sahabatku, best friend ku yang selama ini selalu bersamaku, selalu ada di setiap keinginanku dan kebutuhanku untuk sosialisasi, dan juga di setiap aku lelah dan letih..
yang selalu ada, yang selalu setia dan selalu membantuku di setiap keperluanku,
sobat, adakah lagi yang tertinggal dari diriku untukmu, yang ku berikan jiwa dan ragaku, yang kuberikan sebagian dari miliku untukmu, dan sebagian jiwaku untukmu, yang kau terima utuh sebagai tanda kesetia kawanan dan ke sopan santunan.
sahabat, selalu aku dan kau dahulukan dari diriku, yang selalu ku nomorsatukan adalah dirimu, yang selalu terfikirkan karena kita saling merantau, menuntut ilmu di negeri orang, adakah aku kurang dalam kesetiakawanan itu,
best friend, masihkah kau menghitung segala kebaikanku dan kebaikanmu, padahal kita saling menghargai untuk tidak mengungkit-ungkit diri kita terbaik, padahal kita sudah berkomitmen bahwa persahabatan ini murni karena lillahi taala, karena allah, dan hingga sekarang restu allah masih melekat pada kita,
temanku, adakah satu kalimat atau satu kata yang lancang kau dengar dari mulutku, yang hingga kini kau tak memahami dan memaafkannya, adakah kau menjerumuskan tujuan kita kelembah yang lebih rancu dan dalam, demi terporak porandanya hubungan persahabatan ini, dan kita tak bersama lagi akhirnya
sobat, adakah kita tak membahas bahwa kita telah terfitnah, adakah satu rahasia yang selama kita berteman dan bersahabat yang barangkali menggangu fikiranmu sehingga hubungan kita kacau balau, aku rasa tidak, karena semua kita bahas
adakah aku berkata bohong meski bohong itu akan membuatmu tersenyum, sekira hal itu terlarang, dan adakah aku berbicara jujur padahal hal itu sungguh menyakitkan hatimu, padahal aku mampu melakukannya,
mengapa, mengapa, mengapa aku tak melakukannya, karena rasa sayangku padamu, rasa kesetiakawananku padamu, dan rasa saling memiliki antara kita, yang jika aku hianati sama halnya menghianatiku juga,
semua aku lakukan, karena aku ingin berjuang bersamamu di negeri orang, melanjutkan study yang tertunda, menggapai cita-cita, yang akan kita bawa ke kampung halaman kita, karena itulah aku berkorban, karena itulah kita bersama, adakah kau akan memaafkanku,
karena satu kesalahan yang fatal, yang membuat kita semakin jauh, yang membuat kita terasa asing, meski kita tahu kita saling menyakiti,
maafkanlah, maafkanlah, karena aku tullus |
|