Harga: Rasa: Nilai: 7.89/10
Kali ini saya akan memberikan sedikit informasi mengenai makanan di Kota Bandung. Bagi banyak pihak mungkin informasi ini tidak begitu menarik, namun saya akan tetap menyajikannya bagi siapa pun yang mungkin menganggapnya berguna.
Beberapa waktu yang lalu, penulis bersama dua orang rekan mahasiswa melakukan santap malam di Pasar Simpang Dago. Warga Bandung mungkin sudah mengetahui bahwa lokasi tersebut di malam hari memiliki banyak pilihan kios makanan yang sudah tertata dengan lebih rapi dari sebelumnya di tenda-tenda dengan beragam warna yang menarik mata. Tidak berlebihan kiranya bila kami sebut “pujasera murah meriah pilihan kitaâ€. Tidak sedikit pula mahasiswa lain yang berburu jamuan makan malam di lokasi ini mengingat letaknya yang tidak terlampau jauh dari beberapa perguruan tinggi di Bandung seperti Unpad cab. Dipati Ukur, Unikom, ITB, ITHB, ITSB, dan lain sebagainya.
Malam itu kami berkesempatan mencicipi santapan yang relatif baru bagi kami yakni nasi bakar. Secara fundamental, santapan ini mirip nasi goreng putih yang dibungkus daun untuk kemudian ditempatkan di atas suatu lempeng logam yang ditaruh di atas kompor yang menyala sehingga lempengan logam tersebut menjadi panas dan dapat diasumsikan “membakar†nasi yang dibungkus daun tadi. (Ada pertanyaan? Tidak. Baik, kita lanjutkan..) Sebagai mahasiswa, pembaca sekalian pasti mafhum bila kami memilih menu yang paling murah dan jelas—dalam arti kami tidak mungkin mengambil resiko dengan memilih menu yang memiliki probabilitas cukup besar untuk memiliki rasa yang telalu unik bagi lidah kami yang standar-standar saja ini dan kondisi finansial yang pas-pasan jika tidak boleh disebut bagai telur di ujung tanduk. Dengan demikian, dikarenakan stok nasi bakar ayam jamur sedang kosong, masing-masing dari kami memesan 1 porsi nasi ayam bakar (nasi ayam yang dibakar, bukan nasi dengan ayam yang dibakar).
Secara pribadi, penulis memberikan nilai: lumayan, lah. Penilaian ini terutama didasarkan pada cita rasa makanan tersebut. Hidangan ini dilengkapi dengan beberapa potong timun, lembaran selada, tahu goreng, serta sambal. Teh tawar diberikan sebagai compliment. Anda dapat mengajukan proposal penambahan sambal dan minuman tadi tanpa charge tambahan. Lokasinya memang tidak memiliki banyak kelebihan. Untuk santap di tempat, hanya dapat diakomodir 3 orang dengan ukuran tubuh yang sedang-sedang saja. Sayangnya, pada waktu penulis berkunjung ke sana, sehubungan dengan masalah yang sedang dihadapi Rubbish van Java (Bandung, red.) akhir-akhir ini, tercium sedikit aroma irama.. Maaf, maksud kami, aroma sampah. Hal ini tentunya mengurangi kenikmatan kita. Sementar dari sisi penyajian, memperhatikan tempat di mana kios ini berada (Pasar Simpang Dago Malam, red.), penulis nilai cukup baik. Makanan tertata rapi dan dirias secara cukup menarik. Dengan budget di bawah Rp10.000,00 kita dapat mengisi perut dengan makanan yang cukup decent di sini. Pembaca yang memiliki perut berukuran queen atau king size dapat memesan sop buah sebagai pencuci mulut yang terletak di samping kios nasi bakar ini, sementara pembaca dengan perut king kong size dapat melanjutkan dengan memesan porsi ke-2 atau ronde ke-2 dengan mencoba kios lain yang berada di area yang sama. Pada dasarnya, hidangan ini cocok disantap ketika suasana hati sedang biasa-biasa saja.
Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater.. MERDEKA!!! |