Detik berjalan, menit berlalu. Aku pun terbangun dari tidur, tak ada yg dapat ku lakukan saat itu selain duduk terdiam tuk beberapa saat. Sepertinya darah di kedua kaki ini tak mengalir dengan sempurna hingga aku merasa kesemutan. Suara ramai di sekeliling ku lambat laun mengisi telinga ini, aku segera mengamati lingkungan di skitarku. loby ini terlihat lebih sepi dari sebelum aku tertidur, beberapa bangku tunggu tidak lagi di tempati. Aku berusaha bangkit dari tempat duduk ku tuk pindah ke bangku tunggu. Akupun langsung berdiri dan Oooh.. aku seperti merasa tak punya kaki, kram di skujur kaki ini membuat tubuhku limbung ke belakang dan menghempas dinding..
Marah, kesal dan lelah mulai berusaha kuasai diri, tapi akal sehat segera menahan teriak keras ku dan rasa malu yg menahan emosiku. Aku terdiam dan berusaha menengkan diri. Dalam kepasrahan, hati berkata “smoga smua ini lekas berlalu”.
Beberapa menit berlalu, aku mulai bisa menguasai diri. Tanpa buang waktu aku pun bergegas ke ruang sidang, berharap namaku segera disebut tuk siding. Setelah sampai di dalam aku segera mencari tempat duduk kosong, tak perlu waktu lama tuk menemukan nya karena ruang yg tadi di penuhi orang telah sedikit lebih lengang. Aku tak menyianyiakan kesempatan, segera ku hampiri bangku itu. Sesaat kemudian aku mulai merasa nyaman di bangku siding itu, walau hanya bangku panjang dan terbuat dari kayu tapi letak nya yg berada di dekat kipas angin mampu membuatku merasa santai.
Dengan seksama ku dengarkan suara dari speaker yg menyebutkan sederetan nama. Dalam penantian aku berfikir “jadi ini kah harga dari sebuah kejujuran? Kejujuran untuk tidak menyelesaikan masalah dengan instant. Ternyata tidak sebanding dengan waktu yg terbuang. Hari ini aku terpaksa batalkan beberapa janji dan menunda pekerjaan hanya utk sesuatu yg harus nya tidak perlu memakan waktu jika ku tak jujur. Tapi apa daya, semua telah terjadi. Percuma di sesali. Mungkin memang ini efek yg di harap pembuat peraturan utk pelanggar rambu lalu lintas seperti aku.”
Tepat pukul 17.00 WIB namaku di sebut di speaker dan aku pun berteriak lantang “HADIIIIIIIIIRRRRR…..!!!!!!” aku segera bergegas menuju meja hijau (disebut meja hijau karena mejanya gunakan taplak hijau atau karna taplak biru atau merah lebih mahal dari yg hijau yah??) Aku tak tau mana hakim atau jaksa, disitu telah duduk beberapa orang menggunakan pakaian biasa. Seorang di antara mereka menyebut nominal Rp .26.000. tiba-tiba aku merasa tumbuh beban 2kg di leher (baca gondok) padahal kalo aku mau berdamai dengan oknum yg menilangku paling hanya Rp. 20.000 dan tanpa proses tunggu selama ini. Segera aku mengeluarkan uang sejumlah itu dan mengambil SIM yg telah lama di tahan utk kemudian keluar dari ruang jahanan itu. |