aku tak mampu untuk menyimpan rasa kekecewaan di dalam hatiku, kutumpahkan semuanya pada tembok yang bisu, keras dan kasar, kutinju dengan penuh emosi, meski kepalan tangan kananku berdarah, aku puas,.. puas melimpahkan segala sesak di dalam dadaku, serasa membuncah bagai lahar panas, aku tetap tak stabil
hari ini kaupun sama dengan kemarin, lupa akan janjimu, bahkan dengan seenakmu kau tak menampakan penyesalan telah membohongiku, kau tak datang meski itu janjimu.
entah kebodohan apa yang ku perbuat, entah tingkah laku apa yang mesti aku tak menuruti ajakan janjimu, aku teramat naif,.. tak mengerti akan kepuraanmu, gahwa kau menipuku lagi
ah,.. barangkali aku hanya sebagai persinggahan sementaramu, sebagai batu loncatan rencanamu, bahwa aku pilihan terakhir dalam janjimu, kau pun memilih yang lain,.. aku tetap menunggumu,.. menunggu telpon ini berdering, harap cemas, dengan kepastian yang tak mungkin,..
telpon: " besok aku akan meng hubungi kamu, dimana kita bertemu dan jam berapa,. "
hari ini, aku menunggumu, aku lelah menunggu, kau tak datang, kau tak datang, meski satu jam, dua, tiga, empat,.. jam sudah aku menunggumu,.. kau tak datang
apa yang aku perbuat, tak ada, karena kau pun melarang aku berbuat sesuatu padamu,.. kau masih seenaknya saja dan bilang....
telpon: "kamu jangan kerumahku ya, nanti akan tiba ko saatnya untuk ku ajak kau kerumah"
barangkali hanya alasan dirimu untuk tak malu denganku, tak puas dengan semua yang ada pada diriku, atau barangkali kau telah berjanji pada pilihan hatimu, untuk mengijinkan seseorang yang pantas, yang boleh bertandang kerumahmu., ahhhhhhh..... |
|