Hot!

cara membuat latar belakang skripsi tesis penelitian kualitatif

Latar belakang merupakan bagian terpenting dalam memulai sebuah skripsi maupun tesis, kunci keberhasilan seseorang dalam menyelesaikan skripsinya dan kunci keberhasilan saat sidang proposal adalah terletak dalam kualitas penulisan latar belakang yang baik, sehingga mendorong penguji untuk menjadi tertarik terhadap penelitian skripsi maupun tesisnya, latar belakang yang kami bahas kali ini adalah latar belakang dengan jenis penelitian kualitatif, bagi sebagian kampus latar belakang ini disebut juga dengan konteks penelitian.

Ada beberapa kunci penting dalam membuat latar belakang yang baik :

  1. Penuturan yang runut, bisa berupa dari umum ke khusus, tetapi ada juga beberapa ahli yang menyarankan seperti pola pyramid, yaitu dari titik kecil kemudian melebar.

  2. Memuat fakta-fakta yang berhubungan dengan penelitiannya

  3. Fakta-fakta tersebut menguatkan judul penelitiannya

  4. Observasi awal atau penelitian terdahulu, bisa berupa aktivitas mengamati ataupun wawancara singkat dengan tujuan yang ingin diteliti, sehingga menjadikan latar belakang semakin kuat, karena bukan sekedar hipotesis belaka.

  5. Untuk Kampus yang berbasis Islam maka latar belakangnya lebih baik yang berintegrasi dengan islam, artinya mengaitkan kajian latar belakangnya dengan ayat Al-Qur'an dan Hadits sehingga latar belakang lebih berbobot nilainya.

Lebih rincinya, kita akan menganalisis sebuah latar belakang yang membahas tentang pembentukan karakter gemar membaca Al-Qur'an anak di Sekolah.Latar belakang penelitian ini bersifat kualitatif, sehingga data yang diterangkan lebih panjang dan terarah, berbeda dengan latar belakang penelitian kuantitatif yang bersifat lebih singkat tetapi menjelaskan dengan tepat dan lugas, karena dalam kuantitatif inti dari penelitiannya terletak di hasil penelitiannya. Berikut contoh latar belakang kualitatif :









cara membuat latar belakang skripsi tesis penelitian kualitatif
cara membuat latar belakang skripsi tesis penelitian kualitatif

1. Latar Belakang 
#1. Penuturan yang runut, bisa berupa teori-teori yang mengarah ke penelitian.
Pembentukan karakter kepada
setiap individu  merupakan fungsi dan
tujuan pendidikan nasional, seperti yang tertuang di dalam Undang-Undang
Republik Indonesia Pasal 3 nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
(UU Sisdiknas) yang menyebutkan bahwa, “Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Tujuan pendidikan
nasional itu merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus
dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Oleh karena itu, rumusan tujuan
pendidikan nasional menjadi dasar dalam pengembangan pendidikan budaya dan
karakter bangsa. [1]









Sementara kita memahami bahwa karakter bukanlah semata-mata talenta
bawaan individu, akan tetapi merupakan hasil bentukan manusia dan lingkungan
tempat ia tinggal, hidup, dan dibesarkan. Dan bagaimana cara membentuk karakter
tersebut, secara akademis tentu jawabannya hanya satu, yaitu “pendidikan”.
Pendidikan memungkinkan untuk membentuk karakter selaku manusia seperti yang
diharapkan. [2]
Aqib menjelaskan pendidikan karakter menanamkan nilai-nilai karakter kepada
siswa yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan
untuk melaksanakan nilai tersebut. Pendidikan karakter adalah pendidikan yang
menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai karakter bangsa pada diri peserta
didik, sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya,
menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, keluarga, maupun dalam
masyarakat, dan warga negara yang religious, produktif dan kreatif.


Atas dasar pemikiran itu,
pengembangan pendidikan karakter sangat strategis bagi keberlangsungan dan
keunggulan bangsa di masa mendatang. Pengembangan itu harus dilakukan melalui
perencanaan yang baik, pendekatan yang sesuai, dan metode belajar serta
pembelajaran yang efektif. Sesuai dengan sifat suatu nilai, pendidikan karakter
bangsa adalah usaha bersama sekolah; oleh karenanya harus dilakukan secara
bersama oleh semua guru dan pemimpin sekolah, melalui semua mata pelajaran, dan
menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya sekolah.[3]

Implementasi pendidikan karakter
di Indonesia hendaknya dilaksanakan secara menyeluruh yang meliputi konteks
makro dan mikro. Konteks makro lebih bersifat nasional dan melibatkan komponen
dan pemangku kepentingan secara nasional dan bertujuan jangka panjang.
Sedangkan konteks mikro berlangsung dalam satu satuan pendidikan secara
menyeluruh, atau dapat diartikan hanya difokuskan pada sekolah.[4]
Sekolah merupakan sektor utama yang secara optimal memanfaatkan dan
memperdayakan semua lingkungan belajar yang ada untuk manginisiasi,
memperbaiki, menguatkan, dan menyempurnakan secara terus menerus proses
pendidikan karakter disekolah. Adapun implementasi pendidikan karakter secara
mikro dapat dibagi dalam empat pilar, yakni belajar mengajar di kelas;
keseharian dalam pengembangan budaya sekolah; ko-kurikuler dan atau
ekstrakulikuler; serta keseharian di rumah dan masyarakat.[5]

#2 Mencantumkan ayat Al-Qur'an yang berhubungan dengan penelitiannya.
Karakter sebagai suatu yang
sifatnya khas dalam islam sendiri mengarah kepada Akhlakul karimah,
karakteristik ajaran akhlakul karimah dalam bidang kebudayan dan ilmu
pengetahuan dijelaskan oleh Allah SWT :


1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2.
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. 3. Bacalah, dan Tuhanmulah
yang Maha pemurah, 4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam  5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya.[6]

Pada ayat tersebut terdapat kata iqra diulang sebanyak dua kali. Kata
tersebut menurut A. Baiquni berarti membaca dalam arti biasa, menelaah,
mengobservasi, membandingkan, mengukur, mendeskripsikan, menganalisis, dan
menyimpulkan secara induktif. Hal itu merupakan cara yang dapat mengembangkan
ilmu pengetahuan dengan cara menggunakan akalnya untuk berpikir dan merenung.[7]

Mengingat betapa pentingnya
membaca Al-Quran pada saat ini, melihat dari kemerosotan akhlak anak sendiri,
berbagai ayat  menjelaskan betapa
pentingnya membaca Al-Quran karena merupakan petunjuk hidup seorang muslim. Al-Quran
yang menjadi pedoman dalam tatanan ilmu agama sudah seharusnya menjadi amalan
wajib bagi setiap umat manusia, melihat dari berbagai kasus bahwa Al-Quran
sekarang lebih sering ditinggalkan dan hanya menjadi pajangan di tempat buku
maupun dalam rumah, orang-orang lebih suka membaca berita maupun berbagai hal
yang ada di gadget mereka, sehingga Al-Quran pun mulai terlupakan.

Sudah seharusnya membaca Al-Quran
diterapkan sejak dini, sehingga anak pun lebih terkontrol dalam kehidupannya,
membaca dan menerapkan adalah suatu kewajiban bagi orang tua untuk anaknya,
sehingga anak bisa menjadi lebih baik. Sangat jarang sekolah-sekolah menerapkan
kewajiban membaca Al-Quran di sekolahnya terkecuali pada waktu-waktu tertentu,
seperti hanya di hari jumat. Terlebih lagi sekolah yang umum yang kewajiban membaca
Al-Quran sangat kurang sehingga anak didik pun jauh dari keinginan untuk selalu
membaca Al-Quran. tidak jarang hingga mencapai usia dewasa masih banyak orang
yang belum bisa membaca Al-Quran, padahal ini adalah sebuah kewajiban bagi
seorang yang beragama islam. 

 #3 Berisi Fakta-fakta yang relevan dengan penelitian, fakta bisa diambil dari berita

Fakta saat ini menyebutkan bahwa
berbagai penyebab kemerosotan akhlak adalah karena kelalaian orang tua dalam
mengasuh mereka, di tengah terus berkembangnya peradaban dunia, teknologi
informasi sudah masuk ke desa-desa. Bahkan, gadget pun sudah bukan barang yang
asing lagi. Ironisnya, orang tua semakin sibuk sehingga lupa mengajarkan anak
berbagai ilmu agama. Anak tidak bisa mengaji sangat mudah dijumpai pada era
sekarang ini. Orang tua lebih memilih menyenangkan anak dengan berbagai hal
yang berbau duniawi daripada akhirat. Pemerintah melakukan berbagai kegiatan
untuk mengurangi berbagai hal penyebab kemerosotan anak tersebut, dalam laman
Koransindo.com disebutkan bahwa Pemerintah Kota Medan meluncurkan satu program
Gerakan Masyarakat Maghrib atau disingkat Gemmar Mengaji di setiap masjid pada
lingkungan masing-masing. Program ini dimaksudkan untuk membudayakan membaca
Alquran setelah salat magrib di kalangan masyarakat. Mengaji yang dulu telah
menjadi budaya masyarakat Indonesia, terutama di masjid dan mushala akan
kembali dihidupkan lagi. Hal ini bukan tanpa sebab, sekarang ini ketika selepas
magrib, orang-orang lebih memilih berada di depan televisi daripada mengaji.[8]

Pemerintah Kabupaten Aceh Utara
pun melakukan hal yang sama, seperti dalam laman Kiblat.net Pemerintah
Kabupaten Aceh Utara beberapa hari terakhir menggalakkan program mengaji ba’da
Maghrib, khususnya untuk pelajar. Program ini sebagai bagian dari realisasi
pelaksanaan syariat Islam yang dituangkan dalam Peraturan Bupati.



Saat ini kami sangat serius menggalakkan program
mengaji ba’da Maghrib. Seluruh jajaran pimpinan kecamatan diharapkan dapat
bekerjasama melaksanakan program ini dan mengawasinya,” kata Bupati Aceh Utara,
Muhammad Thaib, saat menggelar sosialisasi penguatan pelaksanaan syariat Islam
di Aceh Utara, di Aula Setdakab, seperti dinukil dari koran lokal, Serambi
Nusantara, Jumat. Thaib menambahkan, pihaknya akan menempatkan 10 personel WH
di setiap kecamatan untuk mengawal pelaksanaan program ini. Selain masyarakat
umum, yang lebih utama sasaran program ini adalah para pelajar.

Supaya ke depan mereka tak lagi berkeliaran pada
malam hari, ujar Bupati Thaib.[9]



Program gerakan masyarakat maghrib
membaca Al-Qur’an di atas sudah berlangsung selama beberapa tahun hingga
sekarang, dan tersebar di seluruh kepulauan Indonesia, seperti penuturan wakil
Menteri agama dalam wawancara dalam laman Republika.co.id :



Saat ini, sudah banyak yang menjalankan program
gerakan masyarakat maghrib mengaji. Bahkan, sudah sampai ke pedalaman
Kalimantan. Ada juga di Sulawesi yang sudah terlebih dahulu mengembangkan.
Apalagi yang ada di Pulau Jawa. Rata-rata sudah menyebar, tetapi sporadis. Di
mana-mana ada, di setiap provinsi. Sampai ke Papua juga ada dan masih ada
programnya. Kementerian Agama selalu mengimbau soal program ini ke daerah.[10]



Beberapa program gemar mengaji
tersebut meskipun diprogramkan di seluruh pelosok nusantara, tetapi pada
kenyataanya berbalik, selama pengamatan peneliti yang tinggal di daerah
perbatasan batu dan malang, program tersebut sama sekali tidak ada, para
anak-anak maupun masyarakat setelah selesai maghrib selalu beraktifitas kembali
di rumahnya.[11]

#4 Observasi Awal peneliti dengan melakukan wawancara ataupun pengamatan

Dewasa ini, berbagai jenis
sekolah islam memberikan berbagai program yang mampu mengembangkan karakter
anak secara islami, salah satunya adalah sekolah dasar islam yang menerapkan
berbagai keunggulan program mereka dalam pembelajaran, salah satu program
tersebut adalah program membaca Al-Quran, dari program ini sehingga menarik
minat yang besar bagi para orang tua untuk memasukkan anaknya ke sekolah
tersebut. Seperti sekolah dasar islam (SDI) As-Salam yang terletak di kota
Malang, sekolah ini menerapkan wajib membaca Al-Quran dari hari senin hingga
kamis dengan program unggulan sekolah mereka yaitu program Tahfidzul Qur’an. Begitu
pula dengan MI Sunan Gunung Jati Sukun juga menerapkan program membaca Al-Quran
bagi siswanya, kedua sekolah ini sama-sama menggunakan metode ummi, metode ini
adalah metode yang berhasil membuat anak didik mampu membaca Al-Quran lebih
cepat dari metode yang lainnya, sehingga metode ini metode yang digunakan di
berbagai sekolah di Malang, berbagai hal yang diterapkan dalam pengembangan
anak di sekolah khususnya dalam membaca Al-Quran sangatlah bagus, mengingat
betapa pentingnya memberikan pendidikan Al-Quran kepada anak sejak dini,
sehingga tidak ada istilah seorang anak tidak mampu membaca Al-Quran setelah
dewasa nanti.

Peneliti melakukan observasi awal
untuk melihat bagaimana aktivitas membaca Al-Quran di sekolah, dari hasil
pengamatan peneliti, bahwa anak terlihat sangat antusias dalam mengikuti
pembelajaran membaca Al-Quran, karena anak dipisah-pisah berkelompok dalam
sebuah pembelajaran dan dikumpulkan di tempat-tempat tertentu, dan setelah
beberapa kali pembelajaran anak akan lanjut pada kenaikan jilid dan pada tahap
ini anak akan dites oleh guru yang mengkordinator masalah kenaikan bacaan ini,
saat itu terlihat anak pun tertib dalam menunggu antrian agar bisa ikut ujian
yang akan diikutinya, beberapa anak terlihat sangat lancar dalam membaca   Al-Quran. Rauf salah seorang siswa kelas III
di MI As-Salam yang pernah menjuarai tartil tingkat Jawa Timur mengatakan bahwa
dalam kesehariannya membaca Al-Quran dia tidak perlu disuruh lagi oleh orang
tua, dia membaca Al-Quran dari kesadaran dia sendiri. Melihat dari aktifitas
mengaji tersebut peneliti pun ingin mengetahui lebih dalam bagaimana
pembentukan karakter gemar membaca Al-Quran bagi anak.




[1] Kementerian Pendidikan Nasional Badan
Penelitian Dan Pengembangan Pusat Kurikulum, Bahan Pelatihan : Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan
Nilai-Nilai Budaya Untuk Mebentuk Daya Saing Dan Karakter Bangsa
. (Jakarta:
Pusat Kurikulum, 2010), hlm. 2



[2] Syukri Hamzah, Pendidikan Lingkungan: Sekelumit Wawasan
Pengantar,
(Bandung: Refika Aditama, 2013), hlm. 43



[3] Kementerian Pendidikan Nasional Badan
Penelitian Dan Pengembangan Pusat Kurikulum, Bahan Pelatihan : Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan
Nilai-Nilai Budaya Untuk Mebentuk Daya Saing Dan Karakter Bangsa
. (Jakarta:
Pusat Kurikulum, 2010), hlm. 4



[4] Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Persepektif Islam,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011) memahami hlm. 38-40



[5] Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Persepektif Islam. hlm
40-41



[6] Kementerian Agama RI. Mushaf Al-Qur’an.
Mikraj khazanah ilmu;Bandung. Hlm. 302



[7] Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Quran. (Pekanbaru;Amzah,2006).
Hlm. 117



[8] Jelia Amelida,
“Komitmen Program Gemmar Mengaji Harus Dimantapkan”,
http://www.koran-sindo.com/read/1017757/151/komitmen-program-gemmar-mengaji-harus-dimantapkan-1435463598.
Diakses pada 6 juli 2015



[9] Sulhi El-Izzi,
“Pemkab Aceh Utara Galakkan Program Mengaji Ba’da
Maghrib”, http://www.kiblat.net/2015/05/29/pemkab-aceh-utara-galakkan-program-mengaji-bada-maghrib/,
diakses pada 5 juli 2015



[10] Dialog Jumat,
http://www.republika.co.id/berita/koran/dialog-jumat/14/06/06/n6qgo72-prof-dr-nasaruddin-umar-mengembalikan-budaya-mengaji-umat-islam,
diakses pada 6 juli 2015



[11] Hasil observasi
peneliti dengan melakukan  pengamatan
secara tidak langsung di mesjid al-Falah Junrejo, mesjid Sabilil muttaqin
Junrejo dan mushola Areng-areng selama tinggal di Areng-areng Batu.


Ada beberapa hal yang harus digarisbawahi dari sebuah latar belakang di atas, yaitu setiap peragraf yang berisi teori maupun fakta dan hasil observasi harus mencantumkan footnote ataupun sumber dan catatan penelitiannya, mengapa harus mencantumkan footnote, karena dengan adanya footnote tersebut penelitian kita bisa dipertanggungjawabkan dan bukan hasil dari copas alias plagiat.


Latar belakang kadang menjadi penentu dalam keberhasilan peneliti dalam menarik hati dosen pembimbing dan penguji, sehingga kalau latar belakangnya bagus dan spesifik, maka dosen penguji dan dosen pembimbing pun akan memberikan tanda Acc sebagai tahapan untuk melanjutkan penelitian ke tahap selanjutnya.

semoga artikel tentang latar belakang skripsi tesis jenis penelitian kualitatif ini bisa memberikan masukan kepada anda yang lagi berjuang menyelesaikan skripsi dan tesisnya, semangat terus pantang menyerah, karena wisuda sudah di ujung jalan.

Salam.

2 komentar:

  1. […] contoh rumusan masalah skripsi tesis jenis penelitian kualitatif. Rumusan masalah terletak setelah Latar belakang masalah berikut contoh rumusan masalah penelitian kualitatif […]

    BalasHapus