku barusan.
ah, sudah lah wan, toh aku masih menganggap ini wajar, tentunya aku tak kan repot-repot untuk memikirkan apalagi sampai tak tenang dalam hidup, karena persoalan ini,"
wandy terdiam, wajahnya tampak pias, bingung akan kalimat yang aku ucapkan, perlahan kulihat kerutan dahi wandy, aku semakin nyaris sempurna untuk lelucon ini, gumamku.
" ayo, wan, kita ke tempat biasa kita duduk, " sembari kulangkahkan kakiku, ku gamit tangan wandy,.
" suasanyanya enak ndrey, tidak seperti biasanya, bila kita duduk di taman ini,"
" huh, kamu tuh ya wan, masih bisanya berpujangga, padahal kamu tuh terlihat benar kebingungan, pastinya kamu masih memikirkan ucapanku kan," buru ku pada semu merah wajah wandy,
" sapa bilang, aku hanya tak habis fikir, kenapa kamu bisa begitu"
"begitu bagaimana wan'" selaku
"ya, kamu masih bisa bernafas lega, setelah kau menolak aku,dan kau memutuskan untuk menganggap ini seperti biasa, apa kamu yakin akan keputusanmu, untuk terus berteman denganku ndrey"
kenapa musti aku ragu, toh selama ini aku sudah mengetahui, kamu gay, dan tentunya sudah sejak lama aku mengetahui kamu menyukaiku," kulihat rona wajah wandy semakin memerah saja,
" ah sudahlah wan, aku masih seperti dulu, jangan kau ambil pusing, kita masih teman baik, meski kini aku tahu kau mencintai aku, "
"oh, eh, iya ndrey, terima kasih."
ok, wan, selamat bertemu lagi, aku mau pulang dulu, mandi, bau neh badanku, ucapku, sembari ku kecup kening wandy mesra,
wandy hanya melongo, sebenta kemudian tersenyum, ah itukah yang di senangi sahabat terbaikku ini,...
|
|